Permintaan lele meningkat 20% setiap tahun

Permintaan lele meningkat 20% setiap tahun

Lele tumbuh optimal bila pakan berkadar protein minimal 32%.

Kesibukan Toto Warnoto hampir tak bergeser setiap hari. Peternak di Desa Karanganyar, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat itu mengawasi panen dan sibuk menimbang lele hasil panen yang mencapai 15 ton. Itu volume panen rata-rata setiap hari. Toto menjual hasil panen ke pasar-pasar tradisional di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Pria 32 tahun itu mesti mengirim lele setiap hari. “Jika tidak, para pelanggan akan protes,” ujar Toto. Harap mafhum, konsumen menggemari lele produksi Indramayu karena berdaging gurih. Itulah sebabnya permintaan lele yang mengalir ke Toto meningkat 20% setiap tahun. Untuk menjaga kepercayaan para pelanggan, Toto mengawasi ketat proses budidaya agar menghasilkan lele berkualitas.

Toto Warnoto membudidayakan lele sejak umur 12 tahun

Toto Warnoto membudidayakan lele sejak umur 12 tahun

Pakan tepat
Toto menargetkan lele harus siap panen pada 90 hari pascatebar burayak berukuran 1—3 cm. Itulah sebabnya pemberian pakan harus tepat. “Pemberian pakan yang salah dapat menyebabkan waktu panen mundur,” ujarnya. Kesalahan memilih pakan juga berakibat pada kualitas lele. Ciri lele berkualitas baik antara lain pigmen warna kulit yang gelap. Pasar menolak lele yang terlihat pudar atau mendekati albino.

“Salah satu penyebabnya karena pakan yang tidak berkualitas,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai guru olahraga itu. Citarasa daging juga menjadi indikator lele berkualitas. Namun, citarasa daging baru bisa ditentukan setelah konsumen mengonsumsi lele. Jika citarasa daging bagus biasanya para pelanggan akan membeli ulang dan menambah jumlah pembelian.

Ciri lain yang tak kalah penting adalah penyusutan bobot dan ketahanan lele selama pengangkutan. Para pelanggan biasanya menimbang ulang bobot lele saat menerima ikan. Mereka juga tidak memasukan dalam transaksi lele yang mati. Oleh sebab itu penyusutan bobot dan kematian selama pengangkutan menjadi risiko peternak. “Pemberian pakan yang tepat dapat mengurangi penyusutan dan kematian di perjalanan,” kata ayah 4 anak itu.

Baca juga:  Cabai Segar 14 Hari

Itulah sebabnya Toto tidak asal dalam memilih pakan lele. “Saat ini pakan yang saya gunakan 100% pelet pabrik,” kata pemilik peternakan lele Langlangbuana itu. Pemberian pakan pabrik memang membuat Toto merogoh kocek lebih dalam. “Sebanyak 70—80% biaya produksi lele dikeluarkan untuk membeli pakan,” kata pria yang mengenal beternak lele sejak berusia 12 tahun itu. Porsi biaya besar itu karena harga pelet pabrikan mahal dan cenderung meningkat.

Handy Sudjatmiko dan Iis Sutisna (kanan) dari PT CMK sangat selektif dalam pemilihan bahan baku pelet lele

Handy Sudjatmiko dan Iis Sutisna (kanan) dari PT CMK sangat selektif dalam pemilihan bahan baku pelet lele

Nafsu makan
Meski harga mahal, Toto tetap memilih pakan pabrik. Ia pernah mencoba mengurangi jumlah pelet dan memberi pakan tambahan antara lain ikan rucah dan limbah restoran untuk menghemat biaya pakan. Namun, strategi itu membuat pertumbuhan lele tidak sempurna akibat kekurangan nutrisi. “Kepala lele menjadi besar, tapi tubuhnya kecil. Lele seperti ini kurang disukai pasar,” ujar Toto. Sejak itu ia berhenti memberi pakan kombinasi pelet dengan pakan alami.

Menurut Handy Sudjatmiko dari PT Citra Mandiri Kencana (CMK), produsen pakan ikan, lele tergolong hewan yang sensitif dalam hal perubahan pakan. “Jika komposisi atau bahan bakunya diubah, nafsu makan lele akan berkurang,” ujar Handy. Itulah sebabnya PT CMK selektif dalam memilih bahan baku pelet sehingga harga pelet lele paling mahal jika dibandingkan dengan pelet untuk ikan konsumsi lain.

Toto menuturkan, “Jika teknik budidaya sudah benar, cuaca dan air juga stabil, tapi terjadi penurunan nafsu makan, itu berarti ada kesalahan pada kualitas pakan,” ujar peternak yang kini bermitra dengan 70 peternak itu. Oleh karena itu Toto juga selektif memilih merek pelet di pasaran.

Menurut peneliti lele di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi, Jawa Barat, Ade Sunarma MSi, idealnya pakan lele mengandung 30% protein, 5% lemak, 10—20% karbohidrat, 0,25—0,5 vitamin, dan maksimal 6% serat kasar. “Para peternak biasanya memiliki resep pakan masing-masing,” ujar Ade. Itu karena kebutuhan nutrisi lele juga sangat bergantung pada teknik budidaya.

Baca juga:  Budidaya Lele Padat Tebar, Tingkatkan Produksi 2 Kali Lipat

Dari segi jenis kolam misalnya, kebutuhan pakan lele di kolam tanah berbeda dengan lele yang dibudidaya di kolam terpal. Di kolam tanah, lele mendapat tambahan asupan pakan alami dari tanah sehingga bisa mereduksi kebutuhan pelet. “Ketersediaan pakan alami bergantung dari jenis tanah dan pengolahan tanah yang dilakukan sebelum budidaya,” kata Ade.

Kualitas pelet sangat menentukan nilai FCR

Kualitas pelet sangat menentukan nilai FCR

Protein
Menurut Ade protein berlebihan berakibat buruk. “Selain tidak ekonomis, protein berlebih juga menurunkan kualitas air sehingga memicu penyakit dan kematian lele,” ujar pelopor lele sangkuriang itu. Toto mengatakan pertumbuhan lele optimal bila memberikan pakan sesuai fase pertumbuhan. Pada fase benih, ia memberikan pelet berkadar protein 46%. Pada umur 3 pekan pascatebar, Toto memberikan pakan berkadar protein 32%.

Dengan kadar protein sebanyak itu perternak sejatinya dapat menghemat jumlah pakan hingga 5—10%. Jika peternak memberikan pakan berkadar protein 32%, rasio konversi pakan atau feed convertion ratio (FCR) tidak lebih dari 1,1. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg lele membutuhkan 1,1 kg pakan. Jika pakan berkadar protein kurang dari 30%, maka nilai FCR lebih dari 1,2.

Harga pelet berprotein tinggi memang lebih mahal. Namun, Toto masih memperoleh laba relatif tinggi. Berdasarkan hitung-hitungan Toto, penggunaan pakan berprotein tinggi maka biaya produksi tetap lebih rendah. “Biaya produksi lele Rp12.000 per kg,” ujar Toto. Dengan harga jual Rp15.500 per kg, laba Toto Rp3.500 per kg. Dengan kapasitas produksi 15 ton per hari, maka total laba Toto Rp52,5-juta per hari.

Itulah sebabnya Toto tetap memilih memberikan pakan pelet pabrikan. Keuntungan lain, “Dari segi kualitas terjamin dan takarannya mudah dikontrol,” ujarnya. Toto juga tak perlu khawatir lelenya kelaparan karena kekurangan pakan. Pakan pabrikan selalu terjaga ketersediaannya. Pakan alami seperti limbah dan ikan rucah ketersediaannya tidak menentu. Selain itu, pelet pabrikan juga bisa disimpan di gudang sebagai persediaan jika ada keterlambatan dalam pengiriman. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d