Daging buah tomat beef bertekstur keras dan renyah.

Daging buah tomat beef bertekstur keras dan renyah.

Perawatan intensif menghasilkan tomat beef hingga 8 kilogram per tanaman.

Sekilas tidak ada yang istimewa di greenhouse seluas 5.000 m² itu. Begitu pintu greenhouse bertipe punggung babi alias piggy back itu terbuka, terlihat jejeran tanaman tomat berbaris rapi. Tanaman menjulur ke atas dan sedang berbuah lebat. Buah yang bergelantungan di setiap ruas itu tampak bernas. Dari sebuah ruas hanya terdapat 2—3 buah tomat. Menariknya, ukuran buah hampir seragam, 150—300 gram per buah.

Dari sebuah tanaman Solanum lycopersicum berumur 4 bulan itu terdapat sekitar 30 buah. Pekebun di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Erning Mukti Wibowo, memanen tanaman keluarga Solanaceae itu ketika semburat jingga telah muncul. Atau tingkat kematangan 60%. Buah berwarna semburat jingga lama-kelamaan menjadi matang sempurna dengan berwarna merah di sekujur kulit buah.

Hidroponik

Erning Mukti Wibowo beserta istri, pekebun tomat di Bogor, Jawa Barat.

Erning Mukti Wibowo beserta istri, pekebun tomat di Bogor, Jawa Barat.

Daging buah bertekstur keras dan renyah dengan rasa yang manis sedikit masam. Teksturnya yang keras menyebabkan tomat beef tahan lama. “Bisa tahan hingga dua pekan,” kata Ari, putra Erning Mukti pengelola kebun. Loki—sapaan Erning Mukti Wibowo—membudidayakan tomat beef secara hidroponik. Pria yang berprofesi sebagai arsitek itu membudidayakan tomat beef sejak 2014.

Selain tomat, ia juga menanam paprika dan berbagai tanaman hias. Total luasan kebun mencapai 4 hektare. “Keseluruhan penanaman dilakukan di dalam greenhouse,” ujarnya. Ari rutin memanen tomat setiap hari. Dalam sepekan ia mampu memanen sekitar satu ton tomat beef. Panen tomat secara kontinu itu lantaran Ari mengatur pola tanam. Total terdapat 15.000 tanaman dengan masa tanam berbeda. Dengan begitu panen bisa berkesinambungan.

Baca juga:  Asa Hidup di Luar Rumah

Sebagian besar hasil panen untuk memasok ke pasar modern. Pasar menghendaki tomat bermutu tinggi. Syaratnya, bobot seragam 200—300 gram, sehat, dan tingkat kematangan 60—70%. Loki menerima harga Rp13.000—20.000 per kilogram. Sementara tomat yang tidak lolos sortir ia jual ke pasar lokal. “Harga jualnya mengikuti harga jual di pasaran,” kata Ari.

Saat ini misalnya, ia menjual tomat apkir itu Rp7.000 per kilogram. Dengan harga jual Rp13.000—20.000 per kilogram omzet Loki minimal Rp50-juta per bulan. Sementara biaya produksi tomat beef mencapai Rp5.000 per kilogram. Harga jual itu pantas untuk tomat beef berkualitas tinggi produksi Loki. Selain bermutu tinggi, produktivitas tomat beef Loki juga juara. Ari mampu memanen 7—8 kilogram tomat beef per tanaman.

Pekerja menyeleksi buah dengan menyisakan 2—3 buah per ruas.

Pekerja menyeleksi buah dengan menyisakan 2—3 buah per ruas.

Pada umumnya produktivitas tomat di dataran tinggi 3—4 kilogram per tanaman. Sementara produktivitas di dataran rendah hanya 2—3 kilogram. Kebun bernama Kirei Farm itu berlokasi di Megamendung berketinggian 970 meter di atas permukaan laut atau tergolong dataran tinggi. Mengebunkan sayuran di dataran tinggi memang lebih menguntungkan. Menurut ahli hidroponik di Jakarta, Ir. Yos Sutiyoso, suhu di dataran rendah sering kali terlalu tinggi.

Itu menyebabkan proses katabolisme (perombakan) lebih besar daripada anabolisme (pembangunan). Akibatnya pertumbuhan terhambat dan produksi tidak maksimal. Sebaliknya, dataran tinggi yang bersuhu lebih rendah dapat mengoptimalkan produksi. Menurut dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Anas Dinurrohman Susila, M.Si., produktivitas tomat yang dibudidayakan di dalam greenhouse rata-rata 4 kilogram.

Baca juga:  Dari Thailand Tembus Pasar Eropa

Budidaya intensif

Penanaman tomat beef di dalam greenhouse dengan sistem irigasi tetes.

Penanaman tomat beef di dalam greenhouse dengan sistem irigasi tetes.

Menurut Anas, “Untuk menghasilkan produktivitas yang lebih daripada itu memerlukan perawatan intensif,” jelasnya. Loki membudidayakan tomat beef secara intensif. Di dalam rumahtanam itu ia menanam tomat dengan memanfaatkan polibag sebagai wadah tanam. Media tanam di polibag berdiameter 25 cm itu serbuk sabut kelapa. Loki mengolah sendiri serbuk sabut kelapa itu.

Ia mengatur jarak antarpolibag sekitar 30 cm. Bibit siap pindah tanam saat berumur satu bulan pascasemai. Pria berusia 72 tahun itu menempatkan tomat berumur sama dalam satu blok. Penataan itu memudahkan dalam pengaturan panen. Sebagai sumber nutrisi ia memberikan pupuk lengkap makro dan mikro. Pupuk hasil racikan sendiri itu diberikan secara otomatis melalui irigasi tetes.

Frekuensi penyiraman nutrisi tergantung cuaca. Pada musim hujan misalnya penyiraman cukup sekali selama 10 menit. Pemberian nutrisi lebih banyak saat musim panas. “Penyiraman bisa sampai 6—7 kali,” ujar Ari. Dalam satu hari setiap tanaman menghabiskan hingga dua liter nutrisi pada musim panas. Ari memperhatikan betul kebutuhan nutrisi setiap tanaman.

Pekerja menyortir tomat.

Pekerja menyortir tomat.

Jika kondisi buah retak, misalnya, ia menambahkan kalsium dan mengurangi magnesium. Agar pertumbuhan tomat optimal, Ari merambatkan tomat menggunakan tali. Pada umur 10—12 pekan tomat mulai berbuah. Untuk menghasilkan buah yang seragam, Ari menyeleksi saat buah berukuran bola pingpong. “Dari sebuah ruas hanya disisakan 2—3 buah saja,” ujarnya. Buah dipilih yang terbaik.

Buah yang terlalu banyak akan saling berimpit dan berkompetisi dalam nutrisi. Akibatnya ukuran buah mengecil. Budidaya tomat di dalam greenhouse mengurangi intensitas serangan hama dan penyakit. Hanya serangga kecil yang mampu terbang tinggi dan masuk ke dalam greenhouse. Untuk meminimalkan serangan hama dan penyakit ia mengontrol tanaman setiap pekan. Bila tingkat serangan tinggi ia mengeradikasi. (Desi Sayyidati Rahimah)

Baca juga:  Tiga Tahap Besarkan Sidat

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d