571_ 76-2Kebun kelapa pandan wangi di lahan 25 hektare. Semua produksi buah terserap pasar.

Sebanyak 15.000 pohon kelapa itu berbaris rapi. Jarak tanam teratur 5 m x 5 m. Populasi mencapai 400 pohon per hektare. Pohon-pohon anggota keluarga Arecaceae itu menopang puluhan buah. Sosok pohon relatif pendek hanya setinggi 1,5 meter. Itulah panorama di kebun kelapa pandan wangi di atas lahan 25 hektare. Kebun kelapa itu bukan berada di Thailand, tetapi di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kebun kelapa pandan wangi di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kebun kelapa pandan wangi di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kelapa pandan wangi itu mulai berbuah pada umur 2 tahun sejak penanaman. Pemilik kebun, Hartono, menanam kelapa secara bertahap. Penanaman pertama pada 2012 ia membudidayakan 5.000 bibit setinggi 50 sentimeter. Adapun penanaman kedua 3—4 bulan kemudian mencapai 7.500 bibit, sedangkan penamaman terakhir pada 2014 hanya 2.500 bibit. Menurut Hartono tingkat kelulusan hidup bibit mencapai 85%. Ia hanya menyulam 75 bibit.

Pohon genjah
Jumlah pohon yang magori atau berbuah perdana mencapai 40—50%. Artinya dari 15.000 pohon sebanyak 6.500 pohon di antaranya berbuah untuk kali pertama pada Juli 2014 “Dalam setahun kelapa pandan wangi mengeluarkan 12—18 tandan buah. Setiap tandan memiliki 10—15 buah kelapa muda,” ujar Prasetyo, pengelola kebun milik Hartono. Prasetyo memetik buah setelah 6—6,5 bulan sejak muncul mayang atau bunga kelapa.

Bobotnya mencapai 800—1.000 gram per buah. Siang itu seorang pengunjung menikmati air kelapa pandan wangi. “Wah, segar sekali dan wangi,” seru seorang pengunjung asal Kota Bandung itu. Aroma pandan memang kuat tercium dari kelapa muda pandan wangi. Selain harum buah Cocos nucifera itu berdaging buah tebal, mencapai 10 mm. Daging kelapa muda itu pun lembut dan enak.

Baca juga:  Pengembangan SDM Pertanian

Pohonnya pun amat genjah, yakni mulai berbuah pada umur 2 tahun. Dari 15.000 pohon, Hartono memetik 200—350 buah per bulan. Itu hasil panen 15 pohon. Ia menggilir panen sehingga produkti berkesinambungan. Petani itu memasarkan buah kerabat pinang ke Bogor dengan harga Rp40.000—Rp50.000 per buah. Alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu menjual kelapa asal Thailand itu di kebun dan pasar buah di daerah Bogor dan Jakarta.

Selama ini produksi selalu terserap pasar. Selain itu ia juga membuka kebun untuk agrowisata. Pengunjung dapat menikmati kelapa di kebun berjarak 40 km dari Bandung itu. Hartono membuka kebun itu pada 2012. Ia mendatangkan bibit dari Thailand melalui importir Ricky Hadimulya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Thailand mengenal dua jenis pandang wangi, yakni kelapa hijau dan serat merah.

Pohon kelapa pandan wangi hanya 1,5—3 meter yang memudahkan pekebun untuk memanennya.

Pohon kelapa pandan wangi hanya 1,5—3 meter yang memudahkan pekebun untuk memanennya.

Petani menanam kelapa pandan wangi hijau untuk memanen airnya saja, karena daging buah amat tipis. Adapun kelapa pandan wangi serat merah berdaging buah tebal. Petani memanen air dan daging buah. Hartono mengembangkan kelapa pandan wangi serat merah. Ia tertarik mengebunkan kelapa pandan wangi karena genjah, tinggi tanaman relatif pendek sehingga memudahkan panen, rasa, dan aroma yang sangat menarik.

Waduk buatan
Menurut Hartono kelapa pandan wangi tumbuh baik di berbagai wilayah di Indonesia. Kecuali daerah bercurah hujan rendah atau mengalami musim kering panjang lebih dari 3 bulan. Tanaman kerabat pinang itu tumbuh baik di dataran rendah hingga menengah. Cipatat berketinggian 300—450 meter di atas permukaan laut. Saat musim kemarau lalu, Hartono memanfaatkan air dari waduk.

Baca juga:  Ciherang Wangi Pandan

Di kebun itu ia memang membangun waduk buatan untuk pengairan. Waduk berkedalaman 12 m dan seluas 10.000 meter itu mampu menampung 50.000 m³ air. Dengan demikian Hartono tak perlu kekurangan air untuk mengairi tanaman ketika musim kemarau. Waduk itu dilengkapi lapisan membran di bagian dasar. Terdapat bak pengontrol air yang berfungsi mengalirkan resapan air melalui pipa dan disalurkan ke bawah untuk pengairan tanaman buah-buahan di kebun itu.

Pemeliharaan kelapa pandanwangi sangat mudah. Pekebun asal Cipatat itu melakukan penyiraman dengan gembor atau sprinkel, 5 liter per m² setiap pagi dan sore. Untuk mencegah bibit terserang hama dan penyakit, Prasetyo memberikan insektisida atau fungisida dengan konsentrasi 2 cc per liter. Semprotkan pada tanaman sampai basah dan merata menggunakan sprayer. Penyemprotan dilakukan tiga bulan sekali.

Pemupukan
Untuk menjaga kontinuitas produksi, Prasetyo dua kali memupuk setiap tahun. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kandang atau pupuk organik sebanyak 30 kg per pohon setiap 6 bulan sekali. Dengan perawatan intensif ia memanen 5.000—7.000 kelapa pandang wangi per bulan. Panen bisa berlangsung sepanjang tahun karena buah susul-menyusul. Menurut Hartono 65% produksi buah habis di kebun sendiri.

Walaupun buahnya terbilang mini, kelapa pandan wangi itu berisi 350—400 cc air kelapa yang memiliki aroma dan rasa yang disukai konsumen.

Walaupun buahnya terbilang mini, kelapa pandan wangi itu berisi 350—400 cc air kelapa yang memiliki aroma dan rasa yang disukai konsumen.

Para pengunjung kebun bisa memetik buah. Sebab, tandan buah amat pendek kira-kira 1,5—2 meter di atas permukaan tanah. Setelah itu petugas akan mengupaskan buah kelapa sehingga pengunjung bisa menikmati kesegaran air kelapa pandan wangi. Selain itu Hartono juga memanen tua buah kelapa pandan wangi. Kulit buah berubah kecokelatan. Ia memanfaatkan buah tua itu sebagai bibit.

Baca juga:  Cara Pembuatan Cobon Alias Bonsai Kelapa

Prasetyo hanya memetik 50 buah bakal bibit per pohon dalam setahun. Pemilihan bibit sangat penting untuk mendapatkan hasil yang optimum. Kualitas bibit sangat dipengaruhi oleh asal-usul tetuanya. Bibit kelapa pandan wangi di Cipatat itu diambil dari pohon yang terbukti hasil buahnya beraroma wangi, rasa manis, serta bebas dari hama penyakit. Ciri-ciri buah bakal benih yaitu berumur 12 bulan, 4/5 sisi kulit berwarna cokelat, kulit licin, halus, serta terdengar suara ketika diguncang.

Prasetyo meletakkan calon bibit maksimal sebulan di tanah. Lalu ia membenamkan calon bibit ke media dengan posisi 2/3 bagian tertanam. Penyimpanan bibit harus ternaungi dengan sirkulasi udara yang bagus. Tingkat perkecambahan sangat bergantung kandungan daging buah sebagai nutrisi bakal buah. Harga jual Rp250.000 per bibit. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d