Panen Selada di Gurun

Inovasi baru untuk menyulap padang pasir menjadi lokasi budidaya sayuran hidroponik.

Bahrain memproduksi aneka jenis sayuran dengan teknik hidroponik rakit apung.

Bahrain memproduksi aneka jenis sayuran dengan teknik hidroponik rakit apung.

Bahkan rumput pun tak mampu tumbuh di hamparan padang pasir itu. Padang pasir di Bahrain, kawasan Asia barat daya itu memang ekstrem, suhu udara pada musim dingin menukik tajam, hanya 6—8°C. Sebaliknya ketika musim panas, suhu membakar hingga 52°C dan kelembapan mencapai 99%. Padang pasir itu sangat tak ramah bagi pertumbuhan tanaman.

Kini di kawasan itu bak negeri dongeng. Hamparan tanaman selada tumbuh subur, hijau menyegarkan ada pula yang merah, dan berukuran seragam. Tanaman anggota famili Brassicaceae itu tumbuh di atas permukaan meja berwarna putih. Lebar meja itu sekitar 1,2 m. Di setiap meja tumbuh 10 baris tanaman. Selada-selada itu tumbuh sentosa di sebuah greenhouse atau rumah tanam berukuran 5.000 m².

Iklim mikro

Prinsip rakit apung pada perangkat talang bertingkat.

Prinsip rakit apung pada perangkat talang bertingkat.

Itulah panorama di Peninsula Farm, membudidayakan aneka jenis selada di dua rumah tanam berukuran sama. Commercial grower asal Indonesia yang menjadi konsultan di Peninsula Farm, Edi Sugiyanto, mampu mengatasi kondisi ekstrem di padang pasir. Ia menerapkan berbagai teknologi untuk menciptakan iklim mikro yang sesuai dengan syarat tumbuh sayuran.Kondisi greenhouse harus selalu sesuai dengan kebutuhan tanaman, baik suhu, sinar matahari, air, sirkulasi udara, kecepatan angin, dan kelembapan,” kata Edi. Ia memodifikasi konstruksi rumah tanam, yakni model multispan.

Model rumah tanam itu gabungan antara tipe tunnel atau lorong dan piggy back alias punggung babi. Atap rumah tanam itu berbentuk melengkung seperti pada tipe tunnel, tapi pada bagian tengah punggung atap tidak menyatu. Salah satu sisi lengkungan berada di atas sisi lengkung yang lain sehingga terbentuk ventilasi di bagian atap yang menjadi ciri khas tipe piggy back.

Peninsula Farm mendirikan bangunan rumah tanam di lahan 50.000 m² untuk memproduksi sayuran hidroponik.

Peninsula Farm mendirikan bangunan rumah tanam di lahan 50.000 m² untuk memproduksi sayuran hidroponik. (Foto-foto: Koleksi Edi Sugianto)

Para pekebun banyak mengadopsi model rumah tanam multispan karena memiliki ventilasi yang optimal. Uniknya di atas atap rumah tanam terdapat kerangka penopang naungan di atas atap untuk mencegah paparan sinar matahari yang terlalu tinggi saat musim panas. “Jika paparan sinar matahari terlalu tinggi, suhu udara di dalam greenhouse semakin panas sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman,” tutur Edi Sugiyanto.

Pada saat musim dingin bagian penutup atap terluar dibuka. Tujuannya agar tanaman tetap dapat memanfaatkan sinar matahari yang terbatas secara optimal untuk fotosintesis. Untuk mencegah udara yang terlalu panas di dalam rumah tanam, di bagian dinding rumah tanam terpasang kipas exhaus berukuran jumbo untuk menyedot udara panas di dalam rumah tanam dan membuangnya ke luar. Di bagian dinding juga terpasang cooling pad yang berfungsi mengalirkan udara dari luar masuk ke dalam greenhouse sehingga suhu rumah tanam turun.

Produk Peninsula Farm yang mengisi gerai-gerai pasar swalayan di Bahrain.

Produk Peninsula Farm yang mengisi gerai-gerai pasar swalayan di Bahrain.

Di bagian dalam rumah tanam juga terpasang ratusan kipas angin untuk memperlancar sirkulasi udara. Peninsula Farm membudidayakan aneka jenis sayuran seperti selada, tomat ceri, tomat beef, cabai, dan paprika secara hidroponik. Namun, teknologi hidroponik yang digunakan berbeda-beda tergantung komoditas sayuran. Contohnya selada. Edi membudidayakan sayuran daun itu dengan teknik hidroponik rakit apung.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x