Pelaku Hidroponik Rumahan Bersatu Untuk Melayani Permintaan Pasar

  • Home
  • Pertanian
  • Pelaku Hidroponik Rumahan Bersatu Untuk Melayani Permintaan Pasar

Mereka bergotong royong untuk memasok pasar yang meminta beragam komoditas hasil budidaya hidroponik. Meski sudah berkongsi, produksi masih keteteran. Produksi sayuran dari kebun milik 6 orang itu hanya menghasilkan 350—400 kg sayuran hidroponik per bulan. Makanya Norman baru bisa memasok berbagai macam sayuran kepada sebauh mal dan sebuah hotel di Palembang.

Permintaan tinggi

"Kemitraan hidroponik dilirik Kementerian Koperasi sebagai alternatif pertanian perkotaan berbasis koperasi," kata Syahrudin, koordinator kebun hidroponik Omega.

“Kemitraan hidroponik dilirik Kementerian Koperasi sebagai alternatif pertanian perkotaan berbasis koperasi,” kata Syahrudin, koordinator kebun hidroponik Omega.

Selain itu Norman juga rutin mengirim kepada seorang rekan yang menjadi distributor dan seorang lain yang menjadi reseller. “Beberapa permintaan belum terisi karena produksi belum cukup,” kata Norman. Belum lagi kalau ada sekolah atau instansi yang berkunjung ke kebun. Beberapa sekolah dasar di Palembang membawa siswa mereka ke kebun Norman untuk memperkenalkan hidroponik.

“Ketika anak-anak mendengarkan penjelasan, orang tua yang ikut mengantar atau guru yang mendampingi berbelanja,” kata Norman. Itu sebabnya saat menerima kunjungan, ia menyiapkan lebih banyak sayuran daripada hari lain. Jika produksi sendiri tidak terkejar, ia mengandalkan plasma atau mitra.

Kabul Pamudji menjalin kemitraan dengan 2 plasma.

Kabul Pamudji menjalin kemitraan dengan 2 plasma.

Model hidroponik klaster juga berkembang di Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lihat saja Imron yang biasa menghabiskan waktu hingga 8—10 jam sehari di depan layar komputer. Sebagai pembuat program, mata pria 44 tahun itu keruan saja mudah lelah. Kini ia mempunyai kegiatan lain, yakni mengecek aliran larutan nutrisi, memeriksa pertumbuhan tanaman, memindahkan bibit dari meja semai ke meja remaja.

Menjelang siang, seorang kawan akan mengambil tanaman hasil panen itu lalu menjual kepada pembeli. Usai mengurus tanaman, ia kembali berkutat di depan komputer melakoni pekerjaannya. Aktivitas mengurus tanaman pada pagi dan sore hari itu merupakan kegiatan yang baru ia lakoni beberapa bulan belakangan. Imron menerjuni hidroponik berawal dari hobi sejak setahun terakhir.

Hobi itu membawanya berkenalan dengan rekan-rekan sehobi di seputar kediamannya di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Pada Desember 2016 mereka sepakat membawa hobi itu ke tingkat serius, kelas komersial. Hendrik Wijaya, rekan Imron yang didapuk sebagai pemasaran, menjajaki potensi pasar di Magelang, Temanggung, Yogyakarta, dan Semarang.

Hendrik rutin memperkenalkan sayuran hidroponik melalui acara hari bebas kendaraan bermotor (car free day, CFD) setiap Ahad di Kota Magelang. Selain itu Hendrik juga memboyong sayur produksi anggota Komunitas Hidroponik Magelang itu ke pengajian, acara gereja, maupun kegiatan lain yang ramai pengunjung.

Menyamakan standar

Masyarakat Lembah Tidar itu antusias melihat sayuran segar terkemas menarik di depan mata. Pasar bagi produk Hendrik, Imron, dan rekan-rekannya kini terbuka lebar. Salah satu tantangan menjalin kongsi adalah standar produksi dan kualitas. Itu menjadi hambatan besar bagi para pegiat hidroponik klaster. Maklum, tidak semua pehobi mempunyai pemahaman atau pengalaman setara.

Pekebun hidroponik klaster di Jombang, Jawa Timur, Medina, acap mengalami miskomunikasi dengan beberapa dari 30 orang mitranya. Mereka tergabung dalam Komunitas Hidroponik Jombang. Menghemat pupuk dengan menurunkan kepekatan larutan nutrisi pun dilakukan beberapa pehobi. Bagi beberapa orang, sayuran ngelancir, berwarna agak pucat, atau sedikit gosong tidak jadi masalah.

Tags: