Pala salah satu produk perkebunan andalan Maluku

Pala salah satu produk perkebunan andalan Maluku

Pengembangan pala organik bakal menyejahterakan pekebun.

Hanya dengan menengok peranti elektronik, pekebun pala di Maluku bisa mengecek kebun. Sebab, telepon pintar mereka mempunyai aplikasi sistem posisi global alias GPS khusus pertanian. Aplikasi itu memberikan informasi cuaca, waktu, dan lokasi pemupukan, serta batas kebun. Efeknya pekebun bisa memupuk tepat jumlah dan tepat waktu, mampu mengantisipasi pergantian musim, serta mengetahui waktu tepat untuk panen. Manfaat lain, aplikasi itu meningkatkan pengetahuan petani akan faktor dan efek pertanian.

Teknologi itu penting lantaran para pekebun di Maluku diajak membudidayakan pala secara organik. Inisiator budidaya organik itu adalah PT Ollop, eksportir pala di di Hila, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, yang meraih sertifikat organik dari lembaga penilai Rainforest Alliance pada Desember 2013. Pemanfaatan teknologi mutakhir salah satu upaya PT Ollop untuk meningkatkan jumlah dan mutu pala ekspor. Eksportir yang bermula dari industri rumahan itu menjalin kemitraan untuk memenuhi permintaan pembeli mancanegara.

 

Penyortiran pascapanen kunci memperoleh produk kelas ekspor

Penyortiran pascapanen kunci memperoleh produk kelas ekspor

Perluas pasar

PT Ollop mengekspor 890 ton pala ke Belanda pada 2013. Perusahaan itu berencana memperluas pasar ke Amerika Serikat pada 2014. Untuk itu Ollop memperluas lahan petani yang menjalin kemitraan menjadi 1.141 ha di 3 desa: Hila dan Kaitetu di Pulau Ambon serta Luhu di Pulau Seram. Kuncinya calon pekebun harus mau membudidayakan pala secara organik. PT Ollop juga menggagas program dukungan kemitraan hortikultura alias HPSP (horticulture partnership and support program).

HPSP merupakan gabungan organisasi kerja sama pembangunan Belanda, yaitu Cordaid, Agriterra, Yayasan Rabobank, dan Kementerian Luar Negeri Belanda. Konsepnya menyokong peningkatan kesadaran masyarakat untuk membudidayakan pala organik.

Artinya, pala organik laku lebih mahal di pasar sehingga pendapatan pekebun yang melakukan budidaya organik bertambah. Akibatnya kesejahteraan pekebun meningkat sehingga taraf hidup mereka terangkat. Itu menjadi magnet yang menarik pekebun lain mengikuti metode budidaya organik. Semakin banyak pekebun organik meningkatkan pasokan pala organik sehingga permintaan ekspor terpenuhi.

Pala organik digemari pembeli mancanegara

Pala organik digemari pembeli mancanegara

Namun, mengubah pola pikir pekebun tidak mudah. Apalagi pala komoditas yang dibudidayakan sejak masa kolonial. Contoh, akibat terdesak kebutuhan pekebun panen ketika buah belum matang optimal. Indikasinya bagian bawah belum pecah atau kurang dari 7—8 bulan sejak bunga mekar. Buah akan terbelah dan dari celah itu tampak fuli yang memerah. Di beberapa sentra masih terjadi sistem ijon yang merugikan petani. Pemasaran pala rakyat di Maluku belum tertata karena belum ada lembaga yang menangani secara khusus. Petani bebas menjual hasil pala ke pedagang pengumpul di desa atau di kota kecamatan.

Baca juga:  Guppy Albino Kampiun

Pedagang pengumpul kecamatan menjual di kabupaten atau di kota provinsi. Sistem pemasaran seperti itu, menyebabkan harga pala di tingkat petani menjadi rendah. Untuk itu program kemitraan memotong rantai tataniaga sehingga menguntungkan petani. Program kemitraan memberikan berbagai pelatihan kepada pekebun dan pekerja lapangan PT Ollop. Pelatihan itu antara lain teknik budidaya organik, manajemen dan organisasi, keuangan mikro, sampai pelatihan teknologi mutakhir.

Pendampingan

Usai pelatihan, pekebun memperoleh bibit tanaman pala untuk ditanam secara organik. Saat pohon mulai berproduksi, koperasi siap menampung biji dan bunga pala lalu menyalurkan kepada eksportir, yaitu PT Ollop. Di gudang eksportir, pekerja menyortir dan mempersiapkan produk agar kualitasnya sesuai permintaan pembeli mancanegara, yaitu Verstegen Spices and Sauces BV, importir di Belanda. Abdul Gani Ollong, pengelola PT Ollop, mensyaratkan standar mutu pala ekspor berbiji utuh, tidak pecah, tanpa lubang bekas gerekan serangga, berkadar air maksimal 11%, dan kulit biji mengkilap.

Verstegen sohor sebagai pemasok utama rempah dan bahan alam berkualitas di Eropa sejak abad ke-20. Perusahaan itu berpusat di Belanda dan mempunyai cabang di Belgia dan Inggris. Namun, sebagai produsen, pekebun pala di Maluku pun mesti paham cara menghasilkan produk berkualitas yang dimaui konsumen. Harap mafhum, Indonesia bukan satu-satunya produsen pala di dunia. Ada Guatemala dan India yang menduduki peringkat pertama dan kedua produsen pala terbesar dunia.

Pala hasil kemitraan dengan para pekebun

Pala hasil kemitraan dengan para pekebun

Selepas pelatihan, pekebun tidak dilepas begitu saja. Pelatih program HPSP mendampingi pekebun dan pekerja lapangan untuk memastikan mereka menguasai dan mampu menerapkan hasil pelatihan. Proses pendampingan juga membimbing pekebun untuk mempraktikkan hasil pelatihan manajemen organisasi, salah satunya dengan membentuk koperasi.

Baca juga:  Cabai Rawit: Produktif dan Superpedas

Dengan koperasi, pekebun tidak perlu pening ketika harga berfluktuasi. Sebelum menjalin kerja sama, koperasi melakukan negosiasi harga dengan pembeli untuk memperoleh jaminan pasar dan harga pembelian. Setelah stabil, koperasi bakal meluaskan cakupannya ke keuangan mikro. Dengan demikian perkebunan membawa manfaat tidak hanya bagi pekebun, tetapi juga seluruh masyarakat Maluku.

Efek panjang

Peningkatan jumlah dan mutu mutlak diperlukan lantaran pala salah satu andalan Provinsi Maluku. Data Badan Pusat Statistik pada 2006 menunjukkan, luas tanaman pala di Maluku mencapai 9.948 ha. Lahan seluas itu diusahakan 15.056 kepala keluarga (KK) dengan produksi 1998 ton. Komposisinya, 2.771 ha (27,85%) tanaman belum menghasilkan (TBM); 4.451 ha (44,74%) tanaman menghasilkan (TM); dan 2.726 ha (27,40%) tanaman tua/rusak (TTR).

Meski luas lahan pala cenderung meningkat setiap tahun, perhitungan rata-rata luas lahan pala yang dimiliki oleh seorang petani di Maluku hanya 0,68 ha dengan jumlah tanaman pala sebanyak 84 pohon. Bahkan bila dikaji lebih jauh, seorang petani pala hanya memiliki luas lahan pala 0,3 ha dengan jumlah tanaman menghasilkan (TM) 37 pohon. Itu sebabnya tujuan awal kemitraan adalah meningkatkan jumlah dan mutu pala Maluku.

Namun, setelah tujuan utama tercapai, efeknya bakal panjang. Peluang kerja di koperasi, gudang, dan pemrosesan bakal terbuka. Kemakmuran meningkat, pembangunan infrastruktur jalan dan bangunan pun terpacu. Provinsi Maluku bakal bersinar menjadi mutiara Indonesia bagian timur. (Ir Achmad Sarjana MSi dan Bibit Bakoh, peneliti di Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Ambon, Maluku)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d