Panen Ganda Kangkung-Nila

Tanam  kangkung di kolam nila memberi keuntungan ganda. 

Bayu Ari Sidi dan kangkung hasil akuaponik.

Bayu Ari Sidi dan kangkung hasil akuaponik.

Papan stirofoam menutup sebagian area kolam seluas 8.000 m²—terdiri atas 40 kolam. Pemilik kolam, Bayu Ari Sidi, menanam kangkung di atas papan stirofoam setebal 3 cm itu. Sebuah papan berukuran 2 m x 10 m terdiri atas 200 lubang tanam. Artinya dari total 10 papan di sebuah kolam, petani di Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu mengelola 2.000 lubang tanam.

Di sebuah lubang, Bayu meletakkan pot mungil atau netpot. Ia menanam 5 bibit di setiap lubang. Dari sebuah papan Bayu memanen 15 kg kangkung berumur 20—30 hari setelah tanam. Bayu menjual kangkung Rp10.000–Rp12.000 per kg. Kangkung tampak hijau segar, batangnya tinggi, akarnya lebat dan panjang. “Kangkung itu cepat panen, rumah makan di Yogyakarta pun banyak yang punya menu masakan berbahan kangkung,” kata Bayu.

Akuaponik
Bayu memanfaatkan kolam untuk budidaya kangkung pada Januari 2017. Ia panen perdana 1.500 kg kangkung pada Februari 2017. Sebanyak 100.000 batang kangkung itu hasil penanaman dari 10 kolam. Pada Maret–April 2017 Bayu menambah penanaman di 10 kolam lainnya. Keruan saja Bayu juga menuai ikan nila dari kolam yang sama. Di bawah stirofoam itu ia membudidayakan ikan nila.

Kangkung yang tumbuh di rakit apung siap panen pada umur 20—30 hari.

Kangkung yang tumbuh di rakit apung siap panen pada umur 20—30 hari.

Semula Bayu menanam kangkung untuk memanfaatkan kolam ikan nila yang lebih dahulu digeluti. Menurut Bayu ikan nila merah bercitarasa lezat. Masyarakat juga menggemarinya. Ia memanfaatkan permukaan kolam yang kosong dengan menanam kangkung di atas rakit apung. Pola budidaya semacam itu—menanam sayuran dan ikan di sebuah lokasi—populer dengan sebutan akuaponik.

Pria 36 tahun itu menebar 15.000 bibit nila seukuran 1 inci di sebuah kolam berukuran 100 m². Setelah 7 hari penebaran bibit Bayu menutup kolam dengan papan stirofoam untuk budidaya sayuran kangkung. Alumnus Jurusan Perikanan Universitas Gadjah Mada itu memberikan pakan ikan berupa pupuk organik dari burung puyuh. Pakan ikan itu sekaligus sebagai sumber nutrisi kangkung.

Ikan nila pada kolam.

Ikan nila pada kolam.

Sebelum memberikan pakan, Bayu merendam selama 10 menit dalam ramuan probiotik herbal, kemudian ditambah dengan jus udang yang mengandung asam amino, asam humat, molase, dan susu. Campuran pakan berupa 2 cc probiotik dan 500 cc air. Ia mengaduk rata sehingga pakan itu berbentuk butiran. Senyawa organik itu dapat menghemat pemberian pupuk. Penambahan pupuk dan pakan memenuhi nilai rasio konversi pakan.

Menurut Bayu rasio konversi pakan atau Food Convertion Ratio (FCR) ikan sebesar 1. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg ikan menghabiskan 1 kg pakan ukuran 3 mm. Ia memberikan pakan 4 kali sehari. Caranya dengan menebar langsung pada kolam yang tak tertutupi papan stirofoam. Sisa pakan dan kotoran ikan yang mengendap di dasar kolam membahayakan ikan. Untuk itu Bayu menanggulanginya dengan menggunakan filter biologis berupa nitrobakter.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x