Olah Kayu Jadi Sosis 1
Wood pellet tingkatkan nilai tambah limbah biomassa

Wood pellet tingkatkan nilai tambah limbah biomassa

Beragam kayu, bahkan limbahnya amat potensial sebagai bahan baku pelet kayu.

Halaman belakang PT Solar Park Indonesia di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, bak penampungan kayu. Tumpukan potongan kayu setinggi  2 m memenuhi area seluas 3 kali lapangan bola. Atap berbahan plastik melindungi tumpukan kayu itu dari air hujan. Tumpukan kayu limbah produksi kayu lapis itu lazimnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Namun, Solar Park Indonesia mengolah lebih lanjut onggokan kayu itu menjadi wood pellet atau pelet kayu.

Pelet merupakan biomassa yang dihaluskan berbentuk menyerupai pelet atau pakan ikan. Masyarakat Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, menyebut pelet kayu dengan sebutan sosis kayu. Harap mafhum bentuk pelet itu memang menyerupai sosis berukuran mini. Pelet kayu sengon mempunyai nilai kalori 4.600—4.700 kilokalori (kkal) per kg. Bandingkan ketika masih berupa kayu memiliki nilai bakar 3.000 kkal per kg. Artinya pembuatan pelet bakal meningkatkan daya bakar. Selain itu penggunaan pelet kayu juga menekan abu sisa pembakaran.

Kayu sengon salah satu bahan baku pelet kayu

Kayu sengon salah satu bahan baku pelet kayu

Bahan baku

Bahan baku pelet kayu amat beragam. Selain limbah kayu seperti tampak di halaman PT Solar Park Indonesia bahan bakar terbarukan itu juga dapat dibuat dari serbuk gergaji, sekam, daun, dan rumput. Menurut Andre, pengendali mutu dan penyelia pemasaran PT Solar Park Indonesia, limbah kayu sengon hanya salah satu bahan baku pelet kayu. Limbah lain yang potensial berupa serbuk gergaji serta planner alias bekas serutan kayu. Singkat kata semua biomassa berpotensi sebagai pelet kayu.

“Cara pengolahannya berbeda, tergantung kadar air bahan baku,” kata Andre. Bahan baku stik atau limbah kayu lapis berkadar air 20%. Mula-mula potoongan-potongan kayu sepanjang 30—40 cm dengan lebar 2—3 cm itu masuk ke mesin pengeping (chipper). Mesin itu memperpendek ukuran kayu menjadi 1 cm. Kapasitas mesin pengeping mencapai  15 ton per jam. Selanjutnya potongan-potongan kecil iitu masuk ke mesin penyerbuk alias hammer mill.

Park See Woo, Indonesia potensial dengan sumber bahan baku pelet kayu

Park See Woo, Indonesia potensial dengan sumber bahan baku pelet kayu

Serbuk lantas masuk ke pengering putar (rotary dryer) sepanjang 15 m dan diameter 1,5 m selama 5 menit. Suhu pemanasan berkisar 120—125C. Usai “pemanggangan”, kadar air serbuk turun menjadi 10—15%. Serbuk itu siap untuk diproses menjadi pelet. Jika mengolah serbuk gergaji, maka bahan itu tidak melalui mesin pengeping. Sebab, limbah gergajian kayu itu berbentuk serbuk.

Baca juga:  Nilai Plus Sengon Plus

“Namun, kadar air serbuk gergaji lebih tinggi daripada limbah kayu, mencapai 40—50%,” ungkap Asran Pairat, kepala pabrik. Serbuk masuk ke mesin pengering dengan ukuran, waktu, dan suhu yang sama seperti pada limbah kayu. Setelah melewati tahap itu, kadar air serbuk gergaji turun menjadi 25—30%. Agar kadar air turun menjadi 10—15% seperti yang disyaratkan, serbuk gergaji mesti melewati satu tahap lagi pengeringan. Serbuk lantas memasuki mesin pengering putar kedua sepanjang 5 m dan diameter 1,5 m. Suhu dan waktu pengeringan sama dengan pengering putar pertama. Setelah, kadar air tinggal 10—15%, serbuk pun siap dibuat menjadi pelet.

