Total luas lahan jagung Gapoktan Sido Makmur III 17,35 hektare.

Total luas lahan jagung Gapoktan Sido Makmur III 17,35 hektare.

Di lahan tanpa olah tanah, produksi jagung tetap tinggi.

Munawar memanen 2.500 kg jagung pipilan kering dari lahan 2.500 m2 pada September 2015. Pekebun di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menuai lebih banyak dibandingkan panen pada 2013 yang hanya 1.300 kg dari lahan sama. Ia menjualnya Rp4.200 per kg sehingga omzetnya Rp10,5-juta. “Untuk biaya produksi saya hanya mengeluarkan biaya Rp1.150.000,” kata Munawar.

Menurut ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur III itu biaya produksi sangat murah karena ia hanya mengeluarkan biaya benih dan pupuk. Untuk lahan 2.500 m2 ia memerlukan 4,2 kg benih seharga total Rp265.000 dan pupuk Rp885.000 untuk 125 kg Urea, 75 kg TSP, dan 25 kg KCl. biaya produksi sebesar Rp1.150.000. Ia tidak mengeluarkan biaya olah tanah karena menerapkan sistem tanpa olah tanah (TOT) pada musim tanam 2015.

Intensif
Menurut Munawar dalam sistem TOT para pekebun tidak perlu mengolah lahan yang akan ditanami. Para pekebun di sana biasanya membudidayakan jagung sebagai tanaman sela setelah masa tanam padi. “Di sini tidak bisa sepanjang tahun menanam jagung. Jagung hanya sebagai tanaman penyela. Polanya padi, padi, palawija,” kata Munawar. Mereka menanam jagung pada Juli—Agustus (lihat ilustrasi: Strategi Tanpa Olah Tanah).

Menurut Munawar semua anggota Gapoktan Sido Makmur III yang mencapai 166 anggota juga meningkat produksi jagungnya. Mereka menerapkan sistem tanpa olah tanah di areal 17,35 hektare. Munawar mengatakan petani yang menerapkan sistem tanpa olah tanah menghemat biaya produksi signifikan. Untuk mengolah lahan 1 ha, petani memerlukan 20 tenaga kerja selama 1 hari.

Setelah panen jagung dikeringanginkan 1-2 minggu kemudian dipipil dan dijual sebagai bahan baku pakan ternak.

Setelah panen jagung dikeringanginkan 1-2 minggu kemudian dipipil dan dijual sebagai bahan baku pakan ternak.

Adapun biaya untuk mengolah tanah mencapai Rp60.000—Rp70.000 per orang per hari. Dengan demikian maka biaya olah tanah per ha mencapai Rp1.200.000—Rp1.400.000. Nilai itulah yang dihemat oleh para petani jagung yang tak mengolah tanahnya. Meski tak mengolah tanah, produksi Zea mays tetap membubung. Petani lain Desa Sumbermulyo, Pardiman, juga mengalami lonjakan produksi yang signifikan, hingga 90%.

Baca juga:  Pilihan Jatuh pada Raja Musang

Munawar menuturkan kini rata-rata produksi jagung para anggota Gapoktan Sido Makmur III mencapai 11—13,5 ton per ha. Hasil panen itu lebih tinggi dibandingkan pada 2013 yang hanya 8 ton per ha. Dengan pencapaian itu Gapoktan Sido Makmur III berhasil mendapat juara ke-2 dalam lomba kelompok tani berprestasi untuk komoditas jagung pada 2015.

Menurut peneliti jagung dari Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal), Maros, Sulawesi Selatan, Ir Andi Haris Talanca, hasil panen Gapoktan Sido Makmur III memungkinkan untuk dicapai. “Pemupukan yang optimal kemungkinan faktor yang mempengaruhi produksi tinggi,” katanya. Andi menuturkan faktor lain yang berpengaruh terhadap hasil tanaman jagung adalah benih, pengairan, dan pemupukan.

“Kami tidak sembarangan membeli benih, kami menggunakan benih berkualitas dan berlabel. Selama ini Gapoktan Sido Makmur III kerap menjalin kerja sama dengan produsen benih jagung,” kata Munawar. Andi mengatakan faktor yang paling dominan adalah waktu dan takaran pemupukan yang tepat. Pada umur 7 hari setelah tanam sebaiknya berikan pupuk Phonska. Pada umur 21 hari dan 35 hari setelah tanam diberikan pupuk Urea.

“Ketika ditunjang kesuburan tanah yang baik, maka hasil panen pasti lebih tinggi,” kata Andi. Karena pengaturan pupuk yang dilakukan Gapoktan Sido Makmur III sesuai, maka tak heran jika hasil panen menjadi optimal. Meski menerapkan sistem tanpa olah tanah, para petani tetap panen besar. (Muhamad Fajar Ramadhan)

555_ 112

555_ 113

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d