Nila merah dikembangkan karena menjadi primadona ekspor ke Eropa dan Amerika Serikat.

Nila merah dikembangkan karena menjadi primadona ekspor ke Eropa dan Amerika Serikat.

Teknologi transplantasi sel testikular membuat nila menjadi jantan semua sehingga pertumbuhan lebih cepat.

Selama ini peternak menginginkan bibit nila jantan lantaran pertumbuhannya lebih cepat daripada betina. Menurut periset Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Dian Hardiantho S.Pi., M.Si., bibit jantan memerlukan 4—5 bulan hingga ukuran konsumsi berbobot 600 gram. Adapun bibit betina butuh waktu 6—7 bulan. Muhammad Luthfi dan para periset mewujudkan impian peternak ikan nila.

Lutfi bersama Abdurrachman, Afif Abdurrahman, Dede Apriyadi, Meri Alvina Taufik, Siska Aliyas Sandra—mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, menelurkan nila jantan alias monoseks. Artinya semua larva yang menetas menjadi ikan nila berjenis kelamin jantan sehingga pertumbuhan pun lebih cepat. Lutfi memanfaatkan teknologi transplantasi sel testikular untuk menghasilkan nila merah sintetis.

Dua kali suntik
Lutfi melakukan transplantasi melalui pemasukan sel testikular (spermatogonia) ikan nila merah ke dalam larva ikan nila hitam berusia 3 hari setelah menetas. Mereka menggunakan alat mikroinjektor berbentuk mirip jarum sangat kecil untuk menyuntikkan sel testikular pada larva ikan. Untuk mempermudah pengamatan, ia memberi pewarna PKH-26 pada sel testikular. Tujuannya sebagai indikator keberhasilan kolonisasi dan proliferasi sel donor dalam tubuh ikan resipien (ikan penerima donor).

Muhammad Lutfi Abdurrachman, paling kanan dan rekan-rekan mahasiswa peneliti rekayasa perikanan dari Institut Pertanian Bogor.

Muhammad Lutfi Abdurrachman, paling kanan dan rekan-rekan mahasiswa peneliti rekayasa perikanan dari Institut Pertanian Bogor.

Penelitian yang dilakukan pada Maret—Juli 2017 itu menggunakan larva ikan nila hitam lantaran pertumbuhannya cepat. Mereka memperoleh larva dari pemijahan alami. Ketika induk ikan nila menunjukkan tanda-tanda akan memijah, Lutfi segera memisahkan kedua indukan dan melakukan pengurutan (striping) pada induk jantan untuk mengeluarkan sperma dan betina untuk mengeluarkan sel telur.

Baca juga:  Menu Asyik Diet Ketogenik

Telur ikan resipien dibuat menjadi triploid atau steril dengan tujuan supaya sel yang berkembang dalam gonad resipien hanyalah sel yang ditransplantasikan. Caranya dengan memberikan kejut suhu (heat shock) pada wadah dengan suhu 40°C selama 4 menit. Telur yang terbuahi akan menetas setelah 3 hari kemudian dan siap dilakukan injeksi. Selama penelitian, Lutfi dua kali mentransplantasi sel testikular ikan nila merah pada larva ikan nila hitam.

Penyuntikan pertama pada 2 Mei 2017 melibatkan 50 ekor. Penyuntikan kedua untuk 100 larva pada 29 Mei 2017. Sel testikular yang telah terwarnai PKH-26 terdeteksi berpendar di dalam larva sesaat setelah penyuntikan. Hal itu menunjukan keberhasilan dalam penyuntikan. Sel dalam tubuh larva resipien atau penerima pun berkembang.

Ramah lingkungan
Semua larva bertahan hidup 100% dengan membawa sel pengarah kelamin jantan. Menurut Lutfi, pengamatan kolonisasi sel dengan bantuan pewarna PKH-26 hanya dapat dilakukan sampai larva ikan berusia 33 hari. Selain itu, semakin tebalnya lapisan kulit dan lemak pada larva saat bertambah usianya menyebabkan pengamatan pendaran cahaya semakin sulit dilakukan.

Nila gesit (perintis ikan monoseks), petani menggemari ikan berkelamin jantan lantaran pertumbuhannya lebih cepat daripada betina.

Nila gesit (perintis ikan monoseks), petani menggemari ikan berkelamin jantan lantaran pertumbuhannya lebih cepat daripada betina.

“Penelitian kami memang tergolong penelitian dasar. Itu terkait dengan ketersediaan waktu penelitian. Namun, keberhasilan transplantasi itu menggembirakan, karena sebagai dasar penelitian selanjutnya oleh berbagai pihak,” ujar Lutfi. Pembuatan ikan monoseks dengan jalan transplantasi pernah dilakukan oleh Tomoyuki Okutsu, Yutaka Takeuchi, dan Goro Yoshizaki dari Departemen Kelautan Biosains Universitas Ilmu Kelautan dan Teknologi Tokyo.

Mereka mentransplantasi spermatogonial ikan rainbow trout pada induk salmon. Kini banyak spesies salmon di Jepang terancam punah. Padahal salmon termasuk jenis ikan yang telurnya tidak dapat diawetkan. Tomoyuki memindahkan spermatogonia ikan trout jantan ke rongga peritoneal salmon yang baru menetas.

Baca juga:  Air Susu Landak

Pada 2 tahun setelah transplantasi, salmon steril terbukti berhasil hanya menghasilkan sperma dan telur trout yang berasal dari donor. Teknologi yang canggih memang diperlukan dalam pengembangan rekayasa genetika ikan. Dian menjelaskan bahwa keberhasilan para ahli itu menginspirasi banyak pihak untuk menghasilkan bibit ikan monoseks secara mandiri.Selama ini penjantanan ikan dengan memanfaatkan hormon pengubah kelamin, yaitu methiltestosteron.

Peneliti memberikan hormon pada fase larva atau saat telur baru menetas. Cara itu terbukti efektif, meskipun harus menempuh tahapan yang cukup rumit. Pemberian hormon melalui perendaman pada telur yang berumur tiga hari, atau ditandai dengan organ mata sudah tumbuh dan berwana hitam.

Proses transplantasi sel dengan mikroinjektor  ke larva nila hitam.

Proses transplantasi sel dengan mikroinjektor ke larva nila hitam.

Menurut dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Dr. Alimuddin, S.Pi, M.Sc., takaran methiltestosteron oleh peternak nila sering tidak tepat dan cenderung berlebihan. Itu berakibat banyaknya residu hormon yang terkandung pada ikan dan lingkungan hidupnya. Air mengandung methyltestosteron di perairan akan mengganggu keseimbangan ekosistem ikan.

“Bagi manusia, akumulasi methiltestosteron dalam tubuh yang berasal dari makanan berbahan ikan akan memicu pertumbuhan sel kanker,” ujar Alimuddin. Ia sangat mendukung berbagai penelitian untuk mencari solusi pembuatan bibit ikan monoseks yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah penelitian Lutfi dan kawan-kawan menggunakan teknologi transplantasi sel testikular. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d