Bahan baku ketiga adalah serutan kayu dengan kadar air 15—20%. Serutan kayu berasal dari industri kayu di sekitar pabrik. Dengan kadar air relatif rendah, serutan kayu tidak melewati pengepingan maupun pengeringan. Bagian produksi PT Solar Park Indonesia biasanya mencampur ketiga bahan baku itu—serbuk gergaji, serutan kayu, dan limbah kayu lapis. Tidak ada perbandingan khusus untuk masing-masing bahan baku. Tujuan pencampuran sendiri untuk menyiasati ketersediaan bahan baku. Proses itu dilakukan dalam gudang khusus berukuran 10 m x 30 m.

Campuran bahan baku mengalir dari gudang pencampuran menuju pelletizer

Campuran bahan baku mengalir dari gudang pencampuran menuju pelletizer

Produksi 2.500 ton

Sebuah ban berjalan membawa hasil pencampuran ketiga bahan baku dari gudang menuju tangki penampung setinggi 12 m. Beberapa produsen pelet kayu acap menambahkan perekat untuk mengikat serbuk. PT Solar Park tidak memanfaatkan perekat tambahan. “Perekat cukup memanfaatkan lignin atau perekat alami kayu,” ungkap Direktur Utama PT Solar Park, Park See Woo,

Dari tangki penampung, serbuk kemudian masuk bagian pencetak pelet atau pelletizer. Dengan 3 mesin pemelet berkapasitas masing-masing 3,5 ton, total jenderal produksi mencapai 10,5 ton bahan baku dalam satu jam. Mesin itu menghasilkan pelet berdiameter 6—8 mm dengan panjang 3 cm. “Ukuran 8 mm lazim dimanfaatkan sebagai bahan bakar pabrik, sementara untuk rumah tangga biasanya berdiameter 6 mm,” tutur Asran.

Baca juga:  Seleksi Dini Demi Mutu

Selanjutnya ban berjalan setinggi 11 m mengantarkan pelet menuju mesin pendingin. Di pendingin itu, suhu pelet kayu yang mencapai 60—80C didinginkan hingga suhu ruang. Selanjutnya pelet dimuntahkan dari ketinggian 11 m ke lantai penampungan. Kadar air pelet itu tinggal 6—8% semula 10—15%. Sekilogram bahan baku menghasilkan 0,75—0,8 kg pelet, tergantung kadar air bahan baku. Artinya rendemen pembuatan pelet kayu relatif tinggi, yakni 75—80%.

Pelet kayu sengon mempunyai nilai kalori 4.600—4.700 kilokalori (kkal) per kg

Pelet kayu sengon mempunyai nilai kalori 4.600—4.700 kilokalori (kkal) per kg

Bak curahan hujan, pelet yang sudah dicetak bisa menggunung hingga ketinggian 9—10 m. Setelah didiamkan 10—15 menit, PT Solar Park Indonesia kemudian mengemas pelet kayu itu dalam kemasan 900 kg ataupun 15 kg. Kemasan besar untuk kayu industri. Sementara kemasan 15 kg untuk rumah tangga. Setiap satu bulan PT Solar Park memproduksi 2.000—2.500 ton pelet kayu.

PT Solar Park Indonesia menggeluti produksi pelet bahan bakar di tanahair  karena ketersediaan bahan baku melimpah (baca Pelet Energi Gres Trubus November 2013). Harga jual pelet kayu juga menggiurkan, Rp3.500 per kg. Perusahaan itu mengekspor pelet kayu ke Korea Selatan. Masyarakat Negeri Giniseng itu memanfaatkan pelet kayu untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak.  (Faiz Yajri, kontributor Trubus)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *