Nilam Bebas Budok 1
Nilam hasil kuljar bebas budok dan produksinya tinggi

Nilam hasil kuljar bebas budok dan produksinya tinggi

Produksi nilam hasil kultur jaringan lebih tinggi ketimbang asal setek pucuk.

Lahan seluas tiga hektar itu hijau menyegarkan. Sebanyak 40.000 tanaman nilam setinggi 15 – 20 cm

tumbuh subur. Namun, kondisi itu berbalik 180 derajat dalam 4 bulan. Tunas baru Pogostemon cablin itu mengerdil dengan daun-daun mengecil. Selang sebulan, 80% tanaman layu lalu mati. Itu pengalaman Darno, petani nilam di Desa Sukarapih, Kecamatan Cibereum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada 2012. Ia kehilangan 90% dari potensi panen sebanyak 75 ton dan hanya memperoleh 7 ton basah.

Kegagalan itu membuat Darno rugi Rp85-juta. Maklum, ia mengharapkan panen 18,75 ton kering. Dengan harga jual kering Rp5.000 per kg di kebun, sedikitnya ia bisa meraup omzet Rp93,75-juta. Bencana di kebun Darno adalah penyakit budok akibat cendawan Synchytrium pogostemonis. Akibat penyakit itu, ia hanya memperoleh pendapatan Rp8,75-juta.

Bibit nilam bebas penyakit hasil aklimatisasi kultur jaringan

Bibit nilam bebas penyakit hasil aklimatisasi kultur jaringan

Bebas patogen

Pertanaman nilam menjadi sasaran penyakit budok lantaran kebanyakan pekebun mengandalkan bibit seadanya. Mereka menggunakan setekan dari pucuk tanaman sebelumnya. Menurut Ir Edhi Sandra MSi, ahli Fisiologi Tumbuhan di Institut Pertanian Bogor, setek pucuk berisiko membawa sumber penyakit jika induk yang digunakan sudah terserang. “Jika dijadikan bibit, ketika dewasa tanaman otomatis terkena penyakit,” kata Edhi.

Spora S. pogostemonis masuk ke dalam jaringan tanaman nilam dengan menginfeksi bagian tanaman muda, utamanya tunas. Tahap awal tidak memperlihatkan gejala, serangan biasanya baru tampak sebulan kemudian. Tanaman terserang membentuk kutil berupa benjolan kecil pada pangkal batang, cabang, atau ranting yang dekat tanah. Warna batang berubah menjadi hitam kecokelatan. Daun baru yang terbentuk berukuran kecil, kaku, keriting, dan tebal. Tanaman terserang semakin kerdil dan akhirnya mati.

Selain cendawan S. Pogostemonis penyebab penyakit budok, bibit nilam asal setek pucuk juga rentan membawa mikrob patogen lain. Sebut saja bakteri Ralstonia solanacearum penyebab layu dan berbagai jenis virus. Ketiga organisme pengganggu tanaman (OPT) itu sampai sekarang masih sulit dikendalikan lantaran banyaknya tanaman inang dan kemampuan patogen untuk bertahan hidup lama di dalam tanah tanpa tanaman inang.

Baca juga:  Spektakuler! Mangga Pendek 8.000 Ha

Untungnya, kondisi di kebun Darno berubah pada 2013. Dari 10.000 bibit yang ia tanam, hanya 10% terserang budok. Itu lantaran ayah 4 anak itu menanam bibit nilam asal kultur jaringan (kuljar). Ia memperoleh bibit nilam kuljar jenis Patchoulina 1 dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, Jawa Barat. Dengan bibit kuljar, Darno memanen nilam setahun dua kali. Panen pertama pada 7 bulan pascatanam menghasilkan 20 – 24 ton basah per ha. Hasil panen kedua, pada bulan ke-10 lebih tinggi lagi, mencapai 30 ton per ha.

Total jenderal dalam setahun ia memanen 54 ton basah per ha setara 13,5 ton kering per ha. Bandingkan dengan pengalaman Darno, yang hanya memperoleh 25 ton basah–setara 6,25 ton kering–per ha. Menurut Endang Hadipoentyanti, peneliti nilam dari Balittro, peningkatan produktivitas lantaran tanaman bebas penyakit. Efeknya penyerapan nutrisi optimal sehingga pertumbuhan tanaman lebih baik.

Peningkatan kualitas tampak dari peningkatan rendemen minyak hasil penyulingan. Rendemen tanaman asal kultur jaringan lebih tinggi, mencapai 3 kg minyak per 100 kg daun kering alias 3%. Bandingkan dengan volume minyak nilam hasil penyulingan tanaman asal setek pucuk, hanya 1,6 kg per 100 kg daun kering atau 1,6%. Darno menanam ulang dan mengganti dengan tanaman baru setelah panen kedua.

Menurut Edhi Sandra, peningkatan rendemen minyak terjadi lantaran tanaman kultur jaringan bebas penyakit sehingga energi yang dihasilkan tidak digerogoti patogen. Penggunaan bibit kuljar juga meremajakan tanaman sehingga meningkatkan viabilitas. “Tanaman remaja pertumbuhannya cenderung cepat dan kuat,” ujar Edhi. Selain itu, bibit kuljar mempercepat proses pendewasaan tanaman sehingga kemampuan metabolit sekundernya meningkat. Hasilnya, rendemen minyak bibit kuljar lebih tinggi dibanding setek pucuk.

Menurut Edhi Sandra, bibit kultur jaringan berpeluang bebas penyakit lantaran ukuran bahan tanam yang digunakan kecil. “Benih kuljar diambil dari jaringan meristem berukuran kurang dari 0,5 mm sehingga cendawan yang ada dalam jaringan tidak terbawa,” kata Edhi. Bahkan, kultur jaringan menggunakan jaringan meristem (jaringan muda pada tumbuhan yang selalu membelah diri, red) berpeluang menghasilkan benih bebas virus.

Baca juga:  Mangga Top Zaman Now!

Menjadi pilihan

Menurut Endang, bebas penyakit bukan berarti tahan serangan. Artinya, bibit asal kuljar juga bisa terserang penyakit tetapi dengan risiko serangan lebih rendah dibanding bibit asal setek pucuk. Ia menyarankan pekebun melakukan sanitasi lahan untuk menekan penyebaran penyakit. Peneliti berusia 59 tahun itu juga menyarankan pergiliran tanaman untuk memusnahkan dan memutus siklus hidup cendawan penyebab budok.

Teknik kultur jaringan menurunkan risiko kematian tanaman saat di pembibitan. Selain itu, teknik kuljar menghasilkan bibit nilam yang kompak dan seragam dalam waktu cepat. Laboratorium kultur jaringan Balittro mampu menghasilkan 51.000 benih nilam dalam waktu 3 – 4 bulan. “Itu waktu yang diperlukan mulai dari planlet (tanaman kecil yang sudah berakar dan berdaun hasil kultur jaringan dalam botol, red) hingga bibit siap tanam,” kata Ekwasita Rini Pribadi, peneliti nilam di Balittro.

Saat tingginya mencapai 10 cm, bibit dipindah ke polibag berukuran 15 cm x 15 cm. Aklimatisasi benih selama 6 minggu. Setelah itu, benih siap tanam di lahan. Darno menanam nilam dengan jarak 1 m x 1 m. Di lahan, perawatan bibit nilam asal kuljar sama dengan bibit hasil perbanyakan konvensional. Sebulan pascatanam, Darno memupuk nilam dengan 30 kg NPK, 30 kg TSP, dan 30 kg Urea di lahan seluas 1 ha. Darno menyemprot daun dengan pupuk cair 2 bulan pascatanam. Tujuannya, agar pertumbuhan daun optimal sehingga produktivitas meningkat.

Harga bibit hasil kultur jaringan bebas penyakit Rp1.000 per polibag. Bibit hasil perbanyakan konvensional, Rp800 per

polibag. Namun, selisih harga itu tertutup oleh peningkatan produktivitas. Selisih hasil 7,25 ton terna kering setara Rp36,25-juta per ha, tidak bisa dianggap sedikit untuk pundi-pundi pekebun. (Kartika Restu Susilo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *