Selalu ada jalan keluar bagi yang ingin berusaha. Pepatah lama tersebut nampaknya cocok dialamatkan pada Iwan Maryanto, seorang petani padi di Dusun Watu, Argomulyo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Pasalnya belum lama ini Iwan berhasil mengatasi hama tikus yang menyerang sawahnya hanya dengan bermodal kawat besi. Semua itu ia lakukan dengan memberdayakan sekitar 10 petani lain di dusunnya.

Semua ini bermula dari populasi tikus sawah yang berkembang cukup pesat di Dusun Watu tempat Iwan bertani. Tikus sawah itu kemudian berkembang biak cukup cepat sehingga mengakibatkan gangguan pada para petani. Serangan hama tikus pun tidak terelakkan.

Iwan dan kawan-kawannya sesama petani tak jarang merugi cukup besar. Selain karena kerap gagal panen, hama tikus juga mengakibatkan kualitas padi menjadi menurun drastis.

Menghadapi persoalan seperti itu, Iwan tidak mudah menyerah. Ia membuktikan kreasi dan inovasinya sebagai petani teladan. Tak perlu waktu lama bagi ia untuk menemukan solusi.

Ia berinisiatif membuat jebakan tikus sendiri yang terbuat dari kawat besi yang sering disebut ‘Bubu’.

Alat jebakan tikus tersebut terbukti mampu mengurung lebih dari 30 ekor tikus dalam satu malam. Caranya pun mudah sederhana.

Iwan yang berusia 41 tahun tersebut hanya membuatnya dari kawat besi berukuran 30cm x 45 cm dengan tinggi 20 cm. Iwan kemudian meletakkan satu alat tersebut di setiap 100 meter lahan sawahnya.

Kerja ‘Bubu’ juga terbilang tidak rumit. Setiap jebakan yang ada diberi umpan seperti ikan untuk mengundang tikus masuk. Ketika sudah masuk, tikus pun tidak bisa lagi keluar.

Nantinya, setelah semua tikus-tikus tertangkap, Iwan biasanya membawanya ke peternak burung hantu untuk dijadikan pakan dengan imbalannya yang cukup besar.

Baca juga:  Inovasi Pupuk Cair dari Bangkai Tikus ala Annas Tika

“Satu jebakan yang berisi 30 tikus biasanya dihargai Rp. 45.000. Nah, uang hasil penjualan itu dikumpulkan untuk membuat jebakan yang baru,” tutur Iwan.

Iwan menyatakan total areal sawahnya sekitar 29 hektar. Dengan luas seperti itu, jumlah ‘Bubu’ yang dibutuhkan mencapai ratusan buah. Hingga saat ini Iwan baru bisa membuat 20 ‘Bubu’ untuk lima blok sawah di arealnya.

Ke depannya, tentu saja Iwan ingin ‘Bubu’ bisa diproduksi secara massal. Jika berhasil diproduksi besar-besaran, banderolnya bisa mencapai Rp. 50 ribu per unit. Suatu jumlah yang cukup menguntungkan bagi seorang petani seperti Iwan.

Namun, meski belum bisa diproduksi massal dalam waktu dekat, sebenarnya Iwan telah cukup untung. Hasil produksi panen padinya kini tidak lagi terganggu serangan hama tikus. Kini sawahnya bisa panen tiga kali dalam setahun dengan hasil yang lebih maksimal.

Iwan sendiri merupakan Ketua Kelompok Tani (Poktan) Subur Makmur. Ia bersama-sama petani lainnya terus mengembangkan cara dan inovasi supaya ‘Bubu’ dapat terus berkembang hingga bisa diproduksi dalam jumlah besar.

Semua itu tentunya bukan hanya untuk mementingkan diri sendiri, tapi juga membantu petani lain yang sering dilanda hama tikus di sekitar Bantul, Yogyakarta.

Hingga akhirnya diharapkan hasil panen para petani dapat terus meningkat kualitasnya dengan mengagumkan.

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m