Berkebun sayuran organik untuk bekal masa depan.

Kebun sayur-mayur yang dikelola oleh Waibi dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur.

Kebun sayur-mayur yang dikelola oleh Waibi dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur.

Inilah kegiatan Masri setiap pagi. Begitu pintu masuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, terbuka ia bergegas mengenakan topi dan sepatu bot. Sambil membawa cangkul dan tangki air, ia berjalan menuju kebun mungil di sisi kanan bangunan Lapas. Di sanalah Masri dan 7 rekannya sesama warga binaan menjalani aktivitas berkebun sejak 2015. Mereka menanam sayuran seperti sawi, kangkung, cabai, dan okra.

Masri dan rekan berkebun sejak pagi hingga sore. Aktivitas itu merupakan program narapidana berkebun yang digagas Yayasan Inisiatif Indonesia Biru Lestari (Waibi)—yayasan nonprofit yang bergerak di bidang lingkungan, isu global, dan permasalahan sosialisasi. Kepala bidang bimbingan kerja Lapas Kelas I Cipinang, Heriyanto Syafrie AMD. IP SSos MSi menuturkan warga binaan yang berkesempatan mengikuti kegiatan napi berkebun harus melalui seleksi. “Hanya warga binaan yang lolos seleksi yang berhak mengikuti kegiatan bercocok tanam itu,” ujarnya.

Bikin sendiri

Lusi Ismail, direktur program pelatihan Waibi—berjas hitam-bersama tim dan I Wayan Dusak, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM—berbatik merah, serta Tuty Nurhayati, Kasubdit Ditjen PAS—nomor 3 dari kanan.

Lusi Ismail, direktur program pelatihan Waibi—berjas hitam-bersama tim dan I Wayan Dusak, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM—berbatik merah, serta Tuty Nurhayati, Kasubdit Ditjen PAS—nomor 3 dari kanan.

Lokasi budidaya sayurmayur itu semula lahan kosong bekas buangan puing-puing bangunan. Posisinya di sebelah kanan gedung Lapas Cipinang dan berhadapan langsung dengan jalan raya. Dari jalan raya, kebun seluas 120 m x 10 m itu tak tampak karena terhalang pagar dan pepohonan. Mereka mengolah tanah yang dahulu gersang itu menjadi kebun sayur-mayur nan hijau. Masri menuturkan setiap anggota memiliki tugas berbeda. Masri, misalnya, bertugas memanen sayuran dan merawat cabai. Sementara Arifin, rekannya, bertanggung jawab merawat sawi, kangkung, dan bayam.

Baca juga:  Daun Waru Antibakteri

Seluruh tanaman tertata rapi dalam bedengan berukuran 1 m x 6 m. Yang menarik, mereka membudidayakan tanaman tanpa menggunakan pupuk maupun pestisida kimia. “Kami ingin mengajarkan warga binaan berkebun secara organik agar sayuran yang dipanen lebih sehat dan bebas bahan kimia,” ujar Direktur program pelatihan Waibi, Lusi Ismail. Sumber nutrisi hanya berasal dari pupuk hayati bikinan sendiri. Mereka mengumpulkan sampah dapur, lalu mengolahnya menjadi pupuk cair. Sementara untuk mengatasi serangan hama dan penyakit, mereka meracik pestisida nabati.

Bahan pestisida alami itu terdiri atas bawang putih, sambiloto, dan tembakau. Cara membuatnya sangat gampang. Mereka cukup menghaluskan semua bahan, mencampurnya dengan air, lalu memerasnya. Sebelum penyemprotan, Masri dan rekan mengencerkan dahulu pestisida nabati itu. Satu gelas pestisida nabati dilarutkan dalam 20 liter air. Air perasan itulah yang disempotkan setiap pekan ke tanaman. Mereka juga menanam kemangi dan serai wangi di pinggir kebun sebagai tanaman penolak hama.

Terapi berkebun mampu membentuk kepribadian dan kemandirian warga binaan.

Terapi berkebun mampu membentuk kepribadian dan kemandirian warga binaan.

Dari kebun itu mereka memanen setidaknya 12 kg sayuran setiap hari. Pada akhir 2016 mereka memanen 20 kg okra dan 30 kg kangkung. Hasil panen hanya dijual untuk kalangan terbatas dengan harga Rp10.000 per kilogram. Setiap kali panen sayuran organik itu selalu ludes. Hasil panen dari kebun mungil itu kini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Masri dan rekan.

Prestasi
Lusi menuturkan berkebun merupakan sarana pembentukan kepribadian dan pembekalan kemandirian bagi warga binaan. Aktivitas positif itu juga salah satu bentuk terapi penyembuhan, sekaligus persiapan bagi warga binaan untuk kembali ke kehidupan bermasyarakat. Lewat program napi berkebun itu warga binaan bisa menyerap beragam ilmu bercocok tanam. Mereka juga memperoleh informasi bahwa berkebun tak melulu harus dilakukan di lahan yang luas. Lahan sempit di sekitar tempat tinggal pun bisa dimanfaatkan. “Kami berharap warga binaan melanjutkan kegiatan berkebun sebagai sumber pendapatan keluarga,” ujar Lusi.

Baca juga:  Juri Terpikat Sosok Mini

Ketekunan warga binaan Lapas Cipinang I itu memperoleh penghargaan yang membanggakan. Pada acara festival napi berkebun 2015 yang diikuti 20 kelompok warga binaan dari seluruh Lapas di Indonesia itu mereka tampil sebagai juara pertama. Lusi Ismail menuturkan, kemenangan itu bukti bahwa warga binaan pun mampu berprestasi. Hal itu berbanding terbalik dengan pandangan masyarakat awam terhadap citra penghuni Lapas selama ini.

Heriyanto Syafrie AMd. IP SSos MSi, kepala bidang bimbingan kerja Lapas kelas 1 Cipinang—berdiri dan berkaus hitam—bersama warga binaan yang tergabung dalam program napi berkebun.

Heriyanto Syafrie AMd. IP SSos MSi, kepala bidang bimbingan kerja Lapas kelas 1 Cipinang—berdiri dan berkaus hitam—bersama warga binaan yang tergabung dalam program napi berkebun.

Menurut Nuraeni Muhdi, anggota tim psikologi Waibi, terapi berkebun yang digalang oleh Waibi merupakan terobosan pertama di Indonesia. Kegiatan yang melibatkan pembinaan fisik dan jiwa secara bersamaan itu sangat berguna bagi warga binaan. “Mereka yang mengikuti kegiatan berkebun memiliki tingkat agresi yang rendah,” ujar Nuraeni. Agresi adalah variabel utama yang memicu perilaku agresif dan antisosial.

Warga binaan menemukan kegiatan produktif dan sarana penghilang penat dengan aktif bergerak dan berinteraksi dengan tanaman. “Terkena cahaya matahari dan berkeringat pun menjadi cara ampuh untuk menyehatkan tubuh dan perasaan,” ujar Nuraeni. Kegiatan berkebun juga menjadi bekal bagi warga binaan untuk menghadapi babak baru kehidupan. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d