Tin umur 3—6 bulan panen 1—2 kg.

Tin umur 3—6 bulan panen 1—2 kg.

Budidaya tin sistem akuaponik, panen lele pada umur 2 bulan dan buah tin pada umur 3 bulan.

Seratus pohon tin beragam varietas seperti brown turkey, conadria, dan BTM-6 itu menghuni rumah tanam 7,2 m x 20 m. Petani tin di Desa Bumirejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, Yatmono, rutin memetik 1—2 kg buah Ficus carica setiap hari. Produksi masih sedikit karena jumlah tanaman memang sedikit, hanya sekitar 100 pohon. Selain itu kecepatan berbuah tin berbeda-beda tergantung varietas.

Selain itu Yatmono juga memanen 60 kg lele dari kolam di sisi rumah tin. Pria 35 tahun itu mengombinasikan teknologi menanam tin dan menebar lele sekaligus atau sohor dengan sebutan akuaponik. Ia membangun dua kolam lele berbahan terpal di sisi rumah tanam tin. Ukuran kolam pertama 1,8 m x 4 m dan kolam kedua 1,7 m x 3,5 m. Ia mengisi air hingga ketinggian 50 cm. Ia menghubungkan kedua kolam itu dengan pipa berkran.

Kualitas buah hasil budidaya akuaponik sama dengan konvensional.

Kualitas buah hasil budidaya akuaponik sama dengan konvensional.

Olah limbah lele
Di kolam pertama, Yatmono menebar 1.000 benih lele, sedangkan di kolam kedua hanya 100 benih lele—berukuran 8 cm. Yatmono memilih lele karena pertumbuhannya lebih bandel daripada ikan konsumsi lain seperti nila. Populasi ikan tinggi sehingga limbah di kolam juga lebih banyak. Kolam itu pun menjadi tempat fermentasi utama untuk mengurai kotoran lele atau sisa pakan.

Menurut Yatmono lele sebenarnya hanya usaha sampingan sehingga tidak menjadi prioritas utama. Namun, ia memanfaatkan limbahnya untuk memasok nutrisi tanaman tin. Tanpa pengolahan, tanaman tin tidak dapat memanfaatkan kotoran lele yang masih baru atau sisa pakan, bahkan dapat meracuni. Ia memberikan pakan pabrikan setiap hari. Volume pakan 300—500 gram per hari untuk kolam pertama dan 30—50 gram (kolam kedua) per hari.

Yatmono mengurai limbah –sisa pakan dan kotoran di kolam itu dengan bantuan bakteri dalam pupuk organic cair (POC) Mazegrow. Ia memberikan 1 botol atau setara 1 liter POC per kolam. Frekuensi pemberian 1—2 kali per pekan tergantung kepekatannya di air. Air dari kolam satu mengalir ke kolam dua lewat pipa ber kran. Air di kolam kedua telah kaya nutrisi dan siap diserap tanaman.

Dengan bantuan pompa, air dari kolam kedua mengalir ke tanaman dalam rumah plastik melewati jaringan pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 0,5 inci.

Yatmono (baju putih) dan Ahmad Pambudi, pelopori akuaponik tin.

Yatmono (baju putih) dan Ahmad Pambudi, pelopori akuaponik tin.

Lebih hemat
Dari pipa yang dilengkapi selang distribusi, nutrisi mengalir ke tanaman. Yatmono menyusun tanaman berdasarkan umur dan jenis tin. Kemudian ia memasangi pipa PVC di setiap lajur tanaman. Karena berbeda umur dan ukuran tanaman sehingga dosis nutrisi pun berbeda antarlajur. Tanaman tinggi mendapatkan air dan nutrisi lebih banyak, sedangkan tanaman kecil kebutuhannya lebih sedikit.

Baca juga:  Tiga Lapisan Kaya Faedah

Tanaman tin memperoleh jatah nutrisi dari air kolam setiap pagi hari. Yatmono mengikuti jejak Ahmad Pambudi yang lebih dahulu mengembangkan akuaponik tin. Pekebun tin di Kabupapten Temanggung, Jawa Tengah, itu menghasilkan buah tin berbiaya produksi rendah. Biaya produksi hanya Rp75.000 per bulan karena Pambudi memanfaatkan air kolam ikan untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

Air di kolam ikan sumber nutrisi tanaman tin.

Air di kolam ikan sumber nutrisi tanaman tin.

Bandingkan dengan biaya produksi pada umumnya yang mencapai Rp250.000 per bulan untuk merawat tin dengan jumlah yang sama. Ahmad Pambudi menerapkan teknologi akuaponik pada Oktober 2016. Sebelumnya ia menanam tin secara konvensional dalam rumah plastik berkonstruksi bambu berukuran 11 m x 11 m. Populasi dalam rumah tanam itu 100 tanaman berbagai varietas dan ukuran, seperti blue giant dan taiwan green fig.

Pambudi menyiram tanaman satu per satu setiap hari dan memupuk setiap pekan. Namun, cara budidaya itu melelahkan. Itulah sebabnya pengusaha elektronik mengubah cara budidaya dengan metode akuaponik. Sistem itu memadukan budidaya ikan dengan budidaya tanaman. Ia memanfaatkan air kolam ikan sebagai sumber nutrisi setelah melalui proses fermentasi.

Satu liter mazegrow per pekan olah limbah ikan siap dicerna oleh tanaman.

Satu liter mazegrow per pekan olah limbah ikan siap dicerna oleh tanaman.

Pambudi pun membangun beberapa kolam ikan berukuran 2 m x 1,5 m x 90 cm. Ia mengisi kolam itu dengan air setinggi 50 cm dan menebarkan 1.000 benih lele berukuran 7—8 cm. Sebenarnya sumber nutrisi tidak hanya dari air kolam. Yatmono dan Pambudi juga menggunakan media tanam yang subur. Mereka membuat media tanam berbahan campuran sekam fermentasi, daun kering, dan kotoran kambing.

Tumbuh pesat
Selain itu setiap dua pekan Pambudi menyemprotkan pupuk daun dan pupuk mikro secara rutin. Dengan budidaya akuaponik tanaman tumbuh subur. Di tempat Yatmono, misalnya, tinggi tanaman berumur tiga bulan mencapai 2,5—3 m. Pada umur 6 bulan, sebagian sudah lebih dari 4m. “Saya juga heran, kok bisa setinggi itu,” kata ayah dua anak itu. Menurut Ahmad Pambudi pertumbuhan tin di daerah panas lebih cepat karena tanaman menerima sinar matahari dari pagi sampai sore.

Baca juga:  Analisis Usaha Tin

Demak berketinggian 100 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan Temanggung 400 m dpl dan lebih lembap. Seratus tanaman berumur tiga bulan itu hampir semua berbuah. Setiap hari Yatmono panen 15—40 buah tin aneka varietas. Lele di kolam pun tumbuh baik. Dalam dua bulan Yatmono beberapa kali memanen ikan untuk konsumsi sendiri. Terakhir ia memanen 60kg yang kemudian dijual seharga Rp17.500 per kg ke pengepul.

Pertumbuhan tin bertambah 24 cm dalam 16 hari. (Foto: Sie Fuk An)

Pertumbuhan tin bertambah 24 cm dalam 16 hari. (Foto: Sie Fuk An)

Di Salatiga, Jawa Tengah, Sie Fuk An juga menerapkan sistem akuaponik. Dalam rumah plastik berukuran 10 m x 12 m, ia menanam 40 tanaman dewasa dan 200 bibit. Ia memanfaatkan kolam fiber untuk memfermentasi limbah ikan. Menurut Fuk perkembangan tanaman jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Varietas romano dero, misalnya, semula tinggi 20 cm, dalam 16 hari menjadi 40 cm, atau tumbuh dua kali lipat dari sebelumnya.

Sistem pemberian nutrisi di teknik akuaponik serupa dengan hidroponik.

Sistem pemberian nutrisi di teknik akuaponik serupa dengan hidroponik.

“Selain mendapatkan nutrisi dari air kolam, saya juga menyemprotkan beberapa zat perangsang tumbuh untuk melengkapi kebutuhan tanaman,” kata pria 42 tahun itu. Menurut Yatmono kelebihan sistem akuaponik dapat mengontrol nutrisi tanaman sehingga pehobi dapat mengatur waktu penambahan pupuk organik cair. Selain itu ia menghemat pupuk. Ia tinggal membeli pupuk daun dan pupuk mikro sebagai asupan tambahan dan pelengkap nutrisi.

Karena semua kebutuhan tanaman telah dipenuhi, tanaman tumbuh lebih cepat sehingga lebih cepat berbuah. Daun pun tidak kena karat. Pemberian nutrisi lebih praktis sehingga tidak perlu capai menyiram dan memupuk. Cukup dengan mengaktifkan pompa, air pun mengalir ke tanaman. Yatmono dapat mengatur pH air dan tanah dengan pemakaian pupuk pelengkap cair. Ia tinggal melihat kondisi air jika hendak memberi pupuk.

Ilustrasi Bahrudin

Ilustrasi Bahrudin

Bila warna air hijau, itu tanda cukup nutrisi. Kalau air agak bening itu tanda nutrisi kurang sehingga perlu segera menambahkan pupuk organik cair. Dengan sistem akuaponik, ia memangkas biaya produksi hingga 60%. Menurut Pambudi sistem akuaponik berpeluang untuk budidaya massal. Penyiraman tanaman hanya sekali sehari selama 5—10 menit, tergantung titik jenuh media. Ia pun menyemprotkan nutrisi ke daun tanaman.

Untuk memperkuat fisik tanaman, Pambudi memanfaatkan bahan baku empon-empon yang berperan sebagai jamu-jamuan. Menurut ahli akuaponik Ari Setiadi, ahli akuaponik di Bogor penerapan teknik akuaponik dapat mengurangi pemakaian pupuk pabrikan hingga 100%. Sebab, limbah dari lele baik kotoran dan sisa pakan dapat dimanfaatkan tanaman setelah diproses oleh mikrob. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d