Nutrisi Tepat Agar Pertumbuhan Kurma Optimal

Nutrisi tepat agar produksi dan pertumbuhan kurma optimal.

Bibit kurma berumur setahun itu tumbuh subur, sehat, dan berdaun lebat. Anak daun hijau keperakan, tersusun rapat di tangkai yang tebal dan kokoh. Daun sepanjang 125 cm, lazimnya panjang daun itu dicapai saat tanaman berumur 16—18 bulan. Diameter batang 25 cm. “Saya ingin membuktikan bahwa anakan yang dipisahkan dari induk, bisa juga cepat tumbuh,” kata Syaiful Ichsan, pekebun kurma di Bekasi, Provinsi Jawa Barat.

Anakan akan cepat tumbuh dan siap dipisahkan dari indukan.

Anakan akan cepat tumbuh dan siap dipisahkan dari indukan.

Pertumbuhan tanaman yang optimal itu karena Syaiful rutin memberi bioaktivator setiap 2 pekan dengan konsentrasi 10 ml per 3 liter air. Ia lalu menyemprotkan satu liter larutan bioaktivator ke seluruh permukaan daun kurma. Selain itu ia juga menyiramkan 2 liter larutan bioaktivator atau pupuk cair ke tanah tempat tumbuh kurma. Syaiful Ichsan rutin memberikan bioaktivator sejak tanaman berumur 1 bulan setelah pisah dari induk.

Unsur makro
Nutrisi itu meningkatkan fungsi tumbuh organ tanaman dalam pertumbuhan vegetatif. Bahan dasar pupuk cair itu adalah ikan salmon yang melalui proses fermentasi. Syaiful menduga ada berbagai mikrob di dalam pupuk cair itu. Meski kurma berhabitat asli di gurun pasir yang marginal, pemberian nutrisi yang cukup memacu pertumbuhannya yang lebih baik. Kurma cepat tumbuh dan produktif bila mendapat hara yang mengandung unsur makro dan mikro.

Unsur mikro berupa magnesium, kalsium, klorin, boron, kobalt, tembaga, besi, dan molibdenum. Kini di pasaran banyak tersedia pupuk gabungan unsur makro dan mikro. Pekebun kurma di Thailand memberi nutrisi ke tanaman sebelum tanam (pupuk dasar) dan sesudah tanam (pupuk susulan).

Mereka mencampurkan pupuk dasar itu dengan tanah dan sekam kemudian memasukkan dalam lubang tanam. Setelah tanaman tumbuh, para petani memberi pupuk susulan sesuai perkembangan tanaman. Setiap pekebun mempunyai metode pemberian pupuk dengan formula berbeda.

Pekebun di Kanchanabury, Thailand, Anurak Boonlue, misalnya, memberikan pupuk NPK berkadar N tinggi (20:7:7) pada masa pertumbuhan vegetatif atau tanaman berumur 1—3 tahun.

Bila nutrisi cukup tersedia, kurma cepat tumbuh dan berbuah optimal.

Bila nutrisi cukup tersedia, kurma cepat tumbuh dan berbuah optimal.

Setiap pohon mendapat 1—3 kg pupuk setiap 3 bulan. Setelah memasuki umur generatif, 3—4 tahun, Anurak mengganti pupuk NPK tanpa N, yaitu (0:15:15), volumenya juga 3 kg. Selain itu, setiap 3 bulan ia rutin memberikan pupuk kandang sapi sebanyak 30 kg per tanaman berumur 4 tahun. Lain lagi cara Parichat Chaleekure dan Suparavee Thamjarukam memupuk kurma.

Petani di Pakhai, Ayuthaya, Thailand, itu memberikan pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi, 21:15:15. Ia memberikan pupuk itu 1 bulan setelah tanam dan mengulangi setiap bulan secara rutin. Setelah itu ia mengganti pupuk NPK dengan kadar fosfor tinggi (15:21:15).

Pemberiannya rutin setiap bulan hingga tanaman berbunga. Parichat kembali mengganti dengan pupuk NPK seimbang 15:15:15 sejak buah berukuran kecil hingga sebulan sebelum buah panen.

Jatah betina
Parichat juga memberikan pupuk NPK seimbang. Selain itu, ia memberikan pupuk kandang setiap 6 bulan sekali sebanyak 3 kg per pohon tanaman umur 4 tahun. Adapun Pratin Apicathsanee memberikan pupuk susulan 3 kali dalam setahun. Pada fase vegetatif, yaitu Mei, ia memberikan pupuk seimbang, yaitu NPK 15:15:15 dengan dosis 1 kg untuk tanaman berumur di atas 1 tahun.

Pada bulan Oktober atau November, tanaman memasuki fase generatif, ia memberikan NPK seimbang berkadar 24:24:24 dengan dosis 1 kg per pohon. Setelah panen pada bulan Agustus, Pratin memberikan 80 kg pupuk kandang, berupa 50 kg pupuk kotoran ayam, dan 30 kg kotoran sapi per pohon kurma betina. Jatah untuk pohon kurma jantan hanya 20 kg pupuk kotoran sapi. Pohon betina memperoleh jatah lebih banyak pupuk karena memproduksi buah.

Pemupukan untuk kurma di Indonesia dilakukan secara bertahap. Rekomendasi yang dianjurkan ialah 300 g kalium sulfat sebulan setelah tanam dan ulangi 4 pekan kemudian. Setelah itu berikan 250 g sulfat ammonia 2 bulan setelah tanam dan ulangi 6 pekan kemudian.

Untuk pembibitan, bisa pula diberikan pupuk organik dengan kadar N 5,5%; P, 0,75%; dan K, 1,6%. Cara pemberian dengan mencampur 5ml pupuk organik per liter air. Pemberian dilakukan setiap 2 bulan.

Penghitungan volume pupuk yang diberikan berdasarkan nutrisi yang hilang setelah panen dan pemangkasan. Dalam luasan 1 ha, dengan populasi 120 pohon, kehilangan yang terjadi 29 kg nitrogen, 5 kg fosfat, dan 70 kg kalium. Sementara pemangkasan daun mengakibatkan hilangnya 25 kg nitrogen, 2 kg fosfat, dan 74 kg kalium.

Untuk menghasilkan 50 kg kurma per pohon, tanaman memerlukan 45 kg nitrogen, 13,5 kg fosfat, dan 81 kg kalium.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags: