Oregano Tanpa Impor Benih

Oregano Tanpa Impor Benih 1
Lucy Hendriany, pekebun herbs organik di Lembang, Jawa Barat

Lucy Hendriany, pekebun herbs organik di Lembang, Jawa Barat

Tujuh tahun terakhir Lucy Hendriany tidak perlu impor benih untuk menanam oregano.

Hujan deras tiga hari berturut-turut petaka bagi Mira Marsellia, petani sayuran rempah di Bandung, Provinsi Jawa Barat. Cuaca itu menyebabkan beberapa oregano koleksinya mati. “Oregano andalan untuk membuat masakan Italia kegemaran saya,” kata Mira. Maklum, setiap akhir pekan ia selalu meluangkan waktu memasak kuliner Italia: pasta atau spaghetti. Tanpa oregano, masakan-masakan itu kehilangan citarasa khas.

Untuk mengganti oregano yang mati, Mira mesti mengimpor benih tanaman semak itu dari negara asalnya: wilayah Eropa dan Mediterania. Padahal, pengurusan izin impor benih rumit, mahal, dan menyita waktu. “Perizinan bisa menghabiskan US$75, padahal harga benih hanya US$5,” ujar ibu 2 anak itu. Itu sebabnya ia bersusah-payah memasang peneduh plastik ditopang rangka bambu untuk melindungi Origanum vulgare itu dari terpaan air hujan.

Daun oregano beraroma harum dan berasa pahit

Daun oregano beraroma harum dan berasa pahit

Jaga kelembapan

Meski hujan tiada henti Lucy Hendriany, pekebun sayuran rempah di Lembang, Jawa Barat, tak risau untuk mendapat benih oregano. Lucy memperbanyak sendiri sayuran rempah asal Eropa itu dengan setek batang. Teknik itu baru ia kuasai 7 tahun lalu setelah 3 tahun mencoba. “Masalah utamanya ada di batang yang digunakan,” kata Lucy. Batang yang terlalu tua atau terlalu muda sulit membentuk akar.

Untuk bibit setek, ia memilih batang sehat berumur lebih dari 3 bulan dan sepanjang 7—10 cm. Ia memotong lalu merendam batang itu dalam air selama 1 jam. Tujuannya merangsang pertumbuhan akar. Ia mempersiapkan media tanam berupa pasir, pupuk kandang, dan tanah dengan perbandingan 1:1:1 dalam pot. Lucy lalu menanam 3 batang setek di sebuah pot itu. Selama 2 pekan, ia mempertahankan media tetap lembap dengan menyiram setiap 3 kali sehari atau menyesuaikan dengan cuaca.

Baca juga:  Kendalikan Hama Hoya

“Media tidak boleh terlalu basah atau terlalu kering. Media tanam yang terlalu basah mengundang munculnya cendawan penyebab penyakit. Sebaliknya media tanam yang terlalu kering menghambat pertumbuhan akar. Pertumbuhan bakal mandek dan tanaman mati,” kata Lucy. Pada 5—10 hari pascapenanaman, batang setek akan layu. Namun, selang 2 pekan, ketika akar terbentuk, tanaman mulai segar. Dari 100 pot yang Lucy tanam, 80% di antaranya mampu tumbuh dengan baik. Batang yang gagal tumbuh akan mengering dan berwarna cokelat, biasanya karena tidak mampu membentuk akar.

Gerai penjual aneka herbs di pasar tradisional Bologna, Italia

Gerai penjual aneka herbs di pasar
tradisional Bologna, Italia

Sebelum tanam, Lucy membenamkan pupuk dasar berupa kotoran sapi terfermentasi ke lahan. Berikutnya ia membuat guludan selebar 1 m sepanjang 13 m dengan tinggi 30 cm. Setiap guludan yang terpisah parit selebar 40 cm itu memperoleh 150 kg pupuk.  Perempuan kelahiran 1 Februari 1952 itu memindahkan bibit berumur 14 hari itu ke lahan. Jarak antartanaman 10 cm x 10 cm sehingga setiap guludan berisi 1.300 tanaman. Seluruh guludan tertutup daun oregano sebulan berselang.

Lucy menanam di bawah pohon pisang untuk mengurangi intensitas sinar matahari sekaligus menahan terpaan air hujan. “Kalau terlalu panas, batang terbakar dan mengering. Adapun jika terus-menerus terkena hujan, daun menghitam dan akar membusuk,” ujar Lucy. Saat tanaman berumur 60 hari, perempuan 61 tahun itu kembali membenamkan 50 kg pupuk kandang per bedengan. Ia mengulang pemupukan itu setiap 2 pekan.

“Pemupukan tambahan merangsang pertumbuhan daun baru,” kata Lucy. Maklum, sebagian besar sayuran rempah, seperti oregano, mint, basil, atau thyme tergolong tanaman tahunan. Untuk memanen, hanya daun yang dipetik. “Selain hemat biaya, setek batang juga menghemat waktu,” ujarnya. Pasalnya tanaman hasil setek siap panen 2 bulan pascatanam. Bandingkan dengan tanaman asal biji, yang memerlukan 6 bulan.

Kuliner Eropa

Lucy membudidayakan oregano di lahan 0,8 hektar sejak 1998. Saat itu, ia  pensiun dini pada usia 46 tahun dari perusahaan farmasi asal Jerman. Dari lahan seluas itu, Lucy menghasilkan 30—50 kg sayuran rempah setiap bulan. Lucy memasarkan sayuran rempah ke kafe, restoran, dan hotel di Bandung, Jakarta, dan Pekanbaru. Selain oregano, Lucy menanam berbagai sayuran rempah seperti basil, sage, tarragon, dan rosemary. Ada pula selada eksklusif seperti red fire, american gathering brown, dan red bowl. Benih-benih tanaman herbs itu juga hasil perbanyakan sendiri.

Baca juga:  Lebah Pindah Rumah

Ia hanya memberikan pupuk organik untuk memperbaiki rasa dan aroma. Tujuannya tercapai. “Para chef hotel berbintang di Bandung kerap datang untuk mengambil sayuran,” kata Lucy. Sayuran rempah menjadi bagian wajib kuliner Eropa. Di Italia, masakan seperti pizza, steak, sup, atau salad rasanya belum lengkap tanpa campuran oregano. Masyarakat Turki mengolah oregano bersama daging sapi menjadi kebab. Di Yunani, oregano dicampur dalam ikan. Citarasa khas daun itu mampu mengalahkan bau amis ikan dan membuat makanan tetap segar saat disantap. Oregano juga berkhasiat antiseptik dan meringankan migren. Timol dan senyawa carvacol dalam oregano mengatasi gangguan pencernaan dan mengobati gangguan perut. Daun dengan aroma harum dan rasa agak pahit.

Menurut YP Sudaryanto, pekebun organik di Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, menjamurnya restoran Italia di kota-kota besar membuat permintaan herbs mengalami kenaikan. Permintaan juga datang dari beberapa pasar swalayan dan kantor kedutaan asing. Kenaikan pesanan mencapai 30% per tahun. “Selain permintaan yang mulai marak, daya tarik menanam herb ada pada harga jualnya yang tinggi, berkisar Rp150.000—Rp300.000 per kg,” ujar Sudaryanto. Tak hanya aroma oregano yang disenangi pekebun, harganya pun juga harum. (Kartika Restu Susilo)

 

 

FOTO:

  1. Lucy Hendriany, pekebun herbs organik di Lembang, Jawa Barat
  2. Daun oregano beraroma harum dan berasa pahit
  3. Oregano dibutuhkan sebagai salah satu topping pizza
  4. Gerai penjual aneka herbs di pasar tradisional Bologna, Italia
  5. Rosemary sebagai bumbu pengharum masakan Italia

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x