Semaikan biji pilihan untuk dapat koleksi murah

Semaikan biji pilihan untuk dapat koleksi murah

Perbanyakan encephalartos dengan biji berpeluang mendapatkan tanaman unik dan lebih murah.

Banyak pehobi berhasrat menanam encephalartos. Sayang, harga tanaman purba itu fantastis, minimal Rp2-juta per bibit berdiameter 4 cm. Semakin besar ukuran bonggol, kian mahal harganya. Setiap penambahan diameter 1 cm harga naik Rp500.000. Tingginya harga encephalartos terkait kelangkaan di habitat. Pemerintah Afrika Selatan, misalnya, melarang pengambilan encephlartos di habitatnya. Itulah sebabnya jenis-jenis baru sangat jarang muncul. Jika jenis baru hadir di pasaran, harganya pun membubung.

Untuk mendapatkan jenis baru, Andy Darmawan menyiasatinya dengan melakukan perbanyakan generatif. Dengan menyemai ribuan biji, ia berharap muncul jenis-jenis unik hasil mutasi genetik. Kolektor kerabat palem-paleman di Jakarta Barat itu mengimpor langsung biji encephalartos dari nurseri di Eropa, Amerika Serikat dan Afrika Selatan.

Pilih biji bernas agar sukses berkecambah

Pilih biji bernas agar sukses berkecambah

Media semai
Andy Darmawan lantas menyimpan sebagian biji untuk peminat dan menyemaikan sebagian. Ia membenamkan biji-biji itu dalam wadah kotak berisi perlit atau batuan mirip zeolit untuk menjaga kelembapan. Andy sesekali menyemprotkan air untuk mempertahankan kelembapan media. Setiap pekan ia mengontrol kondisi biji. Caranya ia menggerakkan wadah secara berputar sehingga media di dalamnya pun bergerak.

Gerakan itu menyebabkan bibit-bibit akan muncul di permukaan media. Bila menemukan biji berakar 0,5—1 cm, ia mengeluarkannya dari wadah semai. Yang belum berakar, tetap di wadah itu hingga memunculkan akar dalam 2—3 bulan. Itulah sebabnya Andy rutin menyemprot media semai itu. Ia lalu memindahkan benih berakar ke wadah pesemaian kedua bermedia yang porous seperti pasir, batu apung, andam, dan perlit.

“Dengan perlit, akar gampang tumbuh,” kata alumnus Teknik Elektro, Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) itu. Adapun pasir malang kurang porous. Pehobi sejak 2004 itu lalu mencampur bahan media tanam itu dengan pasir malang, perbandingannya 1 : 1. Dengan komposisi itu, pertumbuhan encephalartos cukup baik pada musim kemarau dan hujan. Air siraman akan cepat terbuang, tapi di dalamnya tetap lembap karena ada andam dan perlit.

Persemaian pertama ala Andy Darmawan

Persemaian pertama ala Andy Darmawan

Andy mengatakan, “Kalau kering dan kita baru menyiramnya, akarnya akan busuk. Itu yang bikin mati.” Pehobi ayam bangkok itu kemudian menanam biji-biji berakar itu melingkar di pot berdiameter 40 cm. Sebuah pot menampung 100 biji. Ia meletakkan bagian akar di bagian bawah. Setelah 3—4 bulan, muncul daun. Kolektor lebih 70 jenis encephalartos itu memindahkannya saat konsumen berminat.

Baca juga:  Elok Taman Tillandsia

Ia segera memisahkan bibit itu ke sebuah pot berdiameter 20 cm dengan media serupa. Pertumbuhan sudah kuat, bahkan dapat dibeli tanpa media. “Saya hanya menyeleksi 1—2 yang pertumbuhannya unik. Selebihnya saya jual,” ujar mantan manajer sebuah perusahaan kimia di Asia Tenggara itu.

Kotak persemaian diguncang untuk mencari biji berakar

Kotak persemaian diguncang untuk mencari biji berakar

Pilih bibit
Pehobi lain, Waskita menerapkan cara sederhana untuk menyemai benih encephalartos. Pehobi di Malang, Jawa Timur itu merendam biji-biji itu dalam larutan fungisida. Konsentrasi 1 ml per liter air. Perendaman satu menit sudah cukup untuk mematikan cendawan-cendawan yang terbawa biji. Pehobi sejak 2012 itu mengeringanginkan biji selama 3 hari di tempat teduh pada suhu ruangan pada siang hari. Waskita menyemaikan biji-biji di wadah plastik panjang, mirip mainan anak-anak congklak.

Waskita mengisi wadah semai dengan 30% humus daun dan 70% pasir malang. Di setiap lubang tanam ia hanya membenamkan 1 biji. Seluruh permukaan biji seukuran biji nangka setengahnya tertimbun media tanam. Setelah 1—2 bulan, biji-biji itu berkecambah. Semula muncul akar, tunas daun menyusul.

Persemaian kedua, biji-biji yang telah berakar dapat disusun rapat untuk hemat tempat

Persemaian kedua, biji-biji yang telah berakar dapat disusun rapat untuk hemat tempat

Pehobi lain, Fifi Gunarto merendam biji-biji encephalartos selama 30 menit untuk mengetahui kondisinya. Bila mengapung, berarti kondisinya jelek sehingga pehobi itu membuang. Perempuan yang memperoleh biji beragam spesies dari Eropa itu hanya menyemaikan biji yang tenggelam. Biasanya biji terapung berbobot ringan, ketika diguncang, endosperm di dalam ikut bergoyang. Perempuan berkacamata itu menyiapkan wadah plastik lalu mengisikan media sekam.

“Saya kadang hanya menggunakan gelas air mineral dan mengalasi kapas di bawahnya lalu menyemprotkan air,” ujar pemilik Nurseri Vinko di Bendulmerisi, Surabaya, itu. Fifi kemudian menyungkup wadah itu dengan plastik agar kelembapan dan suhu tinggi di dalam sungkup stabil. Dalam 1—4 pekan, biji-biji itu mulai merekah dan memunculkan akar, munculnya daun 4 pekan kemudian.

Andy Darmawan, dari ribuan biji encephalartos yang disemai hanya satu atau 2 yang unik

Andy Darmawan, dari ribuan biji encephalartos yang disemai hanya satu atau 2 yang unik

Setelah daun mekar, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, itu memindahkan bibit kecil di pot tanam dengan media tanam sekam 1 bagian, perlit 2 bagian, dan pasir malang 2 bagian. Dengan media porous, penyiraman setiap sore pun tidak bermasalah. Tanaman anggota famili Zamiaceae itu memunculkan 2 daun pada tiga bulan pascasemai.

Baca juga:  Kampium Daring

Kendala menyemai biji encephalartos berupa serangan cendawan perusak biji. Pehobi dapat memantau keberadaan penyakit itu bila rutin mengontrol setiap pagi. Gejala serangan adanya warna kehitaman pada biji. Begitu muncul gejala, ambil biji, lalu lap menggunakan tisu. Lalu manfaatkan kapas semai sebagai media tanam. Dengan metode sederhana itu, tingkat keberhasilan menyemai biji palem roti alias encephalartos mencapai 70%. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d