Mikrob hayati menyehatkan tanah dan tanaman cabai sehingga produksi menjulang.

Cabai besar berkualitas dihasilkan dari budidaya intensif.

Cabai besar berkualitas dihasilkan dari budidaya intensif.

M Tosin Glio berdiri di lahan seluas 1 hektar yang gersang. Lahan itu bekas budidaya tembakau. Menurut para petani di sekitar kebun yang pernah menanaminya, lahan itu tak produktif dan cenderung merugikan. “Budidaya tanaman apa pun di tanah itu akan rugi. Rumput saja susah hidup,” ujarnya menirukan ucapan para petani itu. Padahal, Tosin hendak membudidayakan tanaman cabai yang membutuhkan perawatan intensif.

Ia pun penasaran dengan kondisi tanah itu. Hasil pemeriksaan menunjukkan, tanah itu sangat liat sehingga mempersulit pergerakan akar (lihat boks: Uji Dalam Botol). Saat itu juga Tosin memulai penyehatan tanah. Mula-mula ia mengocorkan pupuk hayati yang mengandung agen hayati seperti Trichoderma sp, Basillus subtilis, dan Pseaudomonas fluorescens. Paling minim kandungan mikrob dalam pupuk hayati itu 106.

Produksi tinggi
Di lahan marginal itu Tosin tetap membudidayakan cabai pada November 2015. Hasilnya sungguh menakjubkan. Ketika tanaman berumur 3 bulan, Tosin mulai memanen cabai besar. “Banyak petani yang kaget melihat cabai saya karena bisa hidup dan berbuah,” ujar pria kelahiran 12 Februari 1969 itu. Harap mafhum, selain tumbuh di lahan sakit, musim tanam saat itu masuk musim pancaroba sehingga riskan serangan hama dan penyakit.

Tosin panen tiap pekan sekali dengan produktivitas per tanaman rata-rata mencapai 1 kg. Dengan produktivitas sebesar itu, menurut pengamat pertanian di Yogyakarta, Ir Sudadi Ahmad sudah bagus. “Saat musim pancaroba, standar produktivitas cabai besar sekitar 0,8 kg per tanaman. Bahkan tak sedikit yang urung tanam cabai karena takut serangan penyakit yang tinggi,” ujarnya.

Petani cabai itu membuktikan, dengan budidaya ramah lingkungan produktivitas cabai tetap tinggi meski di lahan marginal plus musim pancaroba. Hingga kini, ia 15 kali panen dengan tingkat kematian tanaman kurang dari 5%. “Tanaman cabai di lahan petani lain sudah habis hanya dalam waktu 3 bulan. Sementara cabai saya masih terus panen meski sudah berumur 5 bulan,” ujar Tosin.

Tosin baru pertama kali membudidayakan cabai di lahan itu. Namun, hasilnya sudah luar biasa. Bagaimana rahasia Tosin sukses bertanam cabai? Selain memberikan pupuk hayati, Tosin Glio juga memberikan pupuk kompos dengan dosis dua kali lipat dibanding saat ia membudidayakan cabai di tanah sehat. Ia memberikan 1.000 sak atau karung dengan bobot masing-masingnya 20—25 kg. “Biasanya saya hanya pakai 500 sak,” ujar Tosin.

Pupuk kandang salah satu sumber nutrisi tanaman.

Pupuk kandang salah satu sumber nutrisi tanaman.

Ia membuat sendiri pupuk kompos itu dengan memfermentasi bahan-bahan organik dengan mikrob pengurai seperti Trichoderma sp. Karena salah satu mikrob pengurai itu Trichoderma sp sehingga ia memberi nama pupuk itu trichokompos. Kompos itu juga harus mengandung 3 jenis pupuk kandang yang masing-masing memiliki keunggulan yaitu pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, dan pupuk guano alias kotoran kelelawar.

Baca juga:  Berkibar Bisnis Biojanna

Kotoran ayam banyak mengandung nitrogen, pupuk kandang sapi (fosfat), dan guano (banyak kalium). “Jika guano susah didapat, diganti pupuk kandang sapi atau kambing sudah membantu,” ujar lelaki asal Brebes, Jawa Tengah itu (lihat ilustrasi). Menurut Tosin manfaat trichokompos di antaranya meningkatkan unsur hara makro dan mikro tanah plus memperbaiki struktur tanah agar gembur.

Itu memudahkan pertumbuhan akar tanaman serta meningkatkan aktivitas biologis mikroorganisme tanah yang menguntungkan. “Trichokompos juga meningkatkan pH pada tanah asam juga sebagai pengendalian penyakit tular tanah,” ujarnya. Menurut pakar pupuk hayati dari Institut Pertanian Bogor, Prof Iswandi Anas Chaniago, peran mikrob baik itu secara umum meliputi dua hal, yakni meningkatkan pengambilan unsur hara yang tersedia di alam dan sebagai antagonis hama dan penyakit yang menyerang tanaman.

Tambah imun
Menurut Prof Iswandi setiap mikrob mempunyai peranan yang berbeda. Trichoderma, misalnya, selain berperan meningkatkan penyerapan unsur hara, bakteri itu juga sebagai parasit bagi penyakit yang menyerang tanaman dan mampu pula memperbaiki struktur tanah. “Trichoderma bisa hidup di sel-sel patogen penyebab penyakit tanaman lalu menghambat pertumbuhan patogen itu,” ujar Iswandi.

Tosin Glio membudidayakan cabai di lahan marginal.

Tosin Glio membudidayakan cabai di lahan marginal.

