Para Kampiun Adu Molek 1
Tom Tom maskoki terbesar di Indonesia sebagai yang terbaik

Tom Tom maskoki terbesar di Indonesia
sebagai yang terbaik

Beragam ikan, burung, mamalia, dan reptil beradu molek.

Tom Tom memang luar biasa besar. Panjang tubuh maskoki milik Hendrik Nursalim itu mencapai 34 cm. Sementara bobot tubuh maskoki berumur       2 tahun itu mencapai 2,5 kg. Panjang tubuh rata-rata maskoki dewasa hanya 28 cm dan bobot 1,5 kg. Pantas jika Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2013 menobatkan Tom Tom sebagai maskoki terbesar. Namun, bukan lantaran ukuran jumbo jika para juri kontes maskoki nasional menobatkannya sebagai grand champion.

Doraemon meraih 2 gelar di permainan khusus linsang

Doraemon meraih 2 gelar di permainan
khusus linsang

Menurut juri asal Jakarta, Kris S Widjaja, Tom Tom mempunyai segalanya untuk menjadi kampiun. “Proporsi tubuh seimbang dan berotot. Meski ukurannya jumbo gerakannya juga lincah,” tutur Kris. Itu kemenangan kedua bagi Tom Tom. Pada kontes sebelumnya di kontes Indonesia Goldfish Society 2012, maskoki jenis oranda itu juga menyabet gelar serupa.  Hendrik, pehobi asal Jakarta, mengatakan kolam besar berukuran 7 m x 4 m x 1,8 m dan pakan impor 3 kali sehari membuat Tom Tom tampil prima.

Waktu singkat

Bukan hanya Hendrik yang senang dengan prestasi ikannya itu. Senyum juga menghias wajah Halley WS setelah lou han koleksinya meraih grand champion dengan total nilai 3.826. Lou han jenis cinhua itu layak juara karena tubuh ideal, proporsional, dan lincah bergerak. Selain peserta dari Indonesia, ikan-ikan asal Singapura juga memeriahkan kontes yang diselenggarakan Persatuan Pecinta Lou han Indonesia (P2LI) pada 8 Desember 2013 itu. Total jenderal 85 ikan mengikuti kontes yang terbagi dalam 8 kelas.  Menurut Ketua P2LI, Elihento SE, hadirnya pehobi lou han dari negeri jiran membuktikan pamor ikan itu sedang menggeliat. “Juri dari Malaysia kagum dengan kualitas lou han Indonesia.  Juri itu kesulitan menilai peserta,” kata Elihento.  Bahkan penangkar lou han asal Malaysia mengakui keunggulan lou han Indonesia terutama pada jenis cencu, kemalau, dan golden base.

Kontes maskoki dan lou han turut menyemarakkan acara Indonesian Pets Plants Aquatic Expo (IPPAE) 2013 yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta komunitas pehobi satwa. Menurut Ketua IPPAE 2013, Herjanto Kosasih, acara sejak 1—8 Desember 2013 itu berlangsung sukses. “Kegiatan ini diikuti 17 komunitas pencinta satwa, pada 2012 hanya 13 komunitas yang terlibat,” kata Herjanto. Acara berlangsung di Whole Trade Center (WTC) Manggadua, di bagian utara Jakarta, itu bertujuan mempromosikan ikan hias, tanaman hias, tanaman hias air, hewan peliharaan Indonesia di pasar domestik dan internasional.

Baca juga:  Waspada Curah Hujan

Selain maskoki dan lou han, juga berlangsung kontes arwana yang diikuti 118 ikan. Penyelenggara kontes, Arowana Club Indonesia (ACI) menyediakan hadiah utama Rp10-juta. Sembilan juri menobatkan ikan naga milik Robin He dari Pontianak, Kalimantan Barat, sebagai grand champion. Ikan itu juara karena memenuhi unsur penilaian seperti bentuk tubuh dan kesehatan.

Di kategori diskus, klangenan milik Eko Kurniawan berhasil menjadi yang terbaik. Ia berhasil mengalahkan 5 ikan juara dari 5 kelas berbeda. Ikan cakram itu menjadi kampiun karena tampil atraktif. Kontes itu berlangsung meriah dan diikuti 60 ikan.  Persaingan tidak kalah seru juga terlihat pada kontes cupang. Setelah para juri menilai ikan selama 7 jam, halfmoon milik Frans Winner Kobama asal Jakarta berhasil meraih best of show. Penampilan ikan itu agresif dan berpostur ideal.

