Otak Udang Istimewa 1
Daging buah DG-11 berwarna merah lebih muda. Setiap juring berisi 1—2 pongge sehingga daging buah tebal

Daging buah DG-11 berwarna merah lebih muda. Setiap juring berisi 1—2 pongge sehingga daging buah tebal

Buah graveolens istimewa: berdaging buah tebal, lezat,dan beraroma pisang.

Berkali-kali dalam belasan tahun terakhir menembus belantara Kalimantan, Lutfi Bansir belum pernah menemukan durian anggang berdaging tebal bercitarasa istimewa. Lazimnya Durio graveolens itu berdaging buah tipis dan hambar. Siapa sangka di Kelantan, Malaysia, ada 40 klon graveolens terbaik di dunia: daging buah tebal dan lezat. Graveolens termasuk satu di antara 3 kerabat durian yang berwarna. Daging buahnya berwarna merah atau jingga sehingga memikat.

Dua kerabat durian lainnya, Durio dulcis yang berkulit merah dan Durio kutejensis berdaging buah kuning. Di alam graveolens matang kulitnya terbuka—memamerkan daging buah—meskipun masih tergantung di dahan pohon. Warna mencolok itu memikat burung anggang untuk menyantap sehingga masyarakat menyebut graveolens itu durian anggang.

Warna merah daging buah klon DG-4 paling pekat, paling tebal, dan beraroma pisang

Warna merah daging buah klon DG-4 paling pekat, paling tebal, dan beraroma pisang

Aroma pisang
Rangkong—nama lain burung anggang—memang menyukainya. Namun, penduduk di sekitar hutan jarang menyantap graveolens. Musababnya daging buah tipis, hambar, dan aroma agak langu. “Ia sesekali muncul di pasar tradisional sebagai sayuran. Penduduk setempat mengolahnya menjadi tumis dengan udang galah,” kata Lutfi. Itulah sebabnya masyarakat menganggap graveolens sebagai buah inferior yang tak berharga.

Nasibnya sama dengan Durio dulcis yang juga tersia-sia. Kini keduanya nyaris punah ditebang bersama pohon kayu lainnya. “Mereka jarang ditanam karena buah kurang disukai. Paling lembaga penelitian atau kolektor saja,” kata Mawardi SP MAgr, peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Kalimantan Selatan. Di tanah air yang mengoleksi graveolens sumber induk di antaranya penyilang buah, Gregori Garnadi Hambali, di Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Baca juga:  Laba New Kristal

Di Malaysia dan Brunei Darussalam nasib graveolens pun mirip. Durian otak udang galah atau tabelak—masing-masing sebutan graveolens di Brunei dan Sabah—bukan tanaman komersial seperti durian Durio zibethinus yang dikembangkan besar-besaran oleh The Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI). Bahkan menurut Gregori Hambali, graveolens—tanaman endemik di Kalimantan—keragamannya lebih tinggi di wilayah yang termasuk Indonesia dibanding wilayah Malaysia dan Brunei Darussalam.

Klon DG-2 berdaging buah merah tetapi agak tipis

Klon DG-2 berdaging buah merah tetapi agak tipis

Namun, siapa sangka 2 praktikus durian Indonesia, Lutfi Bansir dan Adi Gunadi, menemukan graveolens di Kelantan, semenanjung Malaysia, yang terpisah dari daratan Borneo. “Ini mirip durian merah yang ditemukan di ujung timur Pulau Jawa atau durian pelangi di Papua Barat,” kata Lutfi. Bedanya bila durian merah dan durian pelangi merupakan silangan alami graveolens dengan zibethinus, maka durian merah di kebun milik Aziz Zakaria MSi PhD di Kelantan masih murni graveolens.

Menurut Lutfi, kualitas buah graviolens di kebun Aziz mendekati zibethinus sehingga dapat dikonsumsi segar. “Daging buah tebal, manis berlemak, serta beraroma pisang,” kata Lutfi. Musababnya, graviolens itu hasil seleksi Aziz sejak awal 1990-an. Ketika itu anggota staf pengajar di Fakultas Teknik, Universitas Putra Malaysia, itu menjadi konsultan irigasi pertanian bagi Pemerintah Brunei Darussalam yang tengah mengembangkan pertanian padi.

Daging buah jingga dan tebal ciri khas DG-5

Daging buah jingga dan tebal ciri khas DG-5

Hasil seleksi
“Saya melihat durian berwarna yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya tertarik untuk menyeleksinya,” kata Aziz. Selama 5 tahun bolak-balik Malaysia—Brunei Darussalam, Aziz mengamati keragaman graveolens yang banyak tumbuh di negara penghasil minyak itu. Menurut Aziz, semula graveolens yang ditemuinya berdaging buah tipis, hambar, dan tanpa aroma durian. Namun, ia berkali-kali menemukan graveolens berdaging buah tebal, rasa agak manis, dan beraroma mirip durian di lapak buah dan di pohon langsung.

Baca juga:  Aroma Wangi Vanda Unik

“Setelah yakin beberapa graveolens memiliki kualitas buah yang bagus, seleksi mulai dilakukan pada 1995 hingga 2010,” kata doktor Irigasi Pertanian alumnus Utah State University, Amerika Serikat, itu. Secara bertahap Aziz memilih buah graveolens terbaik, lalu menyeleksi biji yang bentuknya utuh. Total jenderal ia menanam 40 graveolens hasil seleski di lahan 3 ha. Ia juga menanam spesies durian lain seperti durian Durio zibethinus, durian daun Durio lowianus, karantungan Durio oxleyanus, dan durian kura-kura Durio testudinarum asal Brunei.

Aziz Zakaria MSi PhD (tengah) koleksi graveolens asal Brunei sejak 1995

Aziz Zakaria MSi PhD (tengah) koleksi graveolens asal Brunei sejak 1995

Saat ini 15 dari 40 graviolens itu sudah berbuah. Ia pun memberi nama klon gravelones secara berurutan : DG-1, DG-2, hingga DG-40 sebagai tanda jenis durian. “Karena ditanam dari biji kualitas daging buah beragam. Warna daging buah dari jingga, merah muda, hingga merah pekat. Pun aroma buah bervariasi,” kata master Ilmu Pertanian dari University of Florida, Amerika Serikat, itu. Secara umum, menurut Lutfi, ketebalan daging buah graveolens di kebun Aziz di atas rata-rata dengan kisaran 1—2 cm.

Menurut Aziz, “Dari kualitas buah urutannya DG-4, DG-11, DG-2, dan DG-5.” Warna merah daging buah DG-4 paling pekat, pongge paling tebal, dan aroma pisang muncul sejak buah terbelah. Sementara DG-11 berdaging buah lebih muda, tebal karena setiap juring terdiri atas 1—2 pongge. Graveolens DG-2 berdaging buah merah pekat, lebih tipis. Adapun DG-5 yang jingga itu berdaging buah tebal.

Aziz juga menanam durian musang king yang sohor sebagai durian terbaik Malaysia. “Peluang terjadi persilangan alami antara musang king dan graveolens terbuka lebar. Diharapkan diperoleh turunan musangking yang lebih baik,” kata Aziz. Pantas setiap musim panen musang king, Aziz tak serta-merta langsung menjual buahnya yang memang laku keras. Ia selalu mengamati buah di setiap pohon untuk mendeteksi terjadinya kemungkinan silangan alami.(Destika Cahyana SP, peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian RI)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *