Panen Besar Karena Nutrisi 1
Hasil panen bawang merah Budiyono meningkat dari 2 ton menjadi 3 ton

Hasil panen bawang merah Budiyono meningkat dari 2 ton menjadi 3 ton

Panen bawang merah, cabai, dan padi meningkat berkat penggunaan pupuk organik dan hayati.

Budiyono tak menyangka panen bawang merah pada Agustus 2013 memerlukan 2 mobil bak terbuka yang masing-masing berkapasitas  1,5 ton. Biasanya dengan sebuah mobil ia sudah bisa mengangkut bawang merah setelah 4 jam panen dengan  12 tenaga kerja. Namun, petani di Kendal, Jawa Tengah, itu memerlukan sebuah mobil lagi karena banyak bawang merah yang belum terangkut. Sebab, hasil panen saat itu meningkat menjadi 3 ton, biasanya 2 ton, dari lahan 1.800 m2.

Ia puas atas hasil panennya. Pendapatannya melonjak menjadi  Rp46-juta alias ada penambahan    Rp23-juta. Pada panen sebelumnya  pada Mei 2013, ia hanya mengantongi Rp23-juta hasil tebasan seorang pengepul. Budiyono baru satu kali mengalami kenaikan hasil panen yang signifikan itu. Lonjakan itu berkat penggunaan pupuk organik dan NPK. Ia baru menggunakan pupuk organik itu pada Juni 2013. Ia mengencerkan  240 ml pupuk organik dalam 60 liter air dan menyemprotkan. Frekuensi pemberian 5 kali dengan interval 7 hari.

Aplikasi pupuk hayati juga bisa dilakukan pada tanaman rimpang seperti jahe

Aplikasi pupuk hayati juga bisa dilakukan pada tanaman rimpang seperti jahe

Rumput laut

Adapun untuk NPK Budiyono menghabiskan 100 kg yang ditebar 3 kali dengan interval 10 hari setelah tanam. Biaya pembelian pupuk NPK Rp700.000. Sementara harga pupuk organik hanya Rp165.600. Itu berarti modal awal pupuk hanya Rp865.600. Selain peran pupuk organik, hasil panen yang meningkat juga karena saat itu musim kemarau sehingga semakin mendukung pertumbuhan bawang. Pupuk organik itu bukan hanya meningkatkan hasil panen dan mengurangi penggunaan pupuk kimia. “Pupuk organik yang saya gunakan juga mempersingkat waktu panen,” kata Budiyono.

Biasanya Budi memanen varietas bima brebes ketika tanaman berumur 60 hari setelah tanam (hst). Setelah menggunakan pupuk organik ia menuai umbi lapis itu pada umur  54 hst pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan pekebun berusia 42 tahun itu memanen bawang merah berumur 50 hst, lazimnya 55 hst. Perubahan lain setelah menggunakan pupuk organik yaitu, “Tanaman terlihat segar dan kuat serta pertumbuhan lebih cepat,” kata pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah, itu.

Baca juga:  Kelezatan Kopi di Atas Kulit

Petani cabai di Saribudolok, Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Erwida, juga mengurangi penggunaan pupuk kimia. Sebelumnya Erwida menggunakan 200 kg NPK sekali periode tanam cabai. Namun, setelah menggunakan pupuk organik ia hanya menggunakan 50 kg. Selain itu, “Saya juga menghemat Rp5-juta karena tidak lagi membeli perangsang buah,” ujar petani cabai sejak 2009 itu.

Pupuk organik yang Budi dan Erwida gunakan memang yang terbaik. Bahan baku pupuk bukan berasal dari limbah sayuran atau tanaman lain, tetapi rumput laut cokelat segar Ascophyllum nodosum. Menurut Manajer Pengembangan Bisnis Agro DI Grow,  Ir Suhendro Atmaja, rumput laut cokelat berlimpah nutrisi. Rumput laut itu mengandung mineral makro dan mikro, asam amino, asam humat, giberelin, auksin sitokinin, dan zat hara lain yang diperlukan tanaman.

Dra Harmastini Sukiman MAgr, "Penggunaan pupuk kimia puluhan tahun merusak tanah"

Dra Harmastini Sukiman MAgr, “Penggunaan pupuk kimia puluhan tahun merusak tanah”

Menurut Suhendro tidak sembarang rumput laut cokelat bisa digunakan. “Perusahaan kami menggunakan rumput laut cokelat dari Laut Atlantik Utara,” kata Suhendro. Lokasi itu dipilih karena tingkat pencemaran yang rendah sehingga mutu rumput laut terjamin.

Selain DI Grow, Ferre Soil produksi PT Nusa Berkat Alam menambah alternatif penggunaan pupuk organik. Pupuk itu mengandung bahan organik yang diperkaya dengan mikrob unggul penyubur. “Ferre Soil merupakan gabungan pupuk organik dan hayati,” ucap Ali Zum Mashar, penemu formula Ferre Soil. Ali mengatakan bahan organik dan mikroorganisme berperan penting memperbaiki struktur tanah yang rusak. Sementara produsen pupuk Grow Quick membuat pupuk menggunakan bahan organik, rumput laut, ikan laut, serta unsur makro, dan mikro lengkap.

Penggunaan meningkat

Petani di Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Kahar Ismail merasakan manfaat menggunakan pupuk hayati. Saat ini padi ciherang di lahan Ahmad memiliki 32 anakan per rumpun, sebelumnya hanya 25 anakan. Jumlah anakan yang meningkat itu tentu saja berpengaruh terhadap produktivitas Oryza sativa. Pada 2013 Ahmad memanen 8 ton gabah basah di lahan 1 ha. Jika tidak ada hambatan Ahmad bakal menuai 11 ton gabah basah pada Maret 2014.

Bahkan, petani padi di Banyuwangi, Jawa Timur, Suyitno, meraih hasil panen fantastis hingga, 16 ton per hektar (Baca: Produksi Padi 16 Ton, hal 110—111). Menurut ahli aplikasi pertanian BiotoGrow, Firman, anakan padi milik Ahmad meningkat karena komposisi pupuk yang lengkap dan peran mikrob. “Pupuk yang Ahmad gunakan mengandung hara makro dan mikro, NPK alami, asam amino, dan trace mineral yang dibutuhkan tanaman,” ujar Firman. Selain itu, pupuk itu juga berisi mikrobakteri yang memperbaiki kualitas tanah.

Penggunaan pupuk organik pada cabai menekan penggunaan zat perangsang buah

Penggunaan pupuk organik pada cabai menekan penggunaan zat perangsang buah

Salah satu caranya Pseudomonas dan BPF yang mengurai P dan K yang mengendap di tanah. Rhizobium berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Selain itu Azotobacter meningkatkan jumlah peningkatan pengikatan nitrogen bebas. “Artinya bakteri mampu memproduksi pupuk sendiri di dalam tanah,” kata Firman. Ia mengatakan pupuk itu tidak hanya cocok untuk padi, tapi juga tanaman lain seperti tomat, jahe, dan jagung.

Baca juga:  Terbang Tinggi dan Kembali

Penggunaan pupuk organik dan hayati saat ini terus mengalami pertumbuhan. Firman mengatakan penjualan Bioto Grow meningkat hingga 580% sejak awal 2014. Sementara Ali, formulator Ferre Soil, menuturkan penjualan pupuk produksinya meningkat 100% pada 2012—2013. Persentase kenaikan penjualan 50% dialami DI Grow, sedangkan penjualan Grow Quick meningkat hingga 30%.

Menurut periset di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Bogor, Dra Harmastini Sukiman MAgr peningkatan penggunaan pupuk organik dan hayati karena petani mulai sadar lahan pertanian saat ini rusak dan keras serta unsur hara yang semakin berkurang. Musababnya, “Penggunaan pupuk kimia selama puluhan tahun,” kata Harmastini. Itu bisa menyebabkan produktivitas tanaman berkurang. Pupuk organik memperbaiki tanah yang rusak, sedangkan pupuk hayati menyediakan hara bagi tanaman sehingga produktivitas kembali meningkat. Pupuk organik dan hayati datang, produksi menjulang.

Di tengah maraknya peredaran pupuk organik dan pupuk hayati, pekebun mesti jeli memilih. Prof Dr Ir Tualar Simarmata, MS—peneliti pupuk organik dari Universitas Padjadjaran—memberikan beberapa tip memilih pupuk organik. Pekebun harus mencermati legalitas atau izin dari Departemen Pertanian dengan tercantumnya nomor pendaftaran. Legalitas juga bisa didukung dari lembaga sertifikasi organik.

Selain itu pekebun harus jeli mencari informasi mengenai bukti keampuhan pupuk itu, baik dari brosur dan petani lain. “Biasanya petani akan mencoba jika mengetahui ada petani lain yang merasakan keampuhannya,” kata peneliti pupuk organik sejak 1993 itu. Selain menggunakan pupuk organik, untuk meningkatkan hasil panen juga bisa dilakukan dengan mengaplikasikan pupuk hayati. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *