Jeruk madu sadu sabilulungan atau jema’s dari kebun milik Jasa Bagastara. G., S.T.

Jeruk madu sadu sabilulungan atau jema’s dari kebun milik Jasa Bagastara. G., S.T.

 

Pemilihan varietas tepat dan perawatan intensif kunci memanen jeruk yang lebat dan berkualitas prima.

Begitu memasuki Desa Sadu, Kecamatan Soreng, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, jalan menanjak. Di kanan jalan tampak dinding tanah dan bagian kiri jalan jurang yang menganga. Hanya mobil bermesin prima yang mampu menempuh perjalanan menyusuri jalan satu jalur yang sempit itu. Namun, ketika tiba di tujuan, rasa gelisah selama perjalanan sirna karena menjumpai deretan tanaman jeruk siam berbuah lebat di lahan.

Itulah kebun jeruk siam madu medan milik Jasa Bagastara G., S.T. Bagas—panggilan akrabnya—lalu mengajak Trubus memasuki gerbang kebun. Jalan menuju kebun begitu curam sehingga membuat napas terengah-engah saat berjalan. Di tengah kebun tanaman jeruk begitu luas menghampar. Di lahan seluas 5 hektare (ha) itu Bagas mengebunkan 2.000 pohon jeruk siam madu medan.

Berbuah lebat

Dari total populasi itu sebagian di antaranya sedang berbuah lebat. Dompolan buah berbalut kulit berwarna jingga terang tampak menyembul di antara rimbunnya dedaunan. Saking lebatnya, Bagas terpaksa menopang hampir setiap pohon yang sedang berbuah menggunakan batang bambu. Bagas sengaja membiarkan buah hingga berwarna jingga penuh. Ia memanen jeruk saat benar-benar matang pohon.

 

Trubus Edisi Agustus 2018 Highrest.pdf

“Saya ingin menghasilkan jeruk siam madu berkualitas tinggi dengan rasa manis yang optimal,” ujar alumnus Teknik Industri Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Kota Bandung, Jawa Barat, itu. Saat mencicip jeruk siam madu dari kebun Bagas pada Mei 2018, rasa daging buah sangat manis. Pengukuran menggunakan refraktrometer menunjukkan, tingkat kemanisan jeruk siam madu produksi Bagas mencapai 13o briks.

Baca juga:  Pasar Besar Kopi

Padahal, buah itu adalah hasil panen saat curah hujan tinggi. Curah hujan tinggi biasanya menyebabkan rasa buah menjadi hambar. Keunggulan lain, kulit septa begitu lembut sehingga bulir-bulir jeruk langsung lumer di mulut saat disantap. Dengan berbagai keunggulan itu pantas bila jeruk madu sadu sabilulungan—Bagas menyingkatnya dengan sebutan jema’s—dari kebunnya tetap laris manis meski berharga premium.

Jeruk siam madu berbuah lebat dengan perawatan intensif.

Jeruk siam madu berbuah lebat dengan perawatan intensif.

Bagas menjajakan sekilogram terdiri atas 4 buah Rp60.000 per kg, isi 5 buah Rp40.000, isi 7 buah Rp30.000, isi 8 buah Rp25.000, isi 9 buah Rp20.000, dan isi 10—12 buah Rp15.000. Di kebun Bagas, jeruk siam madu berbuah susul-menyusul. Selain pohon yang sedang berbuah matang, ada juga pohon yang buahnya baru pentil atau baru bersemburat jingga. Dari total 2.000 pohon, Bagas memanen rata-rata 20 ton jeruk siam madu per bulan.

Jeruk siam madu di kebun Bagas mampu berbuah lebat dan berkualitas tinggi berkat budidaya intensif. Sebagai sumber nutrisi ia mengandalkan pupuk Phonska, SP36, dan KCl. Ia mencampur ketiga jenis pupuk itu dengan perbandingan sama. Bagas menaburkan pupuk kombinasi itu di permukaan parit yang dibuat mengelilingi pohon dengan jarak sejajar lebar tajuk tanaman.

Pilih varietas

Bagas juga rutin memangkas agar pohon tidak terlalu rimbun. Pohon yang terlalu rimbun membuat iklim mikro menjadi lembap. Kelembapan tinggi mengundang kehadiran cendawan dan bakteri penyebab penyakit. Pemangkasan juga dilakukan agar sirkulasi udara lancar dan seluruh bagian tanaman terpapar sinar matahari merata sehingga fotosintesis berlangsung optimal.

Pekebun itu justru membiarkan gulma tumbuh di bawah tajuk. “Tujuannya untuk mempertahankan kelembapan tanah di area perakaran. Dengan begitu area perakaran tidak terlalu cepat kering akibat kemarau,” tutur ayah satu anak itu. Meski gulma turut tumbuh, Bagas tidak khawatir tanaman bakal kekurangan hara lantara bersaing menyerap nutrisi. “Selama pasokan pupuk cukup, tanaman jeruk tidak akan terganggu,” kata Bagas.

Pemupukan ditaburkan pada parit yang dibuat mengelilingi tanaman selebar tajuk.

Pemupukan ditaburkan pada parit yang dibuat mengelilingi tanaman selebar tajuk.

Ketika berbuah, Bagas tidak melakukan penjarangan buah pada dompolan yang berbuah lebat. “Asalkan makanannya cukup ukuran buah yang dihasilkan tetap optimal,” tuturnya. Pada dompolan yang berbuah sedikit, ukuran buah lebih jumbo karena pasokan nutrisi lebih berlimpah. Itulah sebabnya ukuran buah pada dompolan buah yang sedikit bisa mencapai 200—250 g per buah.

Baca juga:  Membidani Kelahiran Durian Juara

Menurut peneliti jeruk di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Ir. Sutopo, M.Si., kunci sukses mengebunkan jeruk tak hanya perawatan yang intensif, tapi juga pemilihan varietas unggul yang sesuai dengan lokasi lahan. Menurut Sutopo jeruk siam madu lebih optimal dikebunkan di dataran tinggi berketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut (m dpl).

Bagas menanam varietas jeruk siam madu medan yang banyak dikembangkan di kawasan Berastagi, Kabupaten Karo. “Ternyata saat ditanam di sini hasilnya bagus,” ujarnya. Kebun milik Bagas berketinggian 900 m dpl. Kegagalan akibat kesalahan pemilihan varietas dialami pekebun jeruk yang lokasinya dekat dengan kebun milik Bagas. Rupanya yang ditanam adalah jenis siam dataran rendah.

Akibatnya rasa buah masam dan hasil panen hanya laku sebagai jeruk peras yang berharga jual sangat murah. Dengan pemilihan varietas tepat dan perawatan intensif, hasil panen lebat dan laba pekebun jeruk pun berlipat. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d