Obat di Balik Pedas 1
Daun dan buah cabai bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan kecantikan

Daun dan buah cabai bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan kecantikan

Tidak sekadar nikmat, cabai ternyata menyimpan banyak khasiat.

Indonesia memang salah satu konsumen cabai sejati. Buah pedas itu lazim menjadi bumbu beragam olahan. Hidangan khas etnis Minang, misalnya, identik dengan pedasnya cabai. Bukan hanya buahnya, daun muda tanaman Capsicum sp itu pun dapat dikukus sebagai lalapan. Rasanya, tak kalah lezat dengan daun lalapan lainnya.

Di balik kelezatan santapan berlumur si pedas tersimpan kebaikan yang kerap terlupakan. Kandungan vitamin C dan betakaroten buah tanaman asal Amerika tropis itu ternyata lebih tinggi dibandingkan buah-buahan seperti mangga, nanas, semangka, dan pepaya. Berdasarkan data Agricultural Research Service, Departemen Pertanian Amerika Serikat, kadar kalsium cabai rawit lebih tinggi dibandingkan ikan lele yakni 148 mg per 100 g berbanding 14 mg per 100 g.

Spesies cabai yang banyak dibudidayakan di mancanegara antara lain Capsicum annuum, Capsicum baccatum, Capsicum chinense, Capsicum pubescens, dan Capsicum frutescens. Jenis yang banyak dimanfaatkan di tanahair yakni cabai rawit C. frutescens, cabai merah Capsicum annuum, dan cabai keriting Capsicum annuum var longum.

Cabai mengandung capsaisin yang dapat merangsang saluran cerna

Cabai mengandung capsaisin yang dapat merangsang saluran cerna

Cabai rawit

Dibandingkan cabai merah dan cabai keriting, cabai rawit yang berukuran lebih mungil kerap dikonsumsi segar sebagai penambah selera makan. Alih-alih hanya sebagai pemuas nafsu makan, buah, akar, daun dan batang cabai rawit berkhasiat. Penelitian modern tentang khasiat cabai rawit pertama kali dilakukan John Gerard. Dalam buku “The Herball or Generall Historie of Plantes” yang terbit pada 1597, ahli botani itu mengungkap khasiat cabai rawit Capsicum frutescens.

Berdasarkan penelitian pada 1652, ahli botani Inggris, Nicholas Culpeper menyatakan cabai rawit dapat mengobati sakit gigi, melancarkan pencernaan dan berurine, serta mengeluarkan batu ginjal. Pengajar di Sekolah Terapi Natural, Springville, Amerika Serikat, dr Richard Schzul, menyatakan vitamin C dan bioflavonoid dalam cabai rawit mencegah serangan jantung. Kedua zat itu memperkuat dinding pembuluh balik dan mempertahankan elastisitas pembuluh darah.

Baca juga:  Musuh Baru Hipertensi

Konsumsi cabai rawit mengurangi rasa sakit pada gejala angina pectoris—nyeri hebat di dada akibat otot jantung kekurangan darah. Kapsaisin—bahan aktif cabai penyebab rasa pedas—mudah menerobos masuk ke meridian jantung kemudian memompa darah dan nutrisi ke otot jantung. Lebih hebat lagi, penelitian yang diterbitkan pada “Journal of Idaho Observer” pada Mei 2003. Riset itu menyatakan sebuah jaringan di jantung mampu hidup dan berkembang hanya dengan pemberian ekstrak cabai rawit.

Kapsaisin yang terdapat pada cabai berpotensi sebagai bahan produk antiselulit

Kapsaisin yang terdapat pada cabai berpotensi sebagai bahan produk antiselulit

Kandungan kapsaisin

Efek farmakologis cabai rawit lantaran bahan aktif kapsaisin. Zat itu tersimpan dalam minyak di dalam tangkai putih bagian dalam cabai. Kapsaisin bersifat tidak larut dalam air tetapi larut dalam minyak. Senyawa aktif itu membangkitkan sensasi pedas dan panas yang tak hanya dirasakan tubuh—khususnya lidah saat mengunyah—tetapi juga kulit. Zat itu meningkatkan nafsu makan dan berefek seperti candu. Rasa pedas menimbulkan rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorfin alias hormon yang diproduksi tubuh ketika dalam kondisi rileks yang berfungsi untuk menenangkan. Kapsaisin juga melancarkan aliran darah.

Endorfin mengurangi rasa sakit dengan menimbulkan perasaan nyaman dan rileks. Keluarnya endorfin secara tidak langsung meningkatkan imunitas tubuh. James A. Duke PhD dalam “Panduan Tentang Tanaman Obat” menyebutkan, kapsaisin efektif menghilangkan rasa sakit. Penelitian lain menyebutkan bahwa selain menghilangkan nyeri sakit kepala, kapsaisin juga berguna untuk mengatasi artritis atau radang sendi.

Manfaat lain, sebagai pelangsing. Kapsaisin merangsang saluran cerna sehingga membantu gerakan peristaltik usus besar dengan merangsang sekresi lambung. Imbasnya, tubuh dapat membuang sisa pencernaan dengan lancar dan membentuk asam klorida guna mencerna sari makanan. Dalam penggunaan secara topikal—di bagian luar tubuh, kombinasi kapsaisin dan kafein digunakan sebagai pembakar lemak dalam produk antiselulit atau pelangsing tubuh. Mengingat ragam efek farmakologis yang ditimbulkannya, pantas jargon kecil-kecil cabai rawit berkembang di masyarakat. Meski kecil, pedasnya nyata berkhasiat. (dr Soeklola MSi, dokter herbal estetika)

Baca juga:  Taji Tanpa Biji

cover 1234.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *