Obor Merah Taman Tegak 1
Taman vertikal berukuran 12 m x 18 m di kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Taman vertikal berukuran 12 m x 18 m di kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Taman bergambar logo Universitas Padjadjaran itu berdiri tegak secara vertikal.

Obor, kujang, sayap, roda, bunga teratai, dan perisai segilima menyatu di atas bidang datar berukuran 12 m x 18 m. Logo Universitas Padjadjaran itu terus tumbuh dan hidup. Warnanya menyala tatkala sinar mentari menyentuhnya. Harap mafhum, simbol perguruan tinggi yang tahun ini berumur 58 tahun itu terbuat dari tanaman hias berwarna-warni yang terusun rapi.

“Total sekitar 20.000 tanaman,” kata Roni Hartanto Gunawan, desainer taman dinding di depan ruang rektorat itu. Dua kali sehari pada pukul 10.00 dan 16.00 masing-masing 30 menit taman vertikal itu terguyur air secara otomatis. Air naik melalui pipa-pipa di balik tanaman. Sebuah pompa berkekuatan 2 PK mendorong air ke atas. Kemudian turun mengikuti gaya gravitasi.

Roni Hartanto Gunawan butuh sebulan mendesain taman vertikal di Universitas Padjadjaran

Roni Hartanto Gunawan butuh sebulan mendesain taman vertikal di Universitas Padjadjaran

Daun mencolok
Menurut Roni pembuatan taman vertikal dengan tema logo lebih sulit dibanding tema biasa seperti garis-garis, tulisan, atau pola lingkaran. “Pembuatannya lebih detail dan butuh perencanaan matang,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, itu. Roni mesti memperhitungkan tingkat kerapatan, perpaduan warna komponen tanaman, dan tingkat pertumbuhan tanaman.

Menurut praktikus taman dinding di Bogor, Jawa Barat, Ir Slamet Budiarto, salah satu kesulitan membuat taman dinding dengan tema logo atau bentuk tertentu seperti hewan adalah pemilihan komponen tanaman. “Pada tema tertentu seperti hewan lebih sulit dibanding pola biasa seperti garis atau gelombang. Sebab, batas gambar dengan latar harus terlihat tegas,” ujar Slamet.

Oleh karena itu menurut Slamet desainer perlu memilih perpaduan tanaman-tanaman berwarna terang seperti kuning dan merah atau hijau dan jingga. Keberhasilan kombinasi tampak saat tanaman terpapar sinar matahari. Roni menggunakan perpaduan warna kuning dan merah. Selain sesuai dengan warna logo, kombinasi itu mencolok. Garis batas antarkeduanya terlihat tegas. “Untuk warna kuning, saya menggunakan tanaman ligustrum Ligustrum ovalifolium,” katanya.

Baca juga:  Duri Tajam Tetap Sentosa

Untuk warna merah, Roni menggunakan tanaman bayam-bayaman Amaranthus sp. Sementara untuk putih ia menggunakan tanaman bawang-bawangan. Untuk latar, Roni memilih tanaman sukulen seperti bromeliad, paku-pakuan, adam hawa Rhoe discolor, dan lili paris. Tanaman hias itu memang lazim sebagai komponen taman sehingga mudah beradaptasi. Beragam tanaman hias itu tumbuh di media tanam campuran kompos dan sabut kelapa dengan perbandingan 1 : 1.

Taman dinding dengan tema tertentu lebih sulit dibuat, biasanya berpola abstrak seperti di arena Floriade, Belanda

Taman dinding dengan tema tertentu lebih sulit dibuat, biasanya berpola abstrak seperti di arena Floriade, Belanda

Soal karakter tanaman, Roni memilih tanaman hias yang tahan terhadap hama dan penyakit serta pertumbuhannya lambat. Kelompok tanaman itu di antaranya sukulen dan semak. “Tanaman hias bertipe seperti itu bunganya tidak bagus, lebih ke corak daun,” ujarnya. Harap mafhum, Roni memang tak mengandalkan bunga tanaman-tanaman itu melainkan warna daun yang bervariatif dan mencolok.

Biaya perawatan
Menurut dosen di Departemen Arsitektur Lansekap, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Nizar Nasrullah MAgr, sebetulnya hampir semua jenis tanaman bisa menjadi komponen taman dinding seperti tanaman paku-pakuan, merambat, dan sukulen. “Yang penting tinggi tanaman maksimal 50 cm agar penampilan taman tetap serasi,” tutur Nizar. Namun, sebaiknya hindari menggunakan tanaman berkayu. Nizar mengatakan tanaman berkayu dapat tumbuh secara vertikal dan tak beraturan sehingga bisa merusak estetika taman.

Roni mendesain taman itu bersama 4 rekannya sejak Juli 2014 dan selesai sebulan kemudian. Biaya pembuatannya mencapai Rp700.000 per m2. “Biaya perawatan Rp18.500 per m2 bulan. Biaya termasuk pupuk, pangkas, dan penggantian tanaman jika ada yang mati,” ujar Roni. Para petugas datang setiap hari untuk merawat taman terutama mengecek kondisi pompa.

Pemupukan AB mix dengan electrical conductivity (EC)—tingkat kepekatan nutrisi hidroponik—3 sepekan sekali. “Sistem perawatannya seperti pada hidroponik, pupuk yang digunakan pun sama,” kata Roni yang juga mengebunkan sayuran hidroponik. Petugas memangkas tanaman dua bulan sekali. Mereka memotong ranting-ranting yang tumbuh tak teratur, membersihkan dedaunan kering yang rontok, dan mengganti tanaman yang mati.

Tanaman adam hawa berdaun merah sebagai latar, menambah kesan semangat yang terus menyala

Tanaman adam hawa berdaun merah sebagai latar, menambah kesan semangat yang terus menyala

Menurut Roni pembersihan taman vertikal dari tanaman lain sangat penting. Apalagi lokasi taman itu berdekatan dengan area taman dan pertanaman lain. Para petugas membersihkannya 2 kali sepekan. “Karena lokasinya dekat dengan tanaman-tanaman lain, kadang-kadang ada biji yang terbawa angin dan menempel di media tanam taman dinding,” katanya. Saat tanaman liar itu tumbuh dan besar, bentuk dan warnanya akan merusak pola warna yang sudah terbentuk.

Baca juga:  Atasi Serangan Potong Leher

Roni sengaja memberi ruang antartanaman agar angin masih bisa menembus taman vertikal itu. “Kalau di dinding bangunan enak tidak tertiup angin dari belakang. Kalau di ruang terbuka khawatir roboh terkena angin,” kata pria 27 tahun itu. Kini taman vertikal itu berumur 7 bulan. Taman itu tampak sangat indah dengan obor merah yang terus tumbuh dan hidup sebagai simbol ilmu yang merupakan suluh penerangan kehidupan dan membawa cahaya bahagia menuju keluhuran budi. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments