Omiya Kiblat Bonsai Dunia 1
Rhododenron indicum, bunganya tiga warna

Rhododenron indicum, bunganya tiga warna

Omiya ibarat tanah suci bagi pencinta bonsai dunia.

Ucapan itu terlontar dari Mamoru Nakamura, pemilik kafe Fukumaru Coffee, di seberang stasiun kereta Omiya Koen di jantung Kota Saitama. Ia berkisah bila umat Muslim dan Kristen memiliki Mekah dan Yerusalem sebagai kota suci, maka pencinta bonsai di seluruh penjuru dunia juga memiliki tanah suci: Omiya. Di ‘’tanah suci’’ itu lahir pula banyak trainer bonsai kelas dunia.

Obrolan dengan Nakamura itu mengingatkan pada Kobayashi, seorang guru privat, yang menunjukkan Saitama sebagai tempat paling layak dikunjungi. Saat penulis menyebut ingin melihat koleksi bonsai terbaik di Jepang, Kobayashi menyodorkan brosur bertuliskan The Omiya Bonsai Art Museum di Saitama. “Seni bonsai Jepang menyebar ke segala penjuru dunia dari kota itu,” kata Kobayashi.

Rhododendron indicum, batang tegak informal

Rhododendron indicum, batang tegak informal

Bertabur bunga

Di pengujung Juni 2014 perjalanan ke Omiya pun terwujud bersama Yohei Morifuji, seorang kolega yang berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang. Dari stasiun kereta terdekat, Omiya Koen, museum bonsai ditempuh berjalan kaki 10 menit sambil melewati 3 nurseri bonsai dan sebuah museum manga atau komik khas jepang. Dari tepi jalan bangunan museum terlihat seperti sebuah rumah biasa yang asri.

Namun, kesan rumah biasa itu sirna begitu memasuki ruang depan. Sosok Rhododendron indicum setinggi 60 cm menyambut setiap tamu yang datang. Seluruh tajuk tanaman yang di Indonesia dikenal dengan azalea itu banjir bunga berwarna putih, merah, dan jingga sehingga memikat siapa pun yang datang. Sosok yang bergaya tegak informal-kian cantik karena tajuk bersusun 4 tingkat. “Kami menyebutnya chiyo nishiki,” kata Rumiko Ishida, kurator di Omiya Bonsai Art Museum.

Di pengujung Juni 2014 wajah museum bonsai itu seperti bertabur bunga. Maklum, saat itu berlangsung pameran tunggal Shigeo Isobe, pemilik nurseri Isobe Midorien. Ia spesialis pebonsai satsuki-alias azalea-di Jepang. “Sosok percabangan dan perantingan secara keseluruhan luar biasa. Posisi bunga dan jenis yang dipilih juga tepat sehingga tampilan bunga di tajuk ideal,” kata Budi Sulistyo, praktikus bonsai di tanahair mengomentari karya Isobe.

Yezo matsu, koleksi bonsai tertua berumur 1.000 tahun yang pernah menjadi milik Reiji Takagi

Yezo matsu, koleksi bonsai tertua berumur 1.000 tahun yang pernah menjadi milik Reiji Takagi

Menurut Rumiko, museum itu memiliki agenda tetap mingguan, dwi mingguan, atau bulanan berupa pameran bonsai. Di setiap periode itu para pemain bonsai di Saitama bergantian memamerkan karyanya. Pekan itu tema pameran berupa ‘Azalea Bonsai Exhibit: Azalea and Early Summer Blossoms Part 1’ yang berlangsung 5 hari. “Sejak awal musim semi hingga awal musim panas bunga azalea bermekaran. Isobe mampu menampilkan koleksi terbaiknya hampir di sepanjang musim itu,” kata Rumiko yang lulusan seni kontemporer Tokyo Art University itu.

Baca juga:  Khasiat Hebat Avokad

Menurut Rumiko, museum itu mengoleksi113 bonsai yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Saitama. Sebut saja bonsai tertua yang berumur 1.000 tahun bernama yezo matsu. Ada pula bonsai Pinus pentaphylla mayr bergaya windswept-tertiup angin-berumur 200 tahun dan Cryptomeria japonica bergaya chokkan-alias tegak-berumur 100 tahun. Semula ketiga bonsai itu koleksi Reiji Takagi. Reiji pada 1900-an pemilik perusahaan terkenal Meikow Company.

Reiji banyak membantu nurseri yang tersebar di Kota Saitama yang ketika itu berjumlah 30-35 nurseri. “Setelah Reiji meninggal, bonsainya dipelihara bergantian oleh para pemilik nurseri. Seiring waktu mereka berinisiatif untuk membuka museum yang kemudian dibiayai oleh pemerintah kota,” kata Rumiko.

Para pemilik nurseri berinisiatif membuka museum karena usia mereka bertambah lanjut sementara generasi penerus bonsai semakin sedikit. Saat ini dari 35 nurseri yang dibuka pada 1923, hanya 8 nurseri yang bertahan. “Enam di antaranya adalah nurseri kelas dunia,” kata Rumiko. Sebut saja Mansei-en, Shosetu-en, Fuyo-en, Kyuka-en, Seiko-en, dan Toju-en.

Penulis (kanan) bersama Rumiko Ishida (kiri) dan Yohei Morifuji (tengah)

Penulis (kanan) bersama Rumiko Ishida (kiri) dan Yohei Morifuji (tengah)

Di museum itu juga terdapat koleksi bonsai lain dari kolektor bonsai terkenal di Jepang. Sebut saja bonsai koleksi Shigenobu Okuma, kolektor terkenal di Jepang yang hidup hingga 1912. Ada pula bonsai karin Chinese quince koleksi keluarga mantan perdana menteri Jepang. Karin pernah menjuarai sebuah kontes bertajuk Kicho Bonsai pada 1979. Ia pernah bergonta-ganti empu yang semuanya tokoh berpengaruh di Jepang seperti Kaichiro Nezu, pendiri Tobu Railway; Eisaku Sato, dan Nobusuke Kichi, keduanya perdana menteri Jepang.

Gempa Tokyo

Lahirnya Omiya sebagai desa bonsai di Jepang bermula dari gempa yang mengguncang Great Kanto-pulau terbesar di Jepang-pada 1923. Ketika itu sebuah desa yang menjadi pusat bonsai bernama Ueno di Tokyo hancur berantakan. Ueno menjadi pusat bonsai di Tokyo karena sejak era Edo dan era Meiji dihuni pembesar-pembesar samurai yang menyukai bonsai. Di Uneo itulah nurseri bonsai tumbuh dan berkembang pada masa silam.

Bonsai di luar museum ditata sebagai elemen taman

Bonsai di luar museum ditata sebagai elemen taman

Begitu Ueno hancur, maka sejumlah pemain bonsai mencari tempat pengganti yang sesuai untuk bercocok tanam bonsai. Saitama dipilih karena tanahnya subur dan air berlimpah. Beberapa lokasi di Omiya juga memiliki tanah akadamatsuschi-sejenis tanah liat-yang cocok untuk bahan baku pot bonsai. Pascagempa itulah 30-35 pemilik nurseri bonsai memindahkan aktivitasnya dari Ueno ke Omiya pada 1925.

Baca juga:  Dapur Organik

Sebut saja Tomekichi Kato II, pemilik Mansei-en; Ritaro Shimizu, pemilik Seidai-en; dan Atsuo Kuraishi, pemilik Kunpu-en. “Nurseri Mansei-en masih ada hingga kini. Ia kini dikelola oleh generasi keempat,” kata Rumiko. Menurut Budi Sulistyo, keluarga Kato dari Mansei-en sangat terkenal di jagad bonsai dunia. Terutama saat Saburo Kato yang hidup pada 1915-2008 memimpin komunitas bonsai Jepang bernama Nippon Bonsai Association.

Saburo Kato menjadi legenda bonsai karena berjasa memperkenalkan bonsai ke segala penjuru dunia. “Perkembangan bonsai di Indonesia pun tidak lepas dari jasa beliau,” kata Budi. Berkali-kali Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) menjalin kerja sama kunjungan kedua belah pihak sejak era Ismail Saleh memimpin PPBI. Menurut Budi, dari Omiya itulah Saburo Kato memperkenalkan istilah ‘spirit of bonsai’ yaitu semangat persaudaraan antarbangsa dengan simbol bonsai. (Destika Cahyana, peneliti di Kementerian Pertanian, mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *