Obor Bagi Petani Kedelai 1
Peningkatan dan perluasan penanaman kedelai mengantarkan Indonesia menuju swasembada kedelai.

Peningkatan dan perluasan penanaman kedelai mengantarkan Indonesia menuju swasembada kedelai.

Penyuluh mendampingi para petani untuk memperluas dan meningkatkan panen kedelai.

Muslikah, S.P., penyuluh di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sukses meningkatkan panen kedelai di lahan petani hingga 2,3 ton kedelai per hektare.

Muslikah, S.P., penyuluh di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sukses meningkatkan panen kedelai di lahan petani hingga 2,3 ton kedelai per hektare.

Penyuluh pertanian, Muslikah, semringah melihat hasil panen kedelai para petani Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, meningkat. Petani mampu panen hingga 2,3 ton kedelai per hektare. Volume panen itu melampui produktivitas rata-rata kedelai nasional yang hanya 1,3 ton per hektare. Yang menggembirakan, petani mendapat harga jual Rp7.600 per kg sehingga beromzet Rp17,48 juta. Biaya produksi kedelai di Grobogan mencapai Rp13,17 juta per ha.

Muslikah sudah menduga petani bakal memperoleh panen yang memuaskan. “Selama masa budidaya tanaman tumbuh sehat dan berpolong padat,” katanya. Bandingkan dengan panen tahun-tahun sebelumnya. Petani hanya mampu menuai paling banter 1 ton per hektare. Harga jual pun sangat rendah, yakni Rp1.500 per kg. Muslikah menuturkan panen rendah karena petani kurang optimal. “Harga jual yang rendah membuat mereka setengah hati menanam kedelai,” kata Muslikah. Sebagian petani malah enggan menanam kedelai lagi.

Untung

Pada musim tanam 2017, Muslikah meyakinkan petani untuk serius menanam kedelai. “Saya ingin mengobati kekecewaan petani, sekaligus membuktikan kalau berkebun kedelai menguntungkan asal dilakukan dengan benar,” katanya. Soal harga petani pun tak perlu risau sebab pemerintah bersedia membeli dengan harga Rp8.500. Lambat laun petani bersedia bercocok tanam kedelai kembali. Mereka menanam kedelai lokal varietas grobogan berjarak tanam 20 cm x 10 cm atau 20 cm x 35 cm.

Joko Suseno, S.P. (kanan) menangani area penanaman kedelai hingga 847 hektare di Kecamatan Bandarsribawono, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Sementara Gunawan SP berhasil mengajak petani sayur di Garut untuk menanam kedelai.

Joko Suseno, S.P. (kanan) menangani area penanaman kedelai hingga 847 hektare di Kecamatan Bandarsribawono, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Sementara Gunawan SP berhasil mengajak petani sayur di Garut untuk menanam kedelai.

Untuk kebutuhan nutrisi per hektare lahan, petani menaburkan 100 kg kompos, 150 kg phonska, dan 2 liter pupuk organik cair. Petani memanen kedelai pada umur 75 hari setelah tanam. Hasil panen terjual dengan Rp7.600. “Harga itu memang masih di bawah harga yang dijanjikan, tetapi petani sudah untung,” kata Muslikah. Maklum, pada panen raya sering kali harga anjlok. Muslikah mendampingi 3 kelompok tani terdiri atas 100 petani.

Baca juga:  Puasa Minus Gangguan

Berkat jasanya meningkatkan produksi kedelai di Grobogan, Muslikah mendapat penghargaan sebagai penyuluh kedelai terbaik dari Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian.
Rekannya, Joko Suseno, Debi Lembong, dan Gunawan juga meraih prestasi serupa. Joko Suseno, penyuluh di Kecamatan Bandarsribawono, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, sukses mengembangkan penanaman kedelai hingga 847 hektare.

Joko menerapkan budidaya tumpangsari jagung dan kedelai. “Saya melakukan inovasi itu lantaran tidak mudah mengubah kebiasaan petani dari tanam jagung ke kedelai,” ujarnya. Lantaran menerapkan sistem tumpang sari, petani hanya memanen 600 kg kedelai per hektare.

Menurut Joko hasil panen itu tergolong minim. “Bandingkan jika petani menanam kedelai monokultur panen yang didapat pasti dua kali lipat,” katanya. Namun, produksi yang rendah itu justru membuat Joko kian bersemangat. Pasalnya, kedelai dari kebun petani lokal berpeluang untuk memasok kebutuhan kedelai nasional dan berpeluang untuk swasembada.

Terbaik

Hasan Latuconsina, S.P., M.Si., Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama, Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian.

Hasan Latuconsina, S.P., M.Si., Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama, Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian.

Sementara itu Gunawan, penyuluh di Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pun sukes mengembangkan kedelai di area penanaman sayuran yang berbukit-bukit. Sebanyak 60% area yang ditanami kedelai adalah lahan budidaya sayur-mayur, sisanya 40% area hutan. Semula petani menolak menanam kedelai karena sudah terbiasa dengan sayuran. Namun, Gunawan gigih meyakinkan petani mengingat pasar kedelai terbuka lebar.

Apalagi banyak pabrik tahu di Garut yang membutuhkan pasokan kedelai. Lambat-laun petani luluh dan bersedia menanam kedelai. Hasilnya Gunawan sukses memanfaatkan 90 hektare lahan untuk budidaya kedelai dengan hasil panen 1,4 ton per hektare. Adapun Debi Lembong berhasil meyakinkan petani untuk menanam kedelai di Kecamatan Tengak, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Baca juga:  Rindu Senja Memerah di Talaud

Debi menangani 40 hektare lahan kedelai monokultur. Petani menanam varietas anjasmoro dan baluran. Tidak mudah bagi Debi mengajak petani setempat untuk membudidayakan kedelai. “Mereka sudah lama menanam jagung,” ujarnya. Untuk berkomunikasi lebih dekat dengan petani.

Debi Lembong, S.P. dari Kecamatan Tengak, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, mendapat penghargaan sebagai penyuluh kedelai terbaik.

Debi Lembong, S.P. dari Kecamatan Tengak, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, mendapat penghargaan sebagai penyuluh kedelai terbaik.

Menurut Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama, Pusat Penyuluhan Pertanian, Hasan Latuconsina S.P., MSi, keempat penyuluh itu memberikan pendampingan terbaik di wilayah masing-masing. “Tidak mudah bagi penyuluh untuk mencapai target itu karena petani telanjur menganggap kedelai sebagai komoditas yang sulit ditanam,” kata Hasan.

Namun, fakta menunjukkan pengawalan dan pendampingan yang dilakukan terus-menerus membuktikan banyak area yang bisa ditanami kedelai. Hasil panen pun memuaskan. Penanaman kedelai juga tak melulu di lahan produktif. Di bawah naungan jati pun bisa ditanam kedelai. “Kementerian Pertanian ingin memanfaatkan lahan-lahan sekunder untuk kedelai,” kata Hasan Latuconsina. Maklum, selama ini lahan-lahan didominasi padi dan jagung. Padahal, kedelai juga berpotensi dikembangkan. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *