Komunitas Sapu Upcycle mengolah limbah menjadi bahan berkualitas prima dan bernilai tinggi.

Komunitas Sapu Upcycle mengolah limbah menjadi bahan berkualitas prima dan bernilai tinggi.

Mendulang rupiah dari limbah ban bekas. Produk mengalir ke Eropa. Sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk peduli pada lingkungan.

Semula omzet Sindhu Prasastyo Rp1-juta per bulan. Sejak 2012 pendapatan Sindu meningkat menjadi Rp15-juta saban bulan. Kini ia beromzet Rp60-juta/bulan. Penghasilan pria 36 tahun itu berasal dari penjualan barang sekunder fungsional bernilai tinggi seperti tas, dompet, dan perhiasan. Barang-barang yang ia bikin itu istimewa. Lazimnya tas dan dompet terbuat dari kulit hewan tertentu seperti buaya dan ular. Kebanyakan perhiasan pun berasal dari logam mulia.

Namun, Sindu membuat aksesori itu dari ban dalam bekas mobil. Ia menghabiskan rata-rata 450 kg ban bekas dari Semarang, Jawa Tengah. Ia merogoh kocek Rp25.000 unutk satu ban bekas. Satu ban bekas berdiameter 1 m menghasilkan 35—40 dompet berdimensi 19 cm x 10 cm x 2 cm. Perajin itu memproduksi 500 dompet beragam ukuran dan tas serta 500—600 perhiasan per bulan.

Ban dalam bekas sebagai bahan dasar membuat aneka kerajinan.

Ban dalam bekas sebagai bahan dasar membuat aneka kerajinan.

Peduli lingkungan
Meski terbuat dari limbah barang kreasi Sindu banyak peminat. Selain dari dalam negeri, konsumen Sindu berasal dari mancanegara seperti Belanda, Perancis, Inggris, dan Australia. Bahkan pelanggan dari Negeri Kincir Angin mengajukan diri sebagai distributor aksesori milik Sindu untuk negara-negara di Eropa. Mengapa para konsumen terutama dari luar negeri sangat tertarik dengan produk buatan Sindu?

Baca juga:  Dokter ke Pabrik Herbal

Musababnya produk itu mengaplikasikan konsep keberlanjutan (sustainability) dalam kehidupan sehari-hari. Barang-barang itu juga meningkatkan kesadaran untuk peduli pada lingkungan. Sindu membentuk kelompok Sapu Upcycle untuk memproduksi kerajinan itu.

Tenaga kerja berasal dari masyarakat di sekitar tempat produksi di Desa Gambir, Kecamatan Argomulyo, Kotamadya Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Pekerja di kelompok yang berdiri pada 2010 itu juga berasal dari remaja yang berpendidikan rendah. Sindu juga melibatkan anak jalanan dalam proses produksi. Dampaknya kegiatan di komunitas itu pun mengurangi kenakalan remaja.

Tas kecil dari tenda tentara bekas.

Tas kecil dari tenda tentara bekas.

Ando contohnya. Sebelumnya ia bergabung dengan geng punk yang setiap hari nongkrong di pinggir jalan. Kini Ando menjadi anggota staf bagian potong dan berperan memilih motif ban dalam komunitas. Menurut Sindu perekrutan anggota dilakukan bertahap melalui proses seleksi dan pelatihan dalam periode tertentu. Harapannya para calon anggota paham dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan.

Singkatnya kehadiran komunitas membuka lapangan pekerjaan. Jika produksi bertambah semakin banyak tenaga kerja yang diperlukan. Kata upcycle pada nama komunitas memiliki arti lebih luas daripada recycle (mendaur ulang). Sindu menuturkan kegiatan upcycle mengubah barang bernilai ekonomi rendah menjadi berkualitas tinggi dan bernilai positif.

Sindu pendiri Komunitas Sapu Upcycle.

Sindu pendiri Komunitas Sapu Upcycle.

Berinovasi
Terbentuknya Komunitas Sapu berawal saat Sindu tergabung dalam Komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK). TUK menggunakan kesenian untuk mengedukasi masyarakat agar lingkungan menjadi lebih baik. Konsep itu diterapkan Sindu dalam komunitas kreasinya. Sapu Upcyle membuat produk kesenian dari limbah seperti ban bekas, botol plastik bekas, dan majalah bekas menjadi barang yang lebih berkualitas.

Baca juga:  Kilat Kupas Kentang

Semula pria kelahiran Salatiga, 7 Maret 1979 itu menggunakan bahan plastiik untuk membuat kerajinan. Hasilnya tidak memuaskan karena barang kurang kuat dan awet. Setelah beberapa kali uji coba, ia memutuskan menggunakan ban bekas karena cocok. Saat itu ia optimis barang bikinannya bakal berkembang. Sebab saat itu belum ada yang menggunakan ban bekas sebagai bahan tas dan aksesori.

Untuk pemasaran produk Sindu menitipkan barang kepada 2 toko di Yogyakarta dan Bali. Dari situlah konsumen mengenal barang kreasi Sindu. Ia juga mempromosikan pengolahan limbah ban dalam bekas melalui laman daring atau online. Agar usahanya berkembang Sindu melakukan sejumlah inovasi. Ia menyelenggarakan sejumlah pelatihan pengolahan limbah ban dalam bekas kepada para pelajar dan warga desa.

Tempat pensil kreasi Komunitas Sapu Upcycle.

Tempat pensil kreasi Komunitas Sapu Upcycle.

Selain itu ia juga memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk bergabung menjadi bagian komunitas Sapu Upcyle. Sindu pun menciptakan produk-produk baru agar bisa bersaing dengan kompetitor. Misal bingkai foto dari kayu bekas dan tas dari limbah tenda tentara. Laba hasil penjualan tidak hanya Sindu dan komunitas saja yang menikmati.

Warga desa tempat komunitas berdiri pun merasakan manfaat serupa. Ia memberikan donasi kepada desa sebagai dana pengembangan. Artinya pengolahan limbah berdampak positif kepada lingkungan dan masyarakat. Ban bekas yang semula mencemari lingkungan dan tak berguna, di tangan Sindu menjadi komoditas bernilai tinggi. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts