574_ 48Cara Muhammad Khudori menghasilkan kentang berpodukstivitas tinggi dan berkualitas prima.

Produktivitas melambung hingga 40 ton per hektare, rendemen juga tinggi yakni 21,24%. Itulah kelebihan kentang medians. Bandingkan dengan pendahulunya, yakni kentang atlantik yang hanya berproduksi 16 ton dan rendemen 20%. Itulah sebabnya medians menjadi andalan petani untuk meraih laba. Petani di Desa Tambabaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Muhammad Khudori, rutin memasok medians kepada produsen keripik di Jakarta.

Sejak awal Khudori membudidayakan anggota famili Solanaceae itu sebagai bahan baku keripik. Nilai ekonomi kentang medians lebih tinggi daripada kentang sayur. Semula Khudori menanam kentang atlantik. Serangan penyakit busuk daun menghancurkan atlantik. Padahal, saat itu—pada 2012—atlantik masih menjadi andalan petani untuk memasok pabrik keripik. Itulah sebabnya Khudori beralih menanam medians.

Tumpangsari
Pada 2013 Balai penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) melepas varietas medians untuk mengatasi serangan cendawan penyebab busuk daun. Menurut anggota tim pemulia kentang Balitsa, Ir Kusmana, tujuan merakit medians untuk menghasilkan varietas yang tahan hama penyakit agar petani tidak perlu menggunakan bibit dari luar negeri. “Medians tahan hama dan penyakit karena kurang dari 10% tanaman yang terserang busuk daun,” ujar Kusmana.

574_ 49Menurut peneliti kentang di Balitsa, Ir. Asih Kartasih Karyadi, penyakit busuk daun disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans. “Serangannya bisa meningkat hingga dua kali lipat pada musim hujan,” ujar Asih. Kudori pun mencoba menanam medians di lahan 1 ha pada Agustus 2013. Populasi awal 30.000 tanaman per ha dengan jarak tanam 30 cm x 80 cm. Ia menanam dengan sistem gulu, berisi 1 tanaman per baris.

Muhammad Khudori menambahkan hormon pemacu tumbuh untuk memperoleh kualitas lahan tanam kentang yang prima.

Muhammad Khudori menambahkan hormon pemacu tumbuh untuk memperoleh kualitas lahan tanam kentang yang prima.

Saat ini luas lahan yang ditanami medians mencapai 3 ha dengan hasil 120 ton. Artinya produktivitas medians melambung hingga 40 ton per hektare. Dari produksi itu 25 ton di antaranya sesuai kelas A, 10 ton kelas B, dan sisanya 5 ton termasuk kelas C. Standar mutu kentang kelas A yang kini berharga Rp8.500 per kg adalah berumbi besar, bobot 155 gram per umbi, dan kulitnya mulus dari serangan hama penyakit.

Baca juga:  Parfum Bikin Walet Betah

Adapun umbi kelas B, kualitas penampilan relatif sama dengan kelas A, tetapi bobot lebih ringan, yaitu rata-rata 85 gram. Bagaimana kiat Khudori menghasilkan median berkualitas prima? Ia mengolah tanah terlebih dahulu dilahan yang bukan bekas penanaman anggota famili Solanaceae seperti tomat, cabai, dan kentang. Itu untuk mencegah dan mengurangi risiko penularan penyakit. Meski demikian petani tetap berpeluang menumpangsarikan kentang dengan tanaman sefamili.

Caranya dengan menanam secara bersamaan sejak awal sehingga nantinya perawatan bisa bersamaan untuk 2 jenis tanaman sekaligus. Pekebun 39 tahun itu memanfaatkan Plant Growth Promoting Rhizhobacteria (PGPR) dalam budidaya kentang. Pengalaman Khudori membuktikan, bakteri itu memberi keuntungan bagi tanaman. PGPR mampu memacu aktivitas fisiologi akar dan pertumbuhan tanaman, serta mengurangi serangan penyakit atau kerusakan oleh serangga.

Selain itu PGPR juga pun mempercepat proses pengomposan (lihat ilustrasi: Hasilkan Medians Bermutu Prima). Khudori menyemprotkan PGPR dengan konsentrasi 200 ml yang dilarutkan dalam 20 liter air. Itu cukup untuk lahan seluas 1 ha. (Muhammad Hernawan Nugroho).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d