Panorama Danau Sanonggoang seluas 115 ha di Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, bagian dari bentang alam Mbeliling yang menjadi habitat ratusan jenis burung

Panorama Danau Sanonggoang seluas 115 ha di Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, bagian dari bentang alam Mbeliling yang menjadi habitat ratusan jenis burung

Embun yang singggah semalam belum sirna di hutan Puarlolo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Titik-titik air di dedaunan itu membuat celana dan sepatu basah ketika tim eksplorasi memasuki hutan Puarlolo pada pukul 06.50. Samuel Rabenak, petugas lapang Burung Indonesia, berjalan terdepan. Tiburtius Hani, team leader Burung Indonesia, dan Agavitus Ampur juga lembaga yang sama berjalan di belakangnya. Sebuah binokular menggantung di leher setiap peserta berjumlah total 5 orang.

Tim berjalan perlahan melewati jalan setapak. Sesekali terdengar kicauan burung. Dua puluh menit berlalu, terdengar suara melengking dan keras ciiwiit… ciiwiit…. Samuel Rabenak hafal betul, itu suara burung opior jambul Lophozosterops javanicus. Ia cepat menelusuri asal-muasal suara. Burung yang aktif itu hinggap di cabang pohon sau, kira-kira 8 meter di atas permukaan tanah. Sosoknya agak terhalang dedaunan. “Arahkan binokular ke kanan,” kata Samuel memberi komando setengah berbisik agar tak menimbulkan kegaduhan.

Dari balik lensa binokular tampak sosok burung kecil berperut kuning, di kepala terdapat jambul sehingga masyarakat menyebutnya opior jambul. Lima belas menit kemudian, burung pemakan serangga dan daging buah yang telah terbelah itu terbang menjauh. Tim kembali berjalan memasuki hutan lebat. Tak lama berselang dari kejauhan terdengar suara kor… kor… berulang-ulang. Itulah sebabnya masyarakat Manggarai Barat menyebutnya burung kor alias cekakak tunggir putih Caridodax fulgidus.

Edisi Juni 2014.pdfSamuel mengatakan cekakak tunggir putih lazim menyantap katak atau ikan di tepian sungai. Di hutan Puarlolo (puar berarti hutan, lolo bermakna tajam) memang melintas sebuah sungai kecil. Dengan binokular masing-masing, tim “memburu” keberadaan cekakak tunggir putih. Samuellah yang pertama menemukan keberadaan burung itu bertengger di sebuah cabang pohon. Pagi itu tim juga mendengar kicauan nuri pipi merah Geoffroyus geoffroyi. Tim terus mengejar asal suara dan berhasil mendeteksi keberadaannya. Sayangnya, pergerakan burung berpipi merah itu amat cepat sehingga sulit diikuti.

Kami menyisir tepi hutan untuk melihat elang flores. “Biasanya jam 10 elang melintas,” kata Samuel. Namun, hingga 40 menit menunggu, elang tak kunjung datang. Yang muncul justru bubut ilalang Centropus bengalensis yang tiba-tiba terbang rendah. Suara bubut khas, kodot… kodot, pada saat bersamaan ekor mengembang dan terdengar kum… kum… dari analnya. Itulah sebabnya Masyarakat Manggarai Barat menjadikan kebiasaan itu sebagai amsal “jangan seperti burung bubut”alias tidak konsisten.
Pagi itu juga terdengar kicauan burung lea, srigunting, dan tesia timur alias cikringkas. Jeda suara antarburung itu amat pendek sehingga seperti orkestra di Puarlolo. Tiburtius mengatakan bahwa Puarlolo menjadi pusat pengamatan burung sejak 2008. Sebagai pusat pengamatan burung, Puarlolo relatif dekat dan mudah dicapai karena persis di tepi jalan trans Flores. Kami hanya perlu sejam untuk mencapai lokasi itu dari lembah Werang, tempat kami menginap.

Tiburtius Hani, team leader Burung Indonesia

Tiburtius Hani, team leader Burung Indonesia

Pengamatan burung sejatinya telah dimulai ketika tim berangkat dari Werang. Hampir di sepanjang jalan beragam jenis burung seperti kepodang kuduk hitam, srigunting, seriwang, dan tekukur hinggap di cabang-cabang yang rendah. “Burung memiliki learning behaviour yang bisa diwariskan dari induk ke anak,” kata ahli burung dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Ani Mardiastuti MSc. Bahkan, mereka turun ke jalanan dan baru terbang ketika ban mobil sudah begitu dekat dengan burung-burung itu. Puarlolo bagian dari bentang alam Mbeliling seluas total 30.000 ha yang masih terjaga.

Menurut Tiburtius Hani kawasan itu amat penting karena merupakan sumber mata air bagi penduduk di kawasan hutan. Bahkan, masyarakat Labuanbajo, Manggarai Timur, pun amat menggantungkan pasokan air dari kawasan hutan Mbeliling. Selain itu bentang alam Mbeliling juga menjadi habitat 200-an jenis burung. Empat jenis di antaranya endemik, yakni kehicap flores Monarcha sacerdatum, gagak flores Corvus florensis, celepuk Otus alfredi, serindit Lorivulus flosculus. “Di tempat lain di Flores, keempat burung itu jarang ditemukan di satu lokasi yang sama. Misalnya, di Ruteng, Manggarai Tengah, mungkin ada gagak flores, tapi 3 jenis yang lain tak ditemukan,” kata Tiburtius.

Elang flores burung endemik di Pulau Flores

Elang flores burung endemik di Pulau Flores

Padahal, semula truk-truk mengangkut kayu dari dalam hutan Puarlolo. Hingga 2007 sebagian anggota masyarakat masih memanfaatkan pohon-pohon di hutan untuk beragam keperluan, seperti jembatan. Selain itu Samuel pernah menemukan sebuah jaring sepanjang 200 meter untuk menangkap burung yang biasa bermain di tanah seperti anis dan ayam hutan. Penebangan pohon di Puarlolo jelas mengancam kelestarian beragam satwa dan fauna.

Baca juga:  Pesan Ketupat

Itulah sebabnya Burung Indonesia melobi pengambil keputusan untuk menghentikan aktivitas penebangan itu. Di bekas jalan truk itu kini telah tumbuh beragam spesies pohon, liana, dan perdu sehingga hanya menyisakan jalan setapak. Burung Indonesia memberdayakan masyarakat di tepi hutan dengan aktivitas pertanian dan koperasi. “Cara baik mengonservasi burung yaitu menjaga kelestarian habitat satwa itu. Burung hidup di hutan, jika hutan rusak burung juga tidak ada,” kata Ani Mardiastuti.

Paok la’us Pitta elegans menghuni hutan primer dan sekunder

Paok la’us Pitta elegans menghuni hutan primer dan sekunder

Lembaga itu juga mendorong masyarakat menjaga hutan. “Program laat puar ada di 27 desa di kawasan Mbeliling,” kata Tiburtius. Laat puar bukan sekadar melihat hutan (dalam bahasa Manggarai laat berarti melihat, puar berarti hutan). Namun, warga juga membersihkan mata air di dalam hutan dan menanami beragam spesies di sektar mata air. Dalam tujuh tahun terakhir tak ada lagi penebangan dan penjaringan burung. Hendrikus Habur yang semula menjaring burung pun kini menjadi aktivis lingkungan (baca: “Ke Hutan Tanpa Bedil” halaman 88—89).

Prof Dr Ir Ani Mardiastuti MSc, ahi burung dari Institut Pertanian Bogor

Prof Dr Ir Ani Mardiastuti MSc, ahi burung dari Institut Pertanian Bogor

Menurut Ani Mardiastuti MSc, burung sebagai pemencar biji-bijian yang mempengaruhi eksistem. Alumnus Michigan State University itu mengatakan, burung juga berperan sebagai indikator lingkungan bersih. “Semakin banyak jenis burung berdasar cara makan, berarti kualitas lingkungan itu masih bagus,” ucap Ani. Kepala Divisi Ekologi Satwa Liar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Institut Pertanian Bogor itu mencontohkan raja udang. Jika ada burung itu di suatu ekosistem, bisa jadi lingkungan itu masih bersih.

Sebab raja udang hanya mengonsumsi ikan dari sumber air bersih. Kemudian jika ditemui rangkong, berarti kualitas hutan itu masih bagus. Kehadiran burung juga bisa menunjukkan tipe habitat tertentu. Jika kita menemui banyak kuntul, berarti lingkungan itu berupa pantai. Kunjungan turis asing untuk mengamati burung di Mbeliling termasuk manfaat melakukan konservasi burung. Cara baik mengonservasi burung yaitu menjaga kelestarian habitat satwa itu. Burung hidup di hutan, jika hutan rusak burung juga tidak ada.

 Seriwang asia Terpsiphone paradisi betina (atas) dan jantan (bawah) adaptif hingga ketinggian 900 meter di atas permukaan laut

Seriwang asia Terpsiphone paradisi betina (atas) dan jantan (bawah) adaptif hingga ketinggian 900 meter di atas permukaan laut

Sejatinya bagi masyarakat Manggarai Barat burung bagian tak terpisahkan dalam kehidupan. Mereka memaknai beragam burung dalam memberi pesan atau tanda tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hendrikus Habur dari Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, burung caker atau king fisher yang berkicau penanda musim tanam telah tiba. Desa Waesano di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut persis di tepi hutan Sesok seluas 4.000 ha. Hutan itu bagian dari bentang alam Mbeliling. Setidaknya 84 jenis burung menghuni kawasan itu.

Hendrikus mengatakan, jika burung caker berkicau para petani jagung, padi, dan kacang-kacangan membersihkan lahan. “Itu warisan orangtua, ternyata ketika sekarang ada kalender musim, pas,” kata Hendrikus. Burung yang menyampaikan kabar duka adalah gagak flores dan celepuk walacea atau po. Sebutan po mengacu pada suara burung itu, po… po…. Namun, menurut Hendrikus celepuk yang menyampaikan kabar duka jika berbunyi cuit… cuit… pada malam hari.

Begitu juga gagak flores jika berbunyi pada malam hari juga membawa berita duka. Burung itu sebetulnya aktif pada siang hari. Jika ayam hutan bertengger dan bersuara pada pagi hari, pertanda besok kering, tidak turun hujan. sebaliknya jika kerkuak berbunyi pada malam, “Besok pasti hujan,” kata Hendrikus. “Telinga warga di sini tajam, mungkin karena terbiasa tak ada bunyi kendaraan yang lewat,” kata Servatius Naman, aktivis ekowisata di Desa Waesano.

Tim eksplorasi mengamati beragam burung di hutan Puarlolo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara timur

Tim eksplorasi mengamati beragam burung di hutan Puarlolo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur

Menurut Kepala Desa Waesano, Yoseph Subur, hutan terjaga sehingga burung merasa nyaman. Indikasinya di beberapa tempat burung membuat sarang tidak terlampau tinggi, 1,5 meter dari permukaan tanah. Mendengar kicauan beragam burung, “Kami di sini merasa terhibur. Itulah sebabnya kami tak perlu memelihara burung dalam sangkar. Sebab, memelihara burung di sangkar seperti kita masuk tahanan. Burung tidak punya salah,” kata Yoseph setelah menerima kedatangan wartawan Trubus dengan upacara adat khas Manggarai.

Baca juga:  Redam Harga Daging Sapi

Burung juga mendatangkan berkah bagi 168 kepala keluarga di desa itu. Sebab, kian banyak wisatawan, terutama dari mancanegara yang hendak menyaksikan beragam burung di hutan. “Kebanyakan tamu tertarik mengamati burung,” kata Yoseph. Lazimnya para pelancong datang ke desa itu untuk menyaksikan keelokan danau purba Sanonggoang seluas 115 ha. Danau yang mengandung belerang itu bagai magnet yang menarik kedatangan para pelancong. Namun, kini mereka juga punya pilihan lain jika bertandang ke Waesano, yakni mengamati beragam burung nan elok. Bukan hanya elok sosoknya, burung-burung itu elok kicauannya bagai orkestra di rimba raya. (Sardi Duryatmo/Peliput: Riefza Vebriansyah)

 

Pengamatan burung pada malam hari.

Pengamatan burung pada malam hari

Terpancing Rekaman

Suasana di hutan Sesok di Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada pukul 22.30 amat senyap. Agavitus Ampur dari Burung Indonesia mengaktifkan pelantang suara. Seketika dari peranti itu terdengar suara celepuk flores. Beberapa saat setelah suara tiruan itu mengudara, maka terdengar celepuk flores asli. Celepuk flores Otus alfredi terpancing untuk berkicau setelah mendengar “rekannya” juga bersuara. Samuel Rabenak, pemilik peranti itu, memang menyimpan beragam suara burung..

Ahli burung Prof Dr Ir Ani Mardiastuti MSc mengatakan, celepuk flores yang menjawab suara rekaman burung sejenisnya itu memang bentuk komunikasi antarburung untuk menunjukkan keberadaan dirinya. Selain itu suara burung juga berfungsi menarik lawan jenis. Untuk celepuk flores memang harus dipancing dengan rekaman suara burung sejenis. Sebab sulit mencari burung itu karena saat terbang burung itu tidak mengeluarkan kepakan sayap.

Samuel mendeteksi asal suara itu dan memberi isyarat agar kami mengikuti langkahnya. Di tengah gelap malam itu, kami berjalan perlahan. Ia lantas mengarahkan lampu senter ke sebuah cabang pohon namut, sekitar 15 meter di atas permukaan tanah. Seketika celepuk itu terdiam ketika cahaya senter menghujani matanya. Ia bergeming. Ani Mardiastuti mengatakan ketika burung hantu disinari senter dan diam itu karena burung merasa aman. Kemungkinan burung itu pernah memiliki pengalaman serupa dan itu tidak membahayakan dirinya sehingga ia diam.
Mungkin saja burung silau oleh cahaya senter sehingga ia diam. Beberapa bulan sebelumnya Trubus juga mengamati burung pada malam hari di hutan Harapan, Jambi, seluas hampir 100.000 ha. PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) merestorasi atau memulihkan kawasan ekosistem hutan agar kembali alami seperti semula sejak 2007.

Celepuk flores burung endemik di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur

Celepuk flores burung endemik di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur

Urip Wiharjo dari REKI mengatakan semula PT Asia Log memegang konsesi hak pengusahaan hutan di Jambi dan PT Padeco di Sumatera Selatan. Setelah restorasi itu kawasan hutan yang rusak mulai pulih sehingga beragam burung menghuninya. Semua peserta pengamatan memegang sebuah lampu senter dan mengenakan sepatu bot untuk mencegah lintah pacet. Pada awal perjalanan, peserta lebih banyak mengamati satwa yang aktif pada malam hari seperti belalang, katak, dan musang belang Hemigalus derbyanus.

Sejam berselang, terdengar bunyi gedebug. Seorang peserta yang mengamati burung mengarahkan senter ke ranting-ranting pohon. Matanya sama sekali tak melihat batang pohon besar yang tumbang di lantai hutan. Ketika kaki terantuk pohon itu, ia pun jatuh. Senter yang dipegangnya terlempar. Untunglah tak lama berselang, Musadat, petugas lapang PT Restorasi Ekosistem Indonesia menemukan pijantung kecil Arachnothera longirostra yang tengah bertengger. Burung bersosok mungil yang lazim mencecap nektar bunga jahe-jahean itu berwarna kuning terang di bagian perut. Coba kalau siang hari, ia terbang cepat sembari bersuara lantang ciip ciip cii wiit…

Pada akhir perjalanan tim juga menyaksikan seriwang asia Terpsiphone paradisi. Begitu Musadat menyorot mata burung, seriwang asia tak bergerak. Sosok berjambul itu memiliki ekor menjuntai melebihi panjang tubuhnya. Pengamatan burung pada malam hari di dua lokasi berbeda itu berakhir menjelang tengah malam. (Sardi Duryatmo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d