Nirwana Hingga Akhir Masa 1
Lengguru menyimpan sepertiga spesies king fisher dunia, salah satunya cekakak pita biasa

Lengguru menyimpan sepertiga spesies king fisher dunia, salah satunya cekakak pita biasa

Burung berbulu biru muda dengan bulu sayap biru tua itu bertengger di dahan. Berkali-kali ia menggosokkan paruh merah jingganya ke dahan, menandakan ia baru selesai menikmati santapannya. Sesekali ia mengembangkan sayap dan membersihkan tubuh yang tertutup sayap, memperilhatkan bulu putih yang kontras dengan kepala maupun sayapnya. Dengan warna seronok cekakak pita biasa itu tampak genit.

Apalagi 2 helai ekor yang menjulur 3 kali panjang tubuh, penampilan Tanysiptera galatea itu bagaikan silangan antara burung rajaudang dan cenderawasih. Meskipun berjuluk king fisher maupun raja udang, makanan cekakak dan kerabat golongan kukabura anggota famili Alcedinidae tidak melulu ikan atau udang. Mereka juga memangsa siput, serangga, reptil, katak, bahkan mamalia kecil.

Burung cabai kelas Dicaeidae menyebarkan benih tanaman

Burung cabai kelas Dicaeidae menyebarkan benih tanaman

Namun caranya hampir sama, mengandalkan sergapan secepat kilat dan paruh setajam belati untuk menangkap mangsa. “Itu sebabnya mereka bertengger di dahan untuk mengintai calon mangsa di bawahnya,” kata Hidayat Ashari, ornitolog di Pusat Penelitian Zoologi LIPI Cibinong, Bogor. Cekakak “warga” asli dataran rendah Papua yang menghuni Provinsi Papua Barat, Papua, hingga Papua Nugini.

Bruce M Beehler dan rekan dalam “Burung-burung di Kawasan Papua, Papua Niugini, dan Pulau-pulau Satelitnya” menyatakan cekakak pita biasa juga ditemukan di Kepulauan Maluku. Namun, yang paling menarik, ekspedisi Lengguru mengungkapkan bahwa dari 63 spesies burung king fisher di dunia, sebanyak 21 di antaranya menghuni kompleks karst Lengguru, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Paruh bengkok terkecil di dunia dari Lengguru, Micropsitta pusio

Paruh bengkok terkecil di dunia dari Lengguru, Micropsitta pusio

Itu berarti Kaimana menyimpan sepertiga jenis king fisher dunia. Padahal, luas Kabupaten Kaimana—yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Fakfak, dengan luas wilayah—menurut laman daring (online) Kementerian Dalam Negeri—mencapai 16.241 km2. Itu kurang dari separuh luas Provinsi Jawa Barat, yang setelah dikurangi Banten, luasnya mencapai 35.377 km2.

Baca juga:  Manjakan Para Penarik Kail

Menurut Prof Johan Iskandar, ornitolog dan guru besar Fakultas Biologi Universitas Padjadjaran, kekayaan biodiversitas Indonesia tertinggi nomor 4 dunia. “Namun, soal kekayaan satwa endemik, Indonesia nomor satu,” tutur Johan. Prof Dr Ani Mardiastuti, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor menyatakan, kekayaan hayati wilayah Indonesia timur lantaran terjadi interaksi antara hewan dari dua wilayah, yaitu Asia dan Australia, serta terjadinya isolasi dalam waktu sangat lama.

“Akibatnya muncul spesies-spesies unik yang sama sekali berbeda dengan spesies asalnya,” tutur Ani. Spesies itu bersifat endemik, artinya hanya ada di lokasi itu. Selain raja udang, ekspedisi Lengguru menemukan jenis burung cabai kelas Dicaeidae yang belum teridentifikasi, diduga jenis baru. “Penampilannya tidak menarik, dengan warna dominan cokelat dan ukuran relatif kecil. Burung-burung yang cantik, besar, atau mempunyai keunikan tertentu biasanya mudah dikenali dan tercatat oleh dunia sains,” ungkap Hidayat.

Prof Johan Iskandar: Keunikan kawasan karst tidak ada duanya

Prof Johan Iskandar: Keunikan kawasan karst tidak ada duanya

Namun, sebagai kelompok pemakan buah, burung cabai memegang kunci penyebaran berbagai jenis flora, termasuk tanaman endemik Papua seperti beberapa jenis Syzygium alias kerabat jambu-jambuan atau Zingiberaceae atau tanaman jahe-jahean. Sejatinya beberapa peneliti dalam kelompok ornitolog ingin menemukan mambruk Goura cristata alias crowned pigeon.

Burung mambruk cantik dengan jambul menyerupai kipas dan tergolong burung sosial yang hidup bergerombol. Sayang, kecantikannya sebanding dengan kesulitannya. Dari beberapa kali pertemuan, anggota kelompok ornitologi hanya berhasil memotret seekor mambruk di dahan pohon ketika hari temaram, menghasilkan sekadar siluet yang kabur. Namun, siluet itu pun tetap menampakkan kecantikan sosok mambruk anggota kelompok merpati itu.

Kelimpahan itu menandakan kondisi alam Lengguru terjaga dengan baik sehingga mampu mendukung populasi berbagai jenis burung. Maklum, sebagai predator, burung raja udang sangat rentan terhadap gangguan habitat. Jika ketersediaan mangsa terganggu, dapat dipastikan populasi mereka pun terganggu. Apalagi, “Penebangan liar, perburuan, konversi hutan menjadi perkebunan, atau pencemaran menjadi ancaman besar. Itu sebabnya pemerintah melindungi semua jenis burung raja udang melalui undang-undang yang menyatakan larangan menangkap, memperjualbelikan, atau memelihara burung itu,” ungkap Johan.

Raja udang Alcedo pusilla mengandalkan ikan dan udang di aliran sungai di karst Lengguru

Raja udang Alcedo pusilla mengandalkan ikan dan udang di aliran sungai di karst Lengguru

Salah satu rekomendasi tim ekspedisi Lengguru kepada pemerintah daerah Kaimana adalah pengembangan ekowisata. “Keindahan Kaimana diakui sejak dahulu, buktinya sampai dibuat lagu,” tutur Prof Gono Semiadi, pemimpin kelompok mamalogi ekspedisi Lengguru dan peneliti di Puslit Zoologi LIPI Cibinong. Lagu yang Gono maksud adalah Senja di Kaimana yang dipopulerkan Alfian pada dekade 1970-an.

Baca juga:  Veronica Tan: Lahan Sempit Bukan Aral

Itu sebabnya pemerintah Kaimana mengandalkan ekowisata untuk bersaing dengan Rajaampat. Mereka pun meminta masukan dari tim ekspedisi Lengguru tentang daerah yang paling cocok untuk tujuan itu. “Yang digadang-gadang salah satunya ya Lengguru,” kata Gono. Sejatinya, kawasan karst mempunyai potensi sumber daya bahan tambang untuk pabrik bahan bangunan. Namun, menurut Prof Johan Iskandar, eksploitasi bahan tambang hanya memberikan keuntungan jangka pendek.

Kukabura Dacelo sp hidup di hutan primer

Kukabura Dacelo sp hidup di hutan primer

“Setelah bahan tambang habis dan lingkungan rusak, pengusaha bisa pergi dan mencari lokasi lain. Namun masyarakat lokal yang menetap di sanalah yang merasakan dampaknya,” tutur Johan. Itu sebabnya di pantai utara Jawa Tengah, masyarakat memprotes pendirian industri bahan bangunan yang mengeksploitasi kawasan karst Pegunungan Kendeng. Keunikan kawasan karst tidak ada duanya, sekali hancur tidak mungkin dikembalikan.

Itu sebabnya pelestarian dengan ekowisata menjadi solusi untuk mempertahankan kekayaan alam Lengguru. Tujuannya agar keelokan dan beragam spesies unik itu tetap lestari seperti lagu Alfian. Senja di Kaimana, dan kasihmu dara dalam jiwa hingga akhir masa. Sebab Lengguru adalah nirwana bagi aneka satwa dan flora. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *