Pelaku Hidroponik Rumahan Bersatu Untuk Melayani Permintaan Pasar

  • Home
  • Pertanian
  • Pelaku Hidroponik Rumahan Bersatu Untuk Melayani Permintaan Pasar
Konsentrasi nutrisi salah satu standar hidroponik komunitas.

Konsentrasi nutrisi salah satu standar hidroponik komunitas.

Tentu saja sayuran berkualitas rendah seperti itu tidak layak dipasarkan. Nun di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, Eddy Setiawan yang berkongsi dengan 14 petani mitra menyiasati hal itu dengan mengadakan pelatihan dan pemantauan rutin. Dari ke-14 mitra itu, 7 orang aktif sedangkan sisanya masih semibelajar. Kemitraan itu mampu menghasilkan 37—40 kg sayuran per hari dari 20.000 lubang tanam.

Produk itu ia kirimkan ke 5 lokasi, yaitu hotel (permintaan 2—4 kg per hari), gerai di 2 pasar modern (total 20—60 kg per hari), dan 2 kios di pasar tradisional (20—60 kg per hari). Pada akhir pekan, permintaan dari pasar modern dan tradisional meningkat sehingga ia menambah pasokan 25%. Eddy membudidayakan 22 jenis sayuran daun, kebanyakan jenis selada eksotis.

Kebun hidroponik Omega hasil kemitraan modal.

Kebun hidroponik Omega hasil kemitraan modal.

Sementara itu di Sukabumi, Jawa Barat, Fariz Nugraha berbagi tugas dengan 10 petani mitra menggunakan sistem sentralisasi. Artinya, “Setiap petani hanya menanam 1 komoditas,” kata Fariz. Dalam sehari, perserikatan mereka memasok 12—15 kg sayuran berupa selada, pakcoy, sawi, atau kangkung kepada 2 pasar modern. Sebelum pengiriman, Fariz mengumpulkan dan menyortir hasil panen mitra.

Retur yang mereka ambil dari pasar modern—paling banyak 20%—dijual kepada kios sayuran atau penjual sayur dengan harga yang jauh lebih rendah. Hal itu bisa dilakukan lantaran sayur hidroponik dikemas bersama media tanamnya sehingga mampu tahan sampai sepekan pascapemanenan. Dengan begitu praktis semua hasil panen terserap pasar dan tak ada yang terbuang.

Modal bersama

Di Bandungan, Kabupaten Semarang, Kabul Pamudji pun merasakan produksinya semakin tertinggal dari pasar. Setiap hari, Hidroponik Agrofarm Bandungan yang ia komandoi hanya mampu menghasilkan 30 kg tomat ceri padahal permintaan dari pembeli di Kota Semarang saja 4 kali lipat jumlah itu.

Produksi paprika 4 ton per bulan semua habis tanpa sisa. Itu sebabnya ia menjalin kerja sama dengan 2 orang plasma. Satu berada di Semarang, lainnya di Bali sekaligus untuk ekspansi.

Kemitraan tidak melulu antarpekebun. Di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Syahrudin menjalankan kebun hidroponik Omega yang merupakan hasil kemitraan modal koperasi Jasa Omega Ganesha Mandiri. Anggota koperasi itu adalah alumnus Jurusan Meteorologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung.

Para pelaku hidroponik komunitas belajar dari kit sederhana untuk pehobi.

Para pelaku hidroponik komunitas belajar dari kit sederhana untuk pehobi.

Pada September 2016 lalu, mereka sepakat mengumpulkan modal untuk membuka kebun hidroponik di lahan 621 m². Syahrudin menanam bayam, bayam merah, sawi, dan kangkung di 31 unit kompartemen. Kompartemen adalah rangkaian meja tanam berbentuk A dengan 6 tingkat pipa bulat di kedua kakinya.

Mereka menawarkan biaya pembuatan kompartemen kepada anggota koperasi yang berminat. Artinya di kebun itu ada setidaknya 31 mitra yang menggelontorkan modal. “Beberapa kompartemen ada yang modalnya berasal dari 2 orang karena jumlah peminat lebih banyak daripada jumlah kompartemen,” kata Syahrudin. Setiap pipa sepanjang 6 m berisi 36 lubang tanam sehingga 1 kompartemen mempunyai total 432 lubang.

Hemat biaya

Sejak Desember 2016, kebun hasil urunan itu mulai panen. Jumlah kompartemen sebanyak 31 itu menyesuaikan dengan target, yaitu memanen sayuran dari 1 kompartemen per hari sehingga dalam sebulan selalu ada panen setiap hari. Syahrudin mengemas sayuran hasil panen itu dalam plastik transparan. Bobot sebuah kemasan per 250 g. Ia lalu langsung mengirim kepada pembeli di sekitar Jakarta.

Tags: