Pages from Edisi April 2018 Highrest 98-2
Panen kopi hingga 3,6 kg per pohon, lazimnya 1 kg per pohon.

Jauri tak tanggung-tanggung mempertahankan 60 cabang produksi pada sebuah pohon kopi. “Idealnya hanya 27 cabang agar produksi maksimal,” kata Winarno, penyuluh pertanian di Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Artinya jumlah cabang produksi di kebun kopi Jauri 3 kali lipat lebih banyak dibanding dengan cabang di lahan milik pekebun lain. Itulah strategi Jauri memetik produksi fantastis, setara 4,8 ton kopi segar per hektare.

Populasi kopi di lahan Jauri seluas 3.000 m2 mencapai 400 pohon sama dengan jumlah tanaman di lahan milik petani lain. Umur pohon anggota famili Rubiaceae itu saat ini mencapai 30 tahun. Menurut penyuluh di Dampit, Kabupaten Malang, Jajang Slamet Soemantri, konversi produktivitas per hektare dengan cara Jauri mencapai 4,8 ton. Jajang menghitung jumlah cabang tanaman kopi Jauri rata-rata ada 60 cabang.

Penaung kopi

Koleksi Javan Wildlife Instute Jauri (ketiga dari kiri) bersama para petugas penyuluh pertanian.

Koleksi Javan Wildlife Instute
Jauri (ketiga dari kiri) bersama para petugas penyuluh pertanian.

Setiap cabang kopi di kebun Jauri terdiri atas 4—18 dompol. Jumlah buah per dompol mencapai 15—20 buah. Itulah sebabnya Jauri memetik 9.000 buah per batang. Satu kg oce atau kopi beras, yakni kopi yang sudah dibuang kulit tanduk dan kulit ari terdiri atas 2.500 buah. Dari lahan berpopulasi 400 tanaman itu Jauri memetik 1,44 ton greenbean atau oce. Produksi oce di lahan Jauri mencapai 3,6 kg per pohon. Produksi kopi di lahan lain rata-rata hanya 1,5 ton segar per hektare atau rata-rata 1,5—2 kg per pohon.

“Di Sumber Manjing Wetan, produksi 1,5 ton per hektar sudah bagus. Jauri bisa tiga kali lipat hasilnya,” ujar Bambang Susilo Hadi, Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THLTBPP) wilayah Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang. Menurut Kusnan THLTBPP wilayah Sumberasih, produksi kopi di lahan pekebun lain rata-rata 0,8—1 ton per hektare. “Susah untuk mencapai produksi Jauri karena banyak naungan yang menutupi pohon kopi sehingga sinar matahari tidak maksimal,” ujar Kusnan.

Baca juga:  Belajar Tanam Kangkung Hidroponik

Jajang Slamet Soemantri juga semula tidak percaya “Saya sempat tidak percaya. Namun, setelah melihatnya langsung, saya hanya bisa memaklumi,” ujar Jajang Slamet Soemantri yang menghitung sendiri produksi setiap cabang produktif. “Tekniknya dengan mempertahankan banyak cabang, sehingga produksinya di atas rata-rata,” ujar Jajang.

Jauri mempertahankan cabang  produksi selama masih menghasilkan kopi.

Jauri mempertahankan cabang
produksi selama masih menghasilkan kopi.

Menurut Winarno cabang yang sudah berproduksi pada tahun ketiga, idealnya harus dipangkas. Cabang itu lazimnya sudah tidak produktif lagi sehingga membebani kebutuhan nutrisi tanaman kopi dan membuat tajuk tidak elok dipandang. Namun, Jauri membiarkan cabang itu, bahkan hingga tahun kelima. Bagi pekebun kopi sejak 1986 itu, jika masih menghasilkan kenapa harus dipangkas?

“Bagi Jauri, budidaya kopi adalah untuk mendapatkan produksi yang tinggi. Bukan bentuk tajuk yang bagus,” ujar Winarno. Selain mempertahankan cabang produksi, rahasia budidaya kopi ala Jauri pada pemupukan yang intensif plus pengaturan tanaman penaung. “Ketika jam 12 siang tanaman kopi harus terbebas dari naungan. Jadi, kalau ada tanaman penaung yang menghalangi sinar matahari masuk ke kebun kopi pada pukul 12.00 harus ditebang,” ujar Jauri.

Kebun kopi Jauri amat  rimbun karena cabang  produksi banyak.

Kebun kopi Jauri amat
rimbun karena cabang
produksi banyak.

Sinar matahari merupakan kebutuhan mutlak semua tanaman termasuk kopi. Ia mengerti betul hal itu. Di lahan Jauri tanaman penaung ia babat habis. Tujuannya agar sinar matahari bisa masuk ke dedaunan kopi secara optimal. Jika ada pekebun lain yang ingin mengikuti cara Jauri, pastikan ketika pukul 12 siang, tidak ada satu pun pohon yang menaungi kopi.

Dua kali memupuk

Jauri dua kali memupuk dalam setahun. Pemupukan pertama menjelang musim hujan. Ia memberikan 3 genggam TSP setiap tanaman persis di bawah kanopi melingkari batang. Setelah 25 hari, ia kembali memupuk, yakni campuran TSP dan Urea. Dosisnya tetap 3 genggam per pohon kerabat mengkudu itu. Pupuk sebagai sumber nutrisi tanaman dan menjaga daya tahan tubuh tanaman dari serangan hama dan penyakit.

Dompolan kopi robusta produktif.

Dompolan kopi robusta produktif.

“Seperti manusia, kalau badannya sehat, maka penyakit tidak bisa menyerang,” ujar petani 62 tahun itu. Jauri tidak menutup atau menguruk pupuk itu dengan tanah. Ia membiarkan pupuk itu begitu saja. Biasanya kalau tidak ditutup dengan tanah, pupuk akan cepat menguap ketika terpapar sinar matahari, sehingga kurang efektif. Namun di lahan Jauri, sinar matahari hampir tidak bisa menembus tanah di sekitar pohon. Sebab, tajuknya amat rapat akibat pembiaran cabang produksi yang banyak.

Baca juga:  Asean Foundation: Petani Kopi Asean Bersatu

Selain itu, proses penutupan pupuk juga akan menambah pekerjaan yang ujung-ujungnya biaya produksi lebih tinggi. Menurut Yohanes Jadmiko Wiwoho, mantri tani di Sumber Manjing Wetan, budidaya maksimal seperti pemupukan sesuai dosis, maka hasilnya maksimal. Bahkan petani bisa menjadi dokter tanaman. “Petani juga bisa jadi dokter, misalnya daun agak ungu maka hal itu disebabkan karena kebanyakan nitrogen. Kalau bunga banyak yang gugur, sebabnya karena kurang kalium,” ujarnya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d