Acara yang juga menarik perhatian adalah lomba membuat aquascape. Panitia meminta peserta membuat aquascape dalam waktu 3 jam sehingga disebut juga kontes quick scape. Waktu normal pembuatan, 6 jam.  Para juri menobatkan aquascape milik Tinton Aryo Putro Yudhanto dari Semarang sebagai yang terindah. Sebab, “Penyusunan batu sangat apik sehingga terkesan alami,” kata Doddy, salah seorang juri.

Landak mini

Kontes mamalia juga menyemarakkan acara IPPAE. Pada kontes musang, Hanoman menjadi yang terbaik. Musang berumur 1,5 tahun itu sukses meraih grand champion setelah mengalahkan 5 pesaingnya. “Saya sangat senang dengan keberhasilan ini,” kata pemilik Hanoman, Reza Herlambang asal Jakarta. Itu gelar pertama Hanoman di kontes musang tingkat nasional. Menurut juri asal Yogyakarta, drh Slamet Rahardjo MPH, Hanoman memenuhi syarat menjadi juara.

Kriteria penilaian meliputi kesehatan, karakter, dan keunikan. Kontes yang berlangsung pada 1 Desember 2013 itu berlangsung meriah.  Menurut Ketua Djaringan Musang Lovers (Djamal), Rengga Prabualam, kontes itu bertujuan memperkenalkan musang sebagai hewan peliharaan.

Baca juga:  Susu Sapi Agar Mutu Melonjak

Di tengah lomba musang, Komunitas Otter Indonesia (KOI) mengadakan beberapa permainan. Menurut Admin Regional Jakarta KOI, Bayu Joe, pentas bertujuan sebagai sarana edukasi mengenal linsang sebagai hewan peliharaan. Pada acara itu, Doraemon, otter milik Ahim Ibrahim menyabet 2 gelar di adu cepat makan lele dan memasukkan linsang ke kandang. Bayu menargetkan 2—3 tahun mendatang terlaksana kontes linsang.

Di kategori tupai gula atau sugar glider, Vici milik Debby Tan menjadi grand champion. Menurut Debby tupai gula miliknya meraih nilai tertinggi karena jinak dan sehat. Pada hari dan tempat sama Hedgehog Lover Indonesia (HeLI-Landak Mini) menggelar kontes landak mini. Menurut panitia bagian hubungan masyarakat, Biondy Tirta, jumlah peserta tahun ini menurun.

“Terdapat 8 landak mini yang mengikuti kontes, lazimnya 10 sampai 16 ekor,” kata Biondy. Musababnya pecinta landak mini kebanyakan pelajar yang sedang sibuk menyiapkan diri menghadapi ujian sekolah. Pada kontes itu, Angelo, landak imut milik Tommy Ignatius Salim asal Jakarta menjadi kampiun di kategori best in show. “Hewan kesayangan saya juara karena sehat, bertubuh proporsional, dan jinak,” kata Tommy.

Burung

Di kategori burung, Khaesar milik Hendro S dan Neyo kepunyaan Fauzan Hermawan masing-masing berjaya di kontes lovebird dan parrot. Juri menobatkan Khaesar sebagai yang terbaik karena bentuk tubuh ideal dan proporsional. Sementara Neyo diganjar juara karena penampilan black headed chaque itu menghibur juri dan penonton. Burung berumur setahun itu pintar melakukan beragam atraksi seperti memasukkan koin ke celengan.

Kontes yang paling terakhir selesai yakni reptil. Lomba yang mempertandingkan 31 kelas itu berlangsung dua hari dan selesai pada 8 Desember 2013 pukul 20.00. Di pengujung acara para juri menobatkan biawak milik Iben dari Petamburan, Jakarta Barat, sebagai grand champion. “Hewan itu berhak menjadi yang terbaik karena tubuhnya ideal dan proporsional serta unik. Sebab bagian kepala dan leher berwarna putih,” kata juri asal Jakarta, Ais RX. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *