Produksi singkong batuwo 62 kg umbi per tanaman. “Berat sekali, padahal menggunakan pengungkit,” ujar Dr Ir Maman Suherman MM. Hari itu direktur Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian itu panen singkong di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Oganilir, Provinsi Sumatera Selatan. Ia kesulitan bukan karena tak biasa panen Manihot esculenta, tetapi karena bobot umbi memang besar. Ketika umbi terbongkar dari dalam tanah, tampak ukurannya yang mencolok.

Produktivitas singkong nasional hanya 21 ton per ha dapat ditingkatkan antara lain dengan pemilihan varietas unggul
Produktivitas singkong nasional hanya 21 ton per ha dapat ditingkatkan antara lain dengan pemilihan varietas unggul

Panjang umbi itu 1,2 m dan diameter dua kali botol air mineral 1,5 liter. Setiap tanaman menghasilkan 12—14 umbi. Saat dikupas, daging umbi tampak putih. Bobot umbi mencapai 60 kg per tanaman. Dengan ukuran sebesar itu, panen memerlukan teknik khusus agar umbi tidak patah atau terluka. Itulah singkong batuwo hasil penanaman Karim Aristides. Pekebun di Indralaya itu panen batuwo berumur 11 bulan pascatanam. Karim menanam singkong di lahan 6 ha.

Tinggi produksi

Produksi singkong gajah 15 kg/tanaman

 

Karim Aristides membudidayakan batuwo berjarak tanam 0,9 m  x 1,1 m sehingga populasi mencapai 10.000 tanaman per ha. Total jenderal Karim memanen 120—130 ton per ha. Artinya produktivitas rata-rata mencapai 12—13 kg per tanaman. Jika jarak tanam dilonggarkan menjadi 2,5 m x 2 m produktivitas per tanaman 60 kg seperti yang dipanen Maman. Padahal, produktivitas singkong nasional rata-rata 21 ton per ha atau 2 kg per tanaman jika populasi sama. Sebelum menanam dalam skala luas, Karim membudidayakan singkong batuwo di lahan 5.000 m2 pada 2010.

Ia memperoleh bibit dari rekan. Ketika itu ia menanam 4.000 bibit berupa setek batang. Sebelas bulan kemudian, ia panen 100 ton singkong. Itulah sebabnya ia menanam batuwo di lahan lebih luas, yakni 6 ha pada pertengahan 2012. Pekebun yang hobi berburu durian itu mengolah tanah dan menaburkan 5 g fosfat ke dalam lubang tanam lalu menimbun dengan 0,2 kg pupuk kandang.

Ia lantas menanam bibit setinggi 20—25 cm. Total jenderal ia menanam 60.000 bibit di lahan 6 ha. Karim menanam singkong secara monokultur. Sebulan pascatanam ia menambahkan sekilogram pupuk kandang per tanaman atau 10 ton per ha. Bulan ketiga ia memberikan campuran pupuk NPK dan fosfat dengan perbandingan 1 : 10. Tanaman batuwo memunculkan 4—6 cabang setinggi 2—2,5 m; singkong pada umumnya hanya menghasilkan 1—2 cabang. Warna batang batuwo agak putih.

Dengan pola budidaya seperti itu, Karim menuai rata-rata 12—13 kg umbi per tanaman. Bahkan, 100 tanaman menghasilkan 60 kg umbi per batang. Menurut Karim biaya produksi mencapai Rp14-juta per ha meliputi biaya bibit, olah tanah, pupuk, dan tenaga kerja. Sementara ia menjual singkong Rp800 per kg sehingga omzetnya Rp99-juta per ha. Peneliti singkong dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Jawa Timur, Kartika Noerwijati SP MSi, menduga batuwo merupakan singkong lokal.

Kartika tidak mengetahui pasti apakah batuwo tergolong jenis baru atau bukan. “Saya harus melihat langsung tanaman mulai dari umbi, tangkai, bentuk daun, dan pucuk daun,” katanya. Jika masih ragu, ia perlu menguji sampel di laboratorium. Menurutnya ada kemiripan antara singkong batuwo dengan singkong varietas malang 6. Kemiripan itu antara lain kulit umbi dan daging berwarna putih.

Unggul

Karim Aristides (kanan) bersama Direktur Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian, Dr Ir Maman Suherman, MM usai panen singkong batuwo

 

Selain batuwo, di lahan seluas 95 ha itu Karim menanam 5 jenis singkong unggulan lain: adira 5, cimanggu, gajah kasetsaart, dan pupus biru. Karim memperoleh bibit singkong gajah saat mengeksplorasi buah endemik di Provinsi Kalimantan Timur pada 2010. Sebelumnya ia mendengar keunggulan singkong gajah dan mencarinya tetapi tak kunjung menemukan. Pucuk dicinta ulam tiba, suatu hari ia mendapat kabar dari rekan di Dinas Pertanian Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tentang keberadaan singkong gajah.

Tanpa ragu Karim berangkat ke Nunukan dan mulai “bergerilya” ke beberapa lokasi. Perlu 2 tahun sampai akhirnya ia yakin dengan keunggulan singkong asal Kalimantan Timur itu. Pada Juli—Agustus 2012,  ia mendatangkan 3 truk bibit singkong gajah dan menanam di lahan 28 ha. Menurut Prof Ristono, pemulia singkong dan mantan dosen Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur, kadar pati gajah pada umur 11 bulan mencapai 33%. “Namun singkong itu bisa dinikmati sejak umur 4 bulan, ketika bobot umbi baru 15 kg per tanaman,” kata doktor Agrikultur alumnus Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang itu.

Singkong gajah sebetulnya hasil pemuliaan Ristono sejak 1992. Pemerintah merilis singkong gajah pada 2002. Gajah memiliki semua syarat singkong unggul, warna kuning menarik seperti singkong mentega, umbi besar—bobot mencapai 60 kg per tanaman, kadar sianida kurang dari 40 ppm, dan adaptif di hampir semua jenis tanah. Karim membuktikan hal itu. “Gajah manis, renyah, dan teksturnya mirip singkong mentega,” kata pria berusia 50 tahun itu. Menurut Kartika, kekerabatan singkong gajah dekat dengan singkong mentega.

Gajah bisa panen sejak umur 4—11 bulan pascatanam. Semakin lama, semakin tinggi kandungan pati. “Produsen tapioka menyukai singkong tinggi pati, sementara produsen olahan memilih singkong muda berumur 6—9 bulan lantaran renyah dan gurih. Singkong gajah bisa mengisi kebutuhan keduanya,” kata Ristono. Menurut Kartika, kandungan pati dan cita rasa singkong tidak hanya dipengaruhi masa tanam. “Kondisi lingkungan, kandungan mineral tanah, dan teknik perawatan juga berpengaruh,” kata Kartika.

Jenis unggul dan perawatan tepat menjadikan panen singkong melimpah, seperti yang dialami Andi Bunyamin di Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Andi memberikan pupuk organik berbahan dasar asam humat dan mikrob penambat nitrogen untuk singkong manggu di lahannya. Dengan pengaturan populasi dan jarak tanam, pekebun dan pembibit singkong itu bisa panen 150 ton per ha.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d