NIKMAT LOKAL 1
Perkebunan apel di Batu, Jawa Timur

Perkebunan apel di Batu, Jawa Timur

Bagaimana menikmati Manhattan, jantung kota New York? Minum madunya! Di atas pencakar langit ternyata ada saja khalayak yang memelihara lebah madu. “Rasa madunya pun istimewa,” kata seorang warga yang diwawancara oleh CNN. “Madu kota besar berasal dari bermacam bunga sampai tetesan sirop di restoran cepat saji!” Namun, yang paling banyak adalah madu dari bunga linden. Di jalan-jalan kota New York, khususnya Manhattan, memang banyak pohon linden. Sama banyaknya dengan trembesi di Singapura dan angsana di Surabaya, Jawa Timur.

Itulah cara pertama mencecap lezatnya kota. Tentu dari sisi pertanian dan peternakan kota, urban farming. Madu kota hanyalah satu produk yang langsung terasa lezatnya. Cara kedua, mempekerjakan satwa bukan untuk konsumsi, tetapi untuk mencari uang. Di Bogor, Jawa Barat, ada Arief yang beternak semut rangrang. Dengan modal Rp10-juta ia mulai membudidayakan semut untuk dijual telurnya yang disebut kroto, dan bibit semut.

Ternyata harga telur semut berfluktuasi antara Rp200.000—Rp300.000 per kg. Sementara harga bibit semut Rp80.000 per stoples. Satu kali panen dalam sepekan dia bisa menjual 3—5 kg kroto dan 60 stoples anak semut. Menurut liputan Bloomberg, anak semut dari Bogor itu merambah pasar sampai Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Setiap bulan bisa meraup keuntungan bersih Rp19-juta. Di kota yang padat penduduk, ternyata masih ada tempat untuk industri telur dan anak semut. Bentuk ternak kecil-kecilan lain adalah untuk ikan koi, burung kenari, kolam belut dan lele dalam drum atau kolam kecil.

Susu metropolitan

Bagaimana dengan Jakarta yang tiap Juni berulang tahun? Di Marunda, Jakarta Utara, para warga rumah susun belajar bertani hidroponik. Tidak kurang pejabat pemerintah setempat ikut memberikan iuran pribadi untuk menanam sawi, cabai, seledri, pakcoi, kailan, dan buncis. Pipa-pipa polivinil klorida pun dipasang di seputar rumah, dialiri air dan pupuk untuk ditanami sayuran. Laporan terbaru, hasil panen hidroponik bisa mencapai Rp24-juta sebulan dari terung, pakcoi, selada merah, cabai, sawi, dan selada hijau. Pengelolanya tidak lebih dari 10 orang, dan baru dari satu titik dari 20 lokasi yang direncanakan.

Kisah sukses sayuran Marunda mengembalikan ingatan kita pada salak condet, durian lebak bulus, dan bagian-bagian lain kota Jakarta. Secara historis kita sadar bahwa ibu kota Indonesia memang terdiri dari kebun pala, kebun kacang, mangga besar, kampung rambutan, kebon bawang, kebon sirih, jeruk purut, menteng, kemang, kebon kopi, sawah besar, dan seterusnya. Kejayaan masyarakat akan pulih kalau setiap kampung, bahkan setiap rumah mampu menghasilkan makanan sendiri, berapa pun kecilnya.

Baca juga:  Santan Halau Vertigo

Sebagai catatan kita bisa mengacu, saat terjadi Perang Dunia II. Setiap rumah tangga di Amerika Serikat didorong ikut program pertanian perkotaan. Hasilnya apa? Hampir separuh (40%) kebutuhan pangan ternyata dapat dipenuhi sendiri oleh penduduk kota. Selalu saja ada ide untuk menanam bumbu, sayur, dan buah, serta memelihara ayam, ikan, lebah, bahkan domba dan sapi kecil-kecilan. Tentu hal itu tidak hanya terbatas di Amerika.

Di sela-sela permukiman Jakarta pun masih ada sapi perah. Rumputnya didapat dari kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Kandangnya di Tegalparang, tidak jauh dari jalan layang tol lingkar dalam kota, berdampingan dengan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Peternak dan pemerah sapi itu secara turun-temurun tinggal di seputar Mampangprapatan. Mereka adalah petani tradisional Betawi yang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan, dan tidak kalah oleh perubahan zaman.

Justru setelah kota menjadi semakin modern, terbukti cara hidup mereka lebih sehat, bersepeda, berkeliling mengedarkan susu setiap pagi. Pelestarian hidup sehat, dekat dengan alam itulah yang kini didambakan di berbagai belahan dunia. Jadi bisa dimengerti kalau kita mendapat pasokan berbagai produk tabulampot–tanaman buah dalam pot. Ada lengkeng pingpong, lengkeng merah, lengkeng mutiara, aneka macam jeruk, dan mangga.

Beras hitam

Untuk kota yang relatif baru, lengkap dengan lahan-lahan yang masih terbuka, belum digarap, eksperimen bisa lebih leluasa. Kota Jababeka di Cikarang mulai dengan 3.000 m2 untuk menanam beras hitam organik. Hasilnya belum optimal akibat hujan salah musim, Mei lalu panennya tidak sesuai harapan. Meski begitu, tetap menggembirakan. Paling murah beras hitam laku Rp20.000 per kilogram. Karena panennya tidak sampai 200 kg, praktis beras hitam yang baik untuk pengidap diabetes itu ludes terbeli.

Mulai Juni 2014 sebanyak 17 petani penggarap segera mengembangkan beras hitam. Dalam proses pengembangan properti saja urban farming bisa berjaya. Pada awalnya, bibit beras hitam memang harus didatangkan dari luar kota seperti Semarang, Jawa Tengah, dan Subang, Jawa Barat. Namun, secara bertahap, terjadi penyesuaian dan muncul sebagai produk setempat. Itu sudah dilakukan dengan sayur-sayuran dari Cianjur yang ternyata tumbuh bagus di Cikarang. Di antaranya adalah peria belut, edamame, dan bermacam selada. Sama halnya dengan stroberi di Lembang, jamur di Sleman, dan semua produk introduksi pertanian lainnya.

Baca juga:  Cabai Rawit: Produksi Naik 400%

Pertanyaannya: mengapa peternakan, pertanian, dan perkebunan di kota perlu dibudayakan? Bukan hanya untuk memanfaatkan lahan tidur, mengisi jadwal kosong menunggu pembangunan, atau di saat darurat ketika menghadapi krisis ekonomi dan perang? Jawabnya: pertama, menyeimbangkan kehidupan. Semakin seimbang, berarti semakin sehat dan semakin panjang. Rasa cinta pada lingkungan perlu diwujutkan dalam kegiatan yang paling nyata. Salah satunya adalah dengan mendekatkan masyarakat pada bahan pangan dan obat-obatan sendiri.

Kedua, mengembangkan daya inovasi dan produktivitas. Artinya, konservasi berjalan baik bila ada keaneka-ragaman. Diversitas atau pluralitas produk dan keahlian semakin beraneka macam dengan munculnya bermacam keahlian. Itu diajarkan di setiap sekolah, agar setiap pribadi menemukan minat, bakat, dan keahliannya sendiri. Semakin beragam kegiatan terkait lingkungan, semakin menguntungkan. Ketiga, mandiri. Prinsip konservasionisme yang penting adalah mampu menghidupi kegiatan sendiri. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan dan bergulir.

Lezatnya sebuah daerah memang hal yang alamiah. Kita sudah lama mengenal tahu sumedang, tahu kediri, tempe malang, gudeg yogyakarta, mi bandung, empek-empek palembang, sup konro makassar, tinutuan manado, dan seterusnya. Persoalannya, apakah Kediri menghasilkan kedelai sendiri dan Yogyakarta bisa mencukupi kebutuhan nangka untuk gudegnya? Sudah lama kita tahu kedelai harus diimpor dan tiap hari beberapa truk nangka dari Lampung didatangkan untuk mempertahankan Yogyakarta sebagai kota gudeg.

Singkatnya, setiap pemimpin Indonesia, mulai dari presiden, gubernur, bupati, sampai kepala desa, perlu menegaskan bagaimana lezat daerahnya. Kita tidak sanggup kehilangan rasa bangga bahwa Brebes kota bawang merah, selain jeruk garut, apel batu, anjing kintamani, durian medan, kupang surabaya, dan lezatnya kota-kota lain di segala penjuru tanahair. (Eka Budianta)*

*) Kolumnis Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Jababeka Botanic Gardens, penyair.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *