Nilam Baru Patchoulina

Nilam patchoulina 2

Nilam patchoulina 2

Nilam generasi baru, unggul dan tahan penyakit.

Minyak nilam Pogostemon cablin Indonesia merajai 90% pasokan dunia. Indonesia eksportir terbesar. Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan sebagian sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada subtitusi untuk patchouli oil—nama dagang minyak nilam. Mau tidak mau keberadaannya menjadi rebutan.

Sayangnya, produktivitas rendah menghantui. Data Direktorat Jenderal Perkebunan pada 2011 menunjukkan, produktivitas nasional nilam hanya 117— 159 kg per ha. Padahal, penanaman nilam yang sebagian besar dikelola perkebunan rakyat tersebar luas di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Bahkan mulai menyebar ke Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

Penanaman nilam dikelola perkebunan rakyat

Penanaman nilam dikelola perkebunan rakyat

Serangan bakteri

Biang kerok rendahnya produktivitas dan mutu minyak nilam antara lain serangan  penyakit layu bakteri akibat bakteri Ralstonia solanacearum. Penurunan produksi akibat serangan bakteri itu mencapai 95%. Layu bakteri berawal di daerah asal tanaman nilam, yakni Nangroe Aceh Darussalam. Namun, serangan meluas hingga Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Gejala layu bakteri dimulai dengan layunya satu cabang atau pucuk tanaman di bagian atas disusul dengan cabang lainnya di bagian bawah. Bila serangan sangat berat, batang tanaman membusuk.  Batang busuk yang mengeluarkan eksudat putih kekuningan seperti susu ketika dipatahkan dan beraroma busuk. Bila serangan di atas 50%, tanaman akan mati dalam 7—25 hari. Akibatnya  tidak ada daun yang bisa dipanen.

Layu bakteri tidak pilih sasaran. Mulai benih/bibit hingga tanaman dewasa produktif semua rentan serangannya. Di tingkat petani, seperti kasus di wilayah Kuningan, Jawa Barat, layu bakteri umumnya  muncul saat tanaman berumur 3 bulan. Patogen itu sampai sekarang masih sulit dikendalikan lantaran kompleksnya faktor epidemiologi patogen seperti eksistensi strain R. solanacearum yang berbeda, banyaknya tanaman inang, dan kemampuan patogen untuk bertahan hidup lama di dalam tanah meskipun tidak ada tanaman inang.

Nilam unggul patchoulina 2, tepi daunnya lebih bergerigi dan lebih besar dibandingkan patchoulina 1

Nilam unggul patchoulina 2, tepi daunnya lebih bergerigi dan lebih besar dibandingkan patchoulina 1

Pemakaian mulsa jerami, ampas nilam, antibiotik, pemupukan, dan abu sekam untuk mengendalikan serangan tidak membuahkan hasil memuaskan. Satu-satunya solusi efektif yaitu menggunakan varietas toleran atau tahan serangan. Itulah hal yang mendasari dilakukannya riset perakitan varietas unggul sejak 2007 di Balittro (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat), Bogor.

 

Tetua sidikalang

Hasil seleksi plasma nuftah nilam yang dimiliki Balittro menghasilkan 3 varietas unggul yang mempunyai kadar dan mutu minyak tinggi, yaitu lhokseumawe, tapaktuan, dan sidikalang. Ketiganya dilepas pada 2005. Dari ketiganya, hanya sidikalang yang toleran terhadap layu bakteri. Itu berdasarkan hasil pengujian seleksi ketahanan nilam terhadap R. solanacearum pada tingkat benih di rumah kaca dan tanaman dewasa di lapang yang dilakukan Yang Nuryani dan Nasrun—keduanya peneliti Balittro.

Varietas sidikalang yang menjadi induk dianggap paling ideal untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai target pemuliaan dengan tujuan mendapatkan varietas tahan terhadap penyakit layu bakteri, sekaligus produksi dan mutu minyak relatif tinggi. Eksplan—bahan tanaman yang berasal dari varietas sidikalang—diinduksi mutasi in vitro dan irradiasi untuk meningkatkan keragaman genetik.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x