Sistem hidroponik klaster berkembang di berbagai kota. Pelaku hidroponik rumahan bersatu untuk melayani permintaan pasar.

Setiap hari dr Norman Imansyah Rizal SpTHT-KL menangani pasien di sebuah rumah sakit dan tempat praktiknya di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Ternyata dokter alumnus Universitas Yarsi, Jakarta Pusat, itu juga piawai menangani beragam sayuran. Di halaman depan rumahnya ia membangun instalasi hidroponik berisi 7.000 lubang tanam. Pagi sebelum berangkat ke rumah sakit atau usai tiba kembali di rumah, ia mengecek kesehatan tanaman.

Norman memasok sekitar 15 kg sayuran hidroponik ke hotel, pasar swalayan, dan restoran per hari. Jenisnya antara lain lollo rossa, romaine, butterhead, junction, dan kangkung. Dengan harga Rp20.000—Rp35.000 per kg, omzet Norman dari perniagaan sayuran hidroponik itu minimal Rp300.000—Rp5250.000 per hari. Dengan 22 hari kerja saja, omzet Norman Rp6,6 juta sebulan (2017).

dr Norman I Rizal membentuk komunitas hidroponik untuk memenuhi permintaan.
dr Norman I Rizal membentuk komunitas hidroponik untuk memenuhi permintaan.

Selama ini Norman rutin memasok sayuran untuk distributor, mal, dan reseller. Frekuensi pasokan rata-rata 3 kali sepekan masing-masing untuk distributor, mal, dan reseller. Artinya hampir setiap hari ia memanen dan mengirimkan beragam sayuran hidroponik itu untuk koleganya.

Model klaster

Pasokan sebanyak itu keruan saja bukan hanya dari “lahan” sendiri. Norman hanya memproduksi 10 kg sayuran per hari. Sejak 7 bulan lalu ia mengembangkan kemitraan dengan beberapa orang petani sayuran hidroponik di kota Palembang, Sumatera Selatan. Ia juga bekerja sama dengan 2 orang lain yang memilih menjadi plasma.

Pria 40 tahun itu menampung semua produksi mitra asal memenuhi standar mutu (baca: Syarat Mutu Sayuran Nirtanah halaman 16—17). Menurut Norman seorang mitra atau plasma memproduksi rata-rata 5—7 kg sayuran per hari. Namun, kalau ada acara, ia bisa mengambil 10—15 kg dari kebun lain. Ia mengemas sayuran itu dalam bentuk buket (bouquet) berbobot 250 g.

Selada keriting salah satu sayuran hidroponik yang diminati pasar.
Selada keriting salah satu sayuran hidroponik yang diminati pasar.

Sistem hidroponik ala Norman, yakni bermitra dengan beberapa petani kini tengah tren di berbagai kota. Praktikus hidroponik di Pondokcabe, Tangerang Selatan, Ir Kunto Herwibowo, menyebut sistem itu hidroponik komunitas. Ada juga yang menyebut sistem itu hidroponik klaster. Apa pun istilahnya, model hidroponik itu terdiri atas 1 inti yang menjadi pionir untuk membuka pasar.

Ketika permintaan kian banyak, ia membangun jejaring kemitraan dengan beberapa petani. Begitu pula yang terjadi dengan Norman. Dua tahun lalu, Norman sekadar hobi berhidroponik dan membuat instalasi pipa bulat dengan 7.000 lubang tanam. Di sela kesibukan di rumah sakit dan tempat praktik, Norman mendatangi hotel, restoran, dan mal menjajakan sayur produksinya.

Ternyata hampir semua tempat yang ia datangi menerima, bahkan ada yang langsung meminta pasokan rutin. Meskipun siap, tetap saja ia tidak mampu memenuhi semua permintaan. Bayangkan saja, “Setiap hari Palembang memerlukan 200—300 kg sayuran hidroponik,” ujarnya. Untuk memenuhi pasokan itu ia pun “bergerilya” kepada teman-teman sesama pehobi hidroponik di Kota Sriwijaya itu.

Mereka bergotong royong untuk memasok pasar yang meminta beragam komoditas hasil budidaya hidroponik. Meski sudah berkongsi, produksi masih keteteran. Produksi sayuran dari kebun milik 6 orang itu hanya menghasilkan 350—400 kg sayuran hidroponik per bulan. Makanya Norman baru bisa memasok berbagai macam sayuran kepada sebauh mal dan sebuah hotel di Palembang.

Permintaan tinggi

"Kemitraan hidroponik dilirik Kementerian Koperasi sebagai alternatif pertanian perkotaan berbasis koperasi," kata Syahrudin, koordinator kebun hidroponik Omega.
“Kemitraan hidroponik dilirik Kementerian Koperasi sebagai alternatif pertanian perkotaan berbasis koperasi,” kata Syahrudin, koordinator kebun hidroponik Omega.

Selain itu Norman juga rutin mengirim kepada seorang rekan yang menjadi distributor dan seorang lain yang menjadi reseller. “Beberapa permintaan belum terisi karena produksi belum cukup,” kata Norman. Belum lagi kalau ada sekolah atau instansi yang berkunjung ke kebun. Beberapa sekolah dasar di Palembang membawa siswa mereka ke kebun Norman untuk memperkenalkan hidroponik.

“Ketika anak-anak mendengarkan penjelasan, orang tua yang ikut mengantar atau guru yang mendampingi berbelanja,” kata Norman. Itu sebabnya saat menerima kunjungan, ia menyiapkan lebih banyak sayuran daripada hari lain. Jika produksi sendiri tidak terkejar, ia mengandalkan plasma atau mitra.

Kabul Pamudji menjalin kemitraan dengan 2 plasma.
Kabul Pamudji menjalin kemitraan dengan 2 plasma.

Model hidroponik klaster juga berkembang di Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lihat saja Imron yang biasa menghabiskan waktu hingga 8—10 jam sehari di depan layar komputer. Sebagai pembuat program, mata pria 44 tahun itu keruan saja mudah lelah. Kini ia mempunyai kegiatan lain, yakni mengecek aliran larutan nutrisi, memeriksa pertumbuhan tanaman, memindahkan bibit dari meja semai ke meja remaja.

Baca juga:  Berputar Demi Sinar Surya

Menjelang siang, seorang kawan akan mengambil tanaman hasil panen itu lalu menjual kepada pembeli. Usai mengurus tanaman, ia kembali berkutat di depan komputer melakoni pekerjaannya. Aktivitas mengurus tanaman pada pagi dan sore hari itu merupakan kegiatan yang baru ia lakoni beberapa bulan belakangan. Imron menerjuni hidroponik berawal dari hobi sejak setahun terakhir.

Hobi itu membawanya berkenalan dengan rekan-rekan sehobi di seputar kediamannya di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Pada Desember 2016 mereka sepakat membawa hobi itu ke tingkat serius, kelas komersial. Hendrik Wijaya, rekan Imron yang didapuk sebagai pemasaran, menjajaki potensi pasar di Magelang, Temanggung, Yogyakarta, dan Semarang.

Hendrik rutin memperkenalkan sayuran hidroponik melalui acara hari bebas kendaraan bermotor (car free day, CFD) setiap Ahad di Kota Magelang. Selain itu Hendrik juga memboyong sayur produksi anggota Komunitas Hidroponik Magelang itu ke pengajian, acara gereja, maupun kegiatan lain yang ramai pengunjung.

Menyamakan standar

Masyarakat Lembah Tidar itu antusias melihat sayuran segar terkemas menarik di depan mata. Pasar bagi produk Hendrik, Imron, dan rekan-rekannya kini terbuka lebar. Salah satu tantangan menjalin kongsi adalah standar produksi dan kualitas. Itu menjadi hambatan besar bagi para pegiat hidroponik klaster. Maklum, tidak semua pehobi mempunyai pemahaman atau pengalaman setara.

Pekebun hidroponik klaster di Jombang, Jawa Timur, Medina, acap mengalami miskomunikasi dengan beberapa dari 30 orang mitranya. Mereka tergabung dalam Komunitas Hidroponik Jombang. Menghemat pupuk dengan menurunkan kepekatan larutan nutrisi pun dilakukan beberapa pehobi. Bagi beberapa orang, sayuran ngelancir, berwarna agak pucat, atau sedikit gosong tidak jadi masalah.

Konsentrasi nutrisi salah satu standar hidroponik komunitas.
Konsentrasi nutrisi salah satu standar hidroponik komunitas.

Tentu saja sayuran berkualitas rendah seperti itu tidak layak dipasarkan. Nun di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, Eddy Setiawan yang berkongsi dengan 14 petani mitra menyiasati hal itu dengan mengadakan pelatihan dan pemantauan rutin. Dari ke-14 mitra itu, 7 orang aktif sedangkan sisanya masih semibelajar. Kemitraan itu mampu menghasilkan 37—40 kg sayuran per hari dari 20.000 lubang tanam.

Produk itu ia kirimkan ke 5 lokasi, yaitu hotel (permintaan 2—4 kg per hari), gerai di 2 pasar modern (total 20—60 kg per hari), dan 2 kios di pasar tradisional (20—60 kg per hari). Pada akhir pekan, permintaan dari pasar modern dan tradisional meningkat sehingga ia menambah pasokan 25%. Eddy membudidayakan 22 jenis sayuran daun, kebanyakan jenis selada eksotis.

Kebun hidroponik Omega hasil kemitraan modal.
Kebun hidroponik Omega hasil kemitraan modal.

Sementara itu di Sukabumi, Jawa Barat, Fariz Nugraha berbagi tugas dengan 10 petani mitra menggunakan sistem sentralisasi. Artinya, “Setiap petani hanya menanam 1 komoditas,” kata Fariz. Dalam sehari, perserikatan mereka memasok 12—15 kg sayuran berupa selada, pakcoy, sawi, atau kangkung kepada 2 pasar modern. Sebelum pengiriman, Fariz mengumpulkan dan menyortir hasil panen mitra.

Retur yang mereka ambil dari pasar modern—paling banyak 20%—dijual kepada kios sayuran atau penjual sayur dengan harga yang jauh lebih rendah. Hal itu bisa dilakukan lantaran sayur hidroponik dikemas bersama media tanamnya sehingga mampu tahan sampai sepekan pascapemanenan. Dengan begitu praktis semua hasil panen terserap pasar dan tak ada yang terbuang.

Modal bersama

Di Bandungan, Kabupaten Semarang, Kabul Pamudji pun merasakan produksinya semakin tertinggal dari pasar. Setiap hari, Hidroponik Agrofarm Bandungan yang ia komandoi hanya mampu menghasilkan 30 kg tomat ceri padahal permintaan dari pembeli di Kota Semarang saja 4 kali lipat jumlah itu.

Produksi paprika 4 ton per bulan semua habis tanpa sisa. Itu sebabnya ia menjalin kerja sama dengan 2 orang plasma. Satu berada di Semarang, lainnya di Bali sekaligus untuk ekspansi.

Kemitraan tidak melulu antarpekebun. Di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Syahrudin menjalankan kebun hidroponik Omega yang merupakan hasil kemitraan modal koperasi Jasa Omega Ganesha Mandiri. Anggota koperasi itu adalah alumnus Jurusan Meteorologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung.

Para pelaku hidroponik komunitas belajar dari kit sederhana untuk pehobi.
Para pelaku hidroponik komunitas belajar dari kit sederhana untuk pehobi.

Pada September 2016 lalu, mereka sepakat mengumpulkan modal untuk membuka kebun hidroponik di lahan 621 m². Syahrudin menanam bayam, bayam merah, sawi, dan kangkung di 31 unit kompartemen. Kompartemen adalah rangkaian meja tanam berbentuk A dengan 6 tingkat pipa bulat di kedua kakinya.

Baca juga:  Berbagai Penemuan Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi

Mereka menawarkan biaya pembuatan kompartemen kepada anggota koperasi yang berminat. Artinya di kebun itu ada setidaknya 31 mitra yang menggelontorkan modal. “Beberapa kompartemen ada yang modalnya berasal dari 2 orang karena jumlah peminat lebih banyak daripada jumlah kompartemen,” kata Syahrudin. Setiap pipa sepanjang 6 m berisi 36 lubang tanam sehingga 1 kompartemen mempunyai total 432 lubang.

Hemat biaya

Sejak Desember 2016, kebun hasil urunan itu mulai panen. Jumlah kompartemen sebanyak 31 itu menyesuaikan dengan target, yaitu memanen sayuran dari 1 kompartemen per hari sehingga dalam sebulan selalu ada panen setiap hari. Syahrudin mengemas sayuran hasil panen itu dalam plastik transparan. Bobot sebuah kemasan per 250 g. Ia lalu langsung mengirim kepada pembeli di sekitar Jakarta.

Selain Jakarta, pesanan juga datang dari Bekasi dan Bandung, yang berasal dari anggota koperasi atau rekan sesama alumni ITB. Sayuran yang tidak langsung terjual ia simpan dalam pendingin. Setiap hari, kebun hidroponik Omega memanen 20—75 kg. Jumlahnya belum optimal lantaran kebun baru beroperasi kurang dari setahun. Namun, pembeli dari berbagai kalangan menanti pasokan rutin.

Selain pembeli langsung, Syahrudin kerap melayani pembeli yang minta pengiriman kepada kegiatan sosial seperti pesantren atau panti asuhan. “Mereka hanya menelepon lalu mentransfer pembayaran, selebihnya kami yang mengurus,” ungkap ayah 3 anak itu. Seperti Hendrik dan dr Norman, Syahrudin pun membuka pasar lewat komunitas pengajian dan menerima kunjungan dari sekolah.

Adi Subyantoro (kanan), Tea Pusparini (kiri), dan Kimya Ayu (kedua dari kiri) bergabung untuk mengisi pasar.
Adi Subyantoro (kanan), Tea Pusparini (kiri), dan Kimya Ayu (kedua dari kiri) bergabung untuk mengisi pasar.

Kebun di tepi jalan besar itu unggul lantaran kemudahan akses dari ibukota sehingga kerap didatangi banyak pihak. Awal Mei 2017 silam, Syahrudin menerima kunjungan dari Kementerian Koperasi. “Mereka tertarik mengembangkan pertanian perkotaan yang dikelola koperasi,” kata pria kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 60 tahun lalu itu.

Salah satu kelebihan sistem hidroponik klaster adalah berkurangnya pengeluaran untuk biaya tenaga kerja. Penghematan biaya tenaga kerja memang efektif menekan harga. Norman Imansyah menjual sayuran di kebun seharga Rp20.000—Rp35.000 per kg tergantung jenisnya.

Harga itu lebih rendah ketimbang pasar modern, yang lebih dari Rp40.000. “Tapi begitu sayuran saya masuk pasar modern, ya mau tidak mau harganya ikut menjadi mahal,” kata Norman. Selain itu, dengan berkongsi mereka bisa membeli sarana produksi secara kolektif sehingga memperoleh harga lebih murah.

Itu pengalaman Adi Subyantoro, pelaku hidroponik di Jombang, Jawa Timur, yang bermitra dengan Kimya Ayu, dan Tea Ayu Pusparini. Mereka juga membuat nutrisi sendiri untuk menekan biaya produksi.

Ditawar murah

Perjalanan pelaku hidroponik komunitas itu tidak selamanya lancar. Petani lain kerap menganggap kemitraan Adi Subyantoro adalah pemberi harapan palsu. “Mereka tidak percaya kami mau menjualkan hasil produk mereka,” kata Adi. Maklum, kebanyakan petani saling bersaing. Pengalaman lain, hampir 2 tahun lalu, kompetitor merusak harga dengan memasok kepada pasar modern dengan harga lebih rendah daripada komunitas Adi.

Tomat ceri produksi Kabul tidak mencukupi permintaan pasar.
Tomat ceri produksi Kabul tidak mencukupi permintaan pasar.

Sang kompetitor itu tidak mampu bertahan sehingga akhirnya pasar modern kembali membeli produk mereka. Pembeli pun banyak yang belum tahu tentang produk hidroponik dan menganggap semua sayuran sama. “Pernah ada pembeli yang menawar sayuran kami Rp2.000 per ikat,” kata Tea Ayu. Tentu saja mereka tidak bisa marah, justru berusaha menjelaskan agar semakin banyak orang paham hidroponik.

Menurut pengamat agribisnis di Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto MSc, fenomena berkembangnya komunitas pehobi hidroponik menjadi satuan bisnis itu cukup menarik. “Ketika beberapa bagian bangsa ini mengalami gesekan akibat intoleransi, komunitas justru bisa berkembang menjadi bisnis. Itu menandakan bahwa semangat gotong-royong masih dimiliki kebanyakan masyarakat Indonesia,” kata Arief.

Apalagi hidroponik adalah sistem pertanian modern, yang produknya tentu saja lebih cocok masuk ke pasar modern. Masalahnya, pertumbuhan jumlah gerai pasar modern sebesar 15% per tahun itu tidak sebanding pertumbuhan ekonomi yang hanya 3—5% per tahun. Melalui komunitas, pelaku bisnis bisa menyatukan kekuatan untuk mengisi pasar modern. Ujung-ujungnya semua bisa merasakan keuntungan.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d