Lele

Lele

Teknologi yumina memadukan budidaya lele dengan sistem bioflok dan budidaya sayuran.

Empat kolam berbentuk tabung berdiameter 3 m dan tinggi 1 m tampak unik. Kolam itu terbuat dari terpal yang ditopang kerangka besi. Kolam bervolume 6 m³ itu dihuni 2.500 lele siap panen, yakni sekilogram isi 8—9 ekor. Artinya, tingkat kepadatan kolam mencapai 416 ekor/m. Padahal, lazimnya tingkat kepadatan lele maksimal 100 ekor/m³. “Yang lebih menarik lagi sejak tebar benih hingga siap panen air tidak diganti,” ujar Mujadid Anshari.

Mujadid Anshari salah satu dari ratusan pengunjung Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang tertarik pada teknologi itu. Lele memang dapat hidup meski kualitas air buruk. Namun, peternak lele acap mengeluhkan air bau bila tidak diganti. “Tapi air kolam itu tidak bau,” kata pengunjung asal Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, itu.

Hemat pakan
Hal lain yang menarik perhatian pengunjung adalah deretan pot tanaman tomat dan cabai yang sedang berbuah. Sayuran dalam pot itu tertata di permukaan rak yang mengelilingi stan milik Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Menurut penanggung jawab stan, Mohammad Aji Urohim, teknologi budidaya lele sayuran itu lazim disebut yumina.

Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya menyajikan kombinasi teknologi budidaya lele sistem bioflok dan yumina atau akuaponik.

Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya menyajikan kombinasi teknologi budidaya lele sistem bioflok dan yumina atau akuaponik.

Pada intinya yumina adalah teknologi yang menggabungkan budidaya ikan dengan sayuran. Pada acara Gelar Teknologi itu Aji membudidayakan lele dengan sistem bioflok. Dalam teknik budidaya itu Aji menambahkan probiotik yang mengandung beberapa jenis bakteri, seperti Lactobacillus sp. Aji memberikan prebiotik sejak sebelum tebar benih. Sebelum diberi prebiotik, Aji mencampurkan 500 ml larutan molase atau tetes tebu ke dalam kolam berkapasitas 6 m³.

Baca juga:  Berbagi Cinta Demi Felis

Setelah itu ia membiarkan air selama 1—2 hari untuk menstabilkan komposisi kimia. Aji memberi 16 ml larutan probiotik ke dalam kolam. Aji baru memasukkan benih lele sekitar 10 hari setelah pemberian molase. Menurutnya dengan teknik bioflok jumlah benih saat tebar bisa mencapai 500—1.000 ekor per m³. Ia kembali memberikan larutan prebiotik sepekan pascatebar benih berdosis sama.

Wadah tanam sayuran berupa ember plastik yang dimodifikasi.

Wadah tanam sayuran berupa ember plastik yang dimodifikasi.

Pemberian prebiotik berikutnya setiap lima hari. Pada hari ke-24 setelah tebar, interval pemberian menjadi setiap 4 hari. Menurut Drs. Nur Bambang Prioutomo M.Si., dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, pada teknologi bioflok bakteri pengurai seperti Lactobacillus sp. mendaur ulang amonia dan nitrit pada kotoran serta sisa pakan.

Setelah syarat tumbuh bakteri terpenuhi, bakteri itu mengundang mikroorganisme lain seperti alga dan fitoplankton membentuk gumpalan yang disebut flok. Alga dan fitoplankton merupakan pakan alami lele. Dengan adanya tambahan pakan alami itu para peternak dapat menghemat pakan. Menurut Aji setelah menerapkan teknik bioflok, rasio konversi pakan (FCR) menjadi hanya 1.

Artinya, untuk menghasilkan 1 kg lele membutuhkan 1 kg pakan. “Nilai FCR itu lebih rendah daripada budidaya konvensional yang mencapai 1,2,” tutur pria yang juga peternak lele di Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu. Beberapa peternak lele bahkan bisa mencapai nilai FCR 0,7, seperti dialami peternak di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Eko Suwirno (baca Irit Pakan Hingga 30%, Trubus edisi Juli 2013).

Laba tinggi

Budidaya lele sistem bioflok menghemat pakan 30%.

Budidaya lele sistem bioflok menghemat pakan 30%.

Aji menuturkan, dengan adanya tambahan pakan alami berupa flok, peternak memungkinkan untuk membudidayakan lele dengan tingkat kepadatan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya, dalam sistem bioflok padat tebar benih bisa mencapai 500—1.000 ekor per m³, konvensional maksimal 100 ekor per m³.

Baca juga:  7 Cara Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok Sampai Panen Melimpah

Namun, budidaya dengan tingkat kepadatan tinggi akan berhasil jika oksigen yang terlarut dalam air cukup. “Bakteri bioflok juga membutuhkan oksigen yang cukup untuk pertumbuhannya,” tutur Bambang. Oleh sebab itu, pada budidaya lele dengan sistem bioflok perlu pompa aerasi. Untuk kolam tabung berdiameter 3 m sedalam 1 m memerlukan sebuah pompa aerasi berdaya 25 watt.

Aneka jenis sayuran tumbuh optimal meski hanya mendapatkan nutrisi dari air kolam lele yang dibudidayakan dengan sistem bioflok.

Aneka jenis sayuran tumbuh optimal meski hanya mendapatkan nutrisi dari air kolam lele yang dibudidayakan dengan sistem bioflok.

Fungsi lain pompa mengaduk air agar pakan tambahan untuk bioflok tercampur merata. Karena lele dibudidayakan dengan kepadatan tinggi, maka produktivitas panen pun semakin meningkat. Berdasarkan hasil perhitungan Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya, jika saat panen ukuran lele sekilogram isi 8—9 ekor, maka produktivitas panen dari kolam berkapasitas 6 m³ mencapai 40—80 kg/m³.

Produksi itu jauh lebih tinggi ketimbang hasil budidaya konvensional yang hanya 10 kg/m³. Jumlah pakan yang lebih hemat dan produktivitas panen yang meningkat membuat biaya produksi lele dengan sistem bioflok menjadi lebih efisien. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya menghitung harga pokok produksi (HPP) lele dengan sistem bioflok hanya Rp14.100 per kg.

Budidaya dengan sistem bioflok dapat meningkatkan produktivitas lele

Budidaya dengan sistem bioflok dapat meningkatkan produktivitas lele

Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan HPP lele konvensional yang mencapai Rp14.519 per kg. Oleh sebab itu, keuntungan yang diperoleh peternak juga lebih tinggi, yakni Rp1.900 per kg, sedangkan teknik konvensional hanya memberi laba Rp1.481 per kg. Aji juga memanfaatkan air dalam kolam sebagai sumber nutrisi bagi sayuran. Ia menyedot air kolam menggunakan pompa ke tandon berupa drum plastik berkapasitas 200 liter yang dibagi dua.

Baca juga:  6 Tips Sukses Budidaya Ikan Lele Bagi Pemula dengan Teknik Mudah

Posisi tandon lebih tinggi daripada deretan tanaman. Dari tandon itu air kolam mengalir ke masing-masing wadah tanaman melalui pipa secara gravitasi. Air yang berlebih keluar dari dasar polibag dan ditampung ember yang menjadi wadah polibag. Bagian bawah ember berlubang dan terpasangi pipa. Air kolam yang berlebih akan keluar dari ember melalui pipa dan mengalir kembali ke dalam kolam. Begitu seterusnya.

Mohammad Aji Urohim, kombinasi sistem bioflok dan akuaponik dapat meningkatkan pendapatan petani  baik dari hasil penjualan lele dan sayuran.

Mohammad Aji Urohim, kombinasi sistem bioflok dan akuaponik dapat meningkatkan pendapatan petani baik dari hasil penjualan lele dan sayuran.

Menurut Bambang, penerapan teknologi bioflok pada akuaponik sangat menarik karena seakan membenturkan dua prinsip kerja yang berlawanan. Akuaponik memanfaatkan kotoran sebagai sumber nutrisi tanaman, sedangkan bioflok berusaha mengolah kotoran dengan bantuan mikroorganisme menjadi pakan ikan. Akibatnya, berpotensi terjadi kompetisi nutrisi nitrogen antara tanaman dengan ikan.

“Dalam kotoran ikan terkandung nitrit, nitrat, dan amonia. Kalau nitrit dan nitrat sudah terpakai untuk proses bioflok, tanaman tidak akan kebagian nutrisi. Begitu juga sebaliknya jika kedua senyawa itu terserap tanaman, bioflok tidak terbentuk sempurna,” ujar Bambang. Namun, berdasar penelitian ia mendapatkan kepadatan tebar yang tepat untuk mempertahankan keseimbangan komposisi serapan bioflok dan tanaman yang pas, yaitu pada kisaran 500—900 ekor per m³. Dengan tingkat kepadatan itu ikan dan sayuran tetap tumbuh optimal. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d