Sengon plus cepat tumbuh dan toleran karat tumor.

Sengon plus cepat tumbuh dan toleran karat tumor.

 

Bongsor dan toleran karat puru.

Dr. Liliana Baskorowati, S.Hut., MP., berdiri di samping sebatang pohon sengon. Bukan sembarang sengon, melainkan pohon yang ia muliakan sejak 2010. Yang istimewa, batang sengon berumur 4 tahun itu telah mencapai keliling 36 inci—setara diameter 30 cm. Bandingkan dengan sengon lokal yang baru berdiameter 24—27 cm di tahapan serupa.

Biji menjadi cara perbanyakan sengon termurah.

Biji menjadi cara perbanyakan sengon termurah.

Sengon baru itu belum diberi nama oleh periset di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2PBPTH), Sleman, Yogyakarta itu. Liliana menuturkan saat ini pengurusan nama paten masih dalam proses. Pohon anggota famili Fabaceae itu hasil persilangan antara sengon lokal provenan Wamena dengan sengon asal Kepulauan Solomon di Samudera Pasifik. Kedua induk itu dipilih karena sifat unggulnya. Sengon wamena toleran terhadap karat tumor (baca “Kuat Gempuran Karat” Trubus Oktober 2014). Sementara itu, sengon solomon sohor cepat tumbuh.

Meski sengon baru lebih lambat ketimbang solomon, yang berdiameter 35 cm di umur sama, tetapi ia mewarisi keunggulan sengon wamena. “Sengon solomon rentan serangan karat tumor, mirip dengan sengon lokal,” kata Liliana. Melalui persilangan, ia ingin memperoleh sengon cepat tumbuh dan toleran karat tumor.

Penyerbukan silang

Ringkihnya sengon solomon terhadap cendawan karat itu Liliana buktikan sendiri. Pada 2010, periset berusia 45 tahun itu mendatangkan sekitar 40 gram—setara 25—biji sengon solomon. Biji itu diperolehnya melalui kemitraan dengan lembaga penelitian di Australia. Di tahun sama, ia mengikuti eksplorasi plasma nutfah di Wamena, Papua, dan memperoleh benih dari 75 pohon unggulan. Benih sengon itu lantas ia tanam di Lumajang, Jawa Timur akhir tahun berikutnya.

Kultur jaringan menghasilkan bibit persis induk tapi mahal.

Kultur jaringan menghasilkan bibit persis induk tapi mahal.

Lokasi penanaman pohon-pohon Paraserianthes falcataria itu adalah kebun benih bersertifikat sehingga pertumbuhan terpantau. Pohon-pohon itu menjadi sumber benih untuk penanaman berikutnya. Selain Lumajang, ada 2 kebun percobaan lain yaitu di Bondowoso dan Jember. Lantaran memanfaatkan lahan milik BUMN, seleksi pohon di kebun Jember tidak optimal. Pohon dengan pertumbuhan bagus justru ditebang, menyisakan pohon kuntet maupun terserang penyakit.

Baca juga:  Dari Sapi untuk Itik

Di kebun Bondowoso, terjadi kesalahan pencatatan sehingga pohon yang mestinya dibiarkan malah ditebang. Akhirnya ibu 2 anak itu hanya mengandalkan data dari kebun Lumajang. Di kebun seluas 2 ha itu Liliana menanam 100 pohon; 25 sengon solomon, sisanya sengon wamena. Ternyata 22 dari 25 pohon—hampir 90%—sengon solomon terserang cendawan karat. Pada 2015, beberapa pohon mulai berbunga. Biji yang terbentuk kemudian ditanam sebagai sumber benih untuk penanaman berikutnya.

Pemulia sengon di B2PBPTH, Dr. Liliana Baskorowati, S.Hut., MP.

Pemulia sengon di B2PBPTH, Dr. Liliana Baskorowati, S.Hut., MP.

“Penyerbukan bunga sengon dibantu angin sehingga pohon yang berdekatan hampir pasti saling menyerbuki,” kata Liliana. Artinya biji terbentuk dari persilangan alami sengon wamena dan solomon. Untuk membuktikannya, pohon asal biji silangan dipantau pertumbuhannya. Dari ratusan biji yang ditanam, sekitar 107 adalah pohon plus. Ukuran dan umurnya beragam, dari yang sudah berbuah sampai yang baru pindah tanam di lahan.

Biji dari pohon-pohon plus itu Liliana simpan untuk perbanyakan berikutnya. Sebagian ia tanam di lahan pembibitan kantornya di Sleman, Yogyakarta. Sisanya ia tempatkan dalam penyimpanan dingin (dry cold storage, DCS). Dalam DCS, dengan suhu -5ºC, daya tumbuh biji berkadar air maksimal 15% terjaga bertahun-tahun. Pada 2017, alumnus program Master of Forestry Science, Australian National University itu menanam biji yang ia simpan dalam DCS sejak 1995. Hasilnya daya tumbuh biji mencapai 60%.

Keliling pohon umur 4 tahun mencapai 36 inci setara diameter 30 cm.

Keliling pohon umur 4 tahun mencapai 36 inci setara diameter 30 cm.

Kemitraan

Biji menjadi pilihan utama perbanyakan lantaran cara itu menghasilkan banyak bibit baru dengan biaya terjangkau. Kelemahannya, sifat pohon asal biji berbeda-beda. Sayangnya, cara perbanyakan vegetatif pun tidak memuaskan. Ketika mencoba setek pucuk, tingkat keberhasilannya hanya 11—19%. Cangkok tunas pun hasilnya tidak sebanyak biji. Metode kultur jaringan yang efektif menghasilkan bibit dengan sifat persis induknya pun biayanya terlalu mahal. Menurut Iwan Gunawan, anggota staf PT Bio Hutanea, produsen bibit sengon asal kultur jaringan di Depok, harga bibit asal kultur jaringan Rp10.000—Rp15.000 per bibit.

Baca juga:  Moonlight Raih 2 Gelar

Saat ini sengon plus itu masih dalam tahap perbanyakan. Liliana membuka peluang bagi instansi, kelompok tani, atau perusahaan pembibitan untuk ikut memperbanyak biji. Syaratnya, mitra berkomitmen menanam untuk mengambil biji, bukan menebang ketika mencapai ukuran besar. Maklum, “Saat ini pohon berdiameter 10—15 cm sudah bisa diolah di pabrik,” kata anggota staf PT Sumber Graha Sejahtera, produsen kayu lapis di Balaraja, Tangerang, Sukandar. Maklum, pasokan pohon besar semakin sulit sedangkan permintaan terus meningkat. Sengon plus salah satu solusi menambal permintaan. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d