Ahli tanah dari Universitas Padjadjaran, Prof Dr Tualar Simarmata, menuturkan hal senada. Menurut Tualar mikrob Trichoderma memberikan efek positif untuk tanah dan tanaman secara umum. “Trichoderma mempunyai dua fungsi yaitu memaksimalkan penguraian bahan-bahan organik dan agen hayati sebagai imun tanaman,” kata Tualar. Dengan kondisi imun tanaman yang bagus, tanaman tak mudah terserang penyakit.

Ir Sudadi Ahmad mengatakan pemberian Trichoderma sp juga berperan mengurangi lahan hidup patogen-patogen yang bisa menularkan penyakit tanaman seperti cendawan Fusarium sp penyebab penyakit layu fusarium. “Ruang hidup mikrob jahat menjadi semakin sempit dengan kehadiran mikrob baik seperti Tricodherma,” kata alumnus Universitas Padjadjaran itu.

Sementara Bacilus subtilis berperan lebih kepada pencegahan hama. “Bacilus subtilis akan menginfeksi hama, sehingga serangannya bisa terkendali,” ujar Prof Iswandi. Selain itu Bacilus subtilis juga mampu meningkatkan kelarutan plus meningkatkan pengambilan unsur fosfat. Dengan mekanisme itu, para petani mampu menghemat penggunaan pupuk fosfat.

Baris tunggal
Tosin melakukan persiapan lahan selama sebulan. Sembari menunggu, Tosin mempersiapkan benih cabai besar dengan merendamnya terlebih dahulu ke dalam pupuk hayati cair yang juga mengandung Trichoderma lalu memeramnya selama 24 jam. “Tujuannya agar benih terbebas dari penyakit sejak dini,” ujar Tosin. Kemudian ia semai benih itu di media campuran tanah dan trichokompos perbandingan 4 : 1.

Baca juga:  Panen Perdana Hazton

Sepekan sebelum pindah tanam, pendiri Pos Pengembangan Agensia Hayati (PPAH) swadaya Pujon itu membuat guludan dengan lebar 80 cm, tinggi 25 cm. Guludan itu ia sungkup dengan mulsa plastik hitam perak. Tosin menggunakan sistem tanam single row atau satu baris pada satu guludan. Jarak antar tanaman 25—30 cm. Dengan sistem tanam seperti itu, populasi mencapai 15.000 tanaman per hektare.

Sebelum memasang mulsa, Tosin mengocor guludan dengan pupuk hayati cair berkonsentrasi 10—20 cc per liter plus pupuk NPK. Ia memang masih menggunakan pupuk kimia NPK, dosisnya amat minim, yakni 10—20 kg per ha. “Dosis NPK itu hanya 25% dari penggunaan umumnya, alias bisa terkurangi sampai 75%. Penggunaannya juga hanya sekali sebagai pupuk dasar, setelah itu sudah tidak perlu lagi,” ujarnya.

Prof Dr Iswandi Anas ahli tanah dari Institut Pertanian Bogor.

Prof Dr Iswandi Anas ahli tanah dari Institut Pertanian Bogor.

Benih Capsicum annum sudah siap pindah tanam umur 2 pekan pascasemai dengan ciri-ciri daun sudah tebal dan memiliki 4—5 daun. Menurut Tosin bibit wajib sudah dipindah sebelum umur 25 hari pascasemai. “Bibit yang paling bagus di bawah 25 hari pascasemai, jangan lebih karena pertumbuhan di media persemaian terbatas sehingga mempengaruhi pertumbuhan saat dilahan tanam,” ujarnya. Bibit terpilih juga harus tumbuh sehat, tidak cacat atau terserang hama dan penyakit.

Empon-empon
Perawatan tiap pekan, Tosin mengocornya dengan pupuk cair hayati dengan konsentrasi 10—20 cc per liter sesuai di kemasan. “Kalau semprot dosisnya 10—11 cc pupuk dilarutkan seliter air. Sementara kalau kocor 10—20 cc per liternya,” ujar Tosin. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, Tosin mengandalkan empon-empon seperti rimpang jahe, laos, kunyit, kencur plus bawang putih.

“Empon-empon plus bawang putih itu saya fermentasi dengan mikrob baik seperti Tricodherma sp dan Bacilus subtilis,” ujarnya. Proses fermentasi selama 2 pekan. (lihat ilustrasi). Cara aplikasinya, dengan mengencerkan larutan pestisida nabati dengan air perbandingan 1 : 4. Penyemprotan sepekan sekali dengan menambahkan asap cair berdosis 100 cc per 15 liter.

Menurut Tosin pestisida itu bermanfaat untuk mencegah serangan hama secara umum terutama dari jenis kutu-kutuan. Dapat juga mencegah serangan penyakit akibat Phytophthora, antraknosa, dan alternaria. Harap mafhum, menurut peneliti cabai dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Rinda Kirana SP MP, serangan antraknosa merugikan petani hingga 100% alias gagal panen. “Penyakit antraknosa menyerang tanaman sejak kecil lantaran penularannya bisa dari benih yang tidak berkualitas,” tutur ahli pemulia tanaman itu.

Dalam budidaya cabai besar itu, Tosin tidak menggunakan pestisida kimia sama sekali. Namun, bagi petani yang ingin mengikuti caranya untuk pertama kali, ia menyarankan tetap menyiapkan pestisida kimia. “Kalau saya menyarankan untuk tetap pakai meski dosisnya sedikit, sekitar 30% dari dosis yang biasa ia pakai,” ujarnya. Artinya petani bisa menghemat 70% pestisida kimia. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d