Pelaku Hidroponik Rumahan Bersatu Untuk Melayani Permintaan Pasar

  • Home
  • Pertanian
  • Pelaku Hidroponik Rumahan Bersatu Untuk Melayani Permintaan Pasar

Selain Jakarta, pesanan juga datang dari Bekasi dan Bandung, yang berasal dari anggota koperasi atau rekan sesama alumni ITB. Sayuran yang tidak langsung terjual ia simpan dalam pendingin. Setiap hari, kebun hidroponik Omega memanen 20—75 kg. Jumlahnya belum optimal lantaran kebun baru beroperasi kurang dari setahun. Namun, pembeli dari berbagai kalangan menanti pasokan rutin.

Selain pembeli langsung, Syahrudin kerap melayani pembeli yang minta pengiriman kepada kegiatan sosial seperti pesantren atau panti asuhan. “Mereka hanya menelepon lalu mentransfer pembayaran, selebihnya kami yang mengurus,” ungkap ayah 3 anak itu. Seperti Hendrik dan dr Norman, Syahrudin pun membuka pasar lewat komunitas pengajian dan menerima kunjungan dari sekolah.

Adi Subyantoro (kanan), Tea Pusparini (kiri), dan Kimya Ayu (kedua dari kiri) bergabung untuk mengisi pasar.

Adi Subyantoro (kanan), Tea Pusparini (kiri), dan Kimya Ayu (kedua dari kiri) bergabung untuk mengisi pasar.

Kebun di tepi jalan besar itu unggul lantaran kemudahan akses dari ibukota sehingga kerap didatangi banyak pihak. Awal Mei 2017 silam, Syahrudin menerima kunjungan dari Kementerian Koperasi. “Mereka tertarik mengembangkan pertanian perkotaan yang dikelola koperasi,” kata pria kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 60 tahun lalu itu.

Salah satu kelebihan sistem hidroponik klaster adalah berkurangnya pengeluaran untuk biaya tenaga kerja. Penghematan biaya tenaga kerja memang efektif menekan harga. Norman Imansyah menjual sayuran di kebun seharga Rp20.000—Rp35.000 per kg tergantung jenisnya.

Harga itu lebih rendah ketimbang pasar modern, yang lebih dari Rp40.000. “Tapi begitu sayuran saya masuk pasar modern, ya mau tidak mau harganya ikut menjadi mahal,” kata Norman. Selain itu, dengan berkongsi mereka bisa membeli sarana produksi secara kolektif sehingga memperoleh harga lebih murah.

Itu pengalaman Adi Subyantoro, pelaku hidroponik di Jombang, Jawa Timur, yang bermitra dengan Kimya Ayu, dan Tea Ayu Pusparini. Mereka juga membuat nutrisi sendiri untuk menekan biaya produksi.

Ditawar murah

Perjalanan pelaku hidroponik komunitas itu tidak selamanya lancar. Petani lain kerap menganggap kemitraan Adi Subyantoro adalah pemberi harapan palsu. “Mereka tidak percaya kami mau menjualkan hasil produk mereka,” kata Adi. Maklum, kebanyakan petani saling bersaing. Pengalaman lain, hampir 2 tahun lalu, kompetitor merusak harga dengan memasok kepada pasar modern dengan harga lebih rendah daripada komunitas Adi.

Tomat ceri produksi Kabul tidak mencukupi permintaan pasar.

Tomat ceri produksi Kabul tidak mencukupi permintaan pasar.

Sang kompetitor itu tidak mampu bertahan sehingga akhirnya pasar modern kembali membeli produk mereka. Pembeli pun banyak yang belum tahu tentang produk hidroponik dan menganggap semua sayuran sama. “Pernah ada pembeli yang menawar sayuran kami Rp2.000 per ikat,” kata Tea Ayu. Tentu saja mereka tidak bisa marah, justru berusaha menjelaskan agar semakin banyak orang paham hidroponik.

Menurut pengamat agribisnis di Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto MSc, fenomena berkembangnya komunitas pehobi hidroponik menjadi satuan bisnis itu cukup menarik. “Ketika beberapa bagian bangsa ini mengalami gesekan akibat intoleransi, komunitas justru bisa berkembang menjadi bisnis. Itu menandakan bahwa semangat gotong-royong masih dimiliki kebanyakan masyarakat Indonesia,” kata Arief.

Tags: