Nangkadak Masuk Swalayan 1
Pada umur 5 tahun produktivitas cempeka mencapai 60 buah per pohon pertahun

Pada umur 5 tahun produktivitas cempeka mencapai 60 buah per pohon pertahun

Hisjam Muhammad Landji mengebunkan 15 pohon nangkadak di Pