Budidaya kale secara organik dengan mempekerjakan burung untuk mengontrol hama.

Kale negro toscano, sayuran eksklusif dengan harga Rp150.000 per kg di tingkat petani.

Kale negro toscano, sayuran eksklusif dengan harga Rp150.000 per kg di tingkat petani.

Dengan apa para petani mengatasi serangga hama pada budidaya sayuran? Pada umumnya mereka memanfaatkan insektisida. Andi Utama sama sekali tak memanfaatkan racun pembunuh serangga itu. Petani di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu justru “mempekerjakan” burung. Ia menanam kale di lahan 6 ha—dari total 37 ha lahannya. Ia mendatangkan benih kale bersertifikat organik dari Amerika Serikat.

Menurut Andi hama yang sering merusak adalah ulat grayak Spodoptera litura, belalang, dan jangkrik. Untuk mengatasi serangan hama, Andi memanfaatkan jasa baik burung. Pada budidaya di dalam greenhouse berukuran 20 m x 50 m ia melepaskan sepasang burung ketilang atau puyuh untuk mengatasi serangan hama. Andi mengelola 6 greenhouse, 4 rumah tanam untuk produksi dan 2 untuk pembibitan.

Rata-rata 2—4 burung
Ketika Trubus memasuki sebuah greenhouse, seekor ketilang Pycnonotus aurigaster tengah mengitari tanaman untuk mencari pakan berupa serangga hama. Burung anggota famili Pycnonotidae akan memakan hama di permukaan daun dan batang. Adapun puyuh Coturnix coturnix cenderung memakan serangga yang berada di tanah. Burung-burung yang tampak jinak itu mengontrol serangga hama.

Budidaya kale di dalam green house, kondisi lingkungan selalu terukur dan terkontrol.

Budidaya kale di dalam green house, kondisi lingkungan selalu terukur dan terkontrol.

Andi sengaja melepas burung hasil tangkapan di sekitar lahannya di dalam rumah tanam. Bagaimana ketika serangan hama nihil? Andi menyediakan buah tomat atau pisang di dalam greenhouse sehingga burung pun betah. Untuk penanaman di luar greenhouse, ia memasang rekaman suara burung. Tujuannya untuk menarik burung pemakan serangga datang ke lahan dan memangsa hama.

Dalam budidaya kale itu Andi menerapkan sistem tumpang sari. Untuk satu luasan ia menanam minimal 3 jenis sayuran, yakni selada sebagai batas tepi guludan. Adapun caisim, pakcoy, kangkung, bunga kol, dan kohlrabi tumbuh di sela kale sebagai tanaman tumpangsari. Pola tanam itu untuk menghalau hama. Menurut Susilarto, kepala unit pertanian milik Andi, getah selada mengandung zat yang berfungsi sebagai penolak hama.

Budidaya kale dwarf blue secara organik dan tumpangsari mengoptimalkan hasil.

Budidaya kale dwarf blue secara organik dan tumpangsari mengoptimalkan hasil.

Selain memanfaatkan burung, petugas lahan juga memberikan pestisida organik untuk mengatasi serangan hama. Sementara itu penyakit yang kerap menyerang adalah fusarium karena kondisi keasaman tanah tidak seimbang. Untuk mengatasinya cukup dengan pemupukan secara rutin sehingga kondisi keasaman dan nutrisi dalam tanah pun seimbang.

Baca juga:  Ir Susanto Wijaya : Sulap Rumah Jadi Kebun

Organisme lain pengganggu tanaman adalah gulma. Andi tak serta-merta membuang gulma. Ia memanfaatkan rumput untuk menjaga kelembapan tanah. Namun bila sudah terlalu banyak atau menutupi tanaman budidaya, ia menyiangi rumput seperti babadotan, bayam, dan jenis tanaman lunak lain. Ia kembali membenamkan rumput itu ke guludan sehingga menjadi nutrisi atau pupuk bagi tanaman budidaya. Namun, Andi menghindari membenamkan rumput jarum atau putrimalu.

Andi hanya memberikan nutrisi berupa pupuk organik hasil fermentasi (lihat infografis: “Budidaya Kale Organik”). Menurut ahli pertanian organik, Dr Ir Ali Zum Mashar, tanaman lebih mudah menyerap dan mengonsumsi pupuk hayati atau organik yang mengandung mikrob. Mikroorganisme itu mengolah nutrisi kompleks dalam tanah sehingga tanaman lebih mudah menyerapnya.

Memanfaatkan ketilang sebagai pengendali hama.

Memanfaatkan ketilang sebagai pengendali hama.

Selain itu mikrob akan bekerja menyeimbangkan kondisi lingkungan organik dan anorganik dalam tanah, kondisi yang bagus tidak disukai patogen sehingga patogen tidak berkembang. Satu bulan setelah tanam di lahan, kale sudah dapat dipanen. Namun, Andi tidak memotong batang tanaman, melainkan hanya memanen daun paling tua. Hanif Hanafiah, kepala produksi menyatakan cara itu lebih efektif karena umur tanaman lebih panjang hingga 6 bulan dari normal sekitar 4,5 bulan yang menghasilkan 5—6 kg per tanaman.

Dengan penambahan itu hasil yang didapatkan juga meningkat, yakni mencapai 7 kg per tanaman. Penambahan masa produksi hingga 1,5 bulan yang memberikan tambahan produksi 1 kg cukup ekonomis. Andi tidak bingung mencari konsumen untuk memasarkan sayuran eksklusif itu. Setelah membersihkan sayuran itu, ia membawanya ke konsumen langsung di Jakarta. Hanya sebagian kecil sayuran yang masuk ke pasar swalayan. Andi rutin menjual 200 kg kale per bulan.

Baca juga:  Temulawak: Bukan Hanya Pelindung Hati

559_-119Kale kini menjadi salah satu sayuran termahal. Di tingkat petani harga sekilogram sayuran anggota famili Brassicaceae itu mencapai Rp120.000—Rp150.000. Meski harga tinggi, konsumen tetap memburu sayuran kerabat selada itu. Sebab, kale mengandung senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. Senyawa antioksidan berperan dalam membangun sistem kekebalan tubuh. Itulah sebabnya budidaya kale menjadi daya tarik bagi para petani seperti Andi Utama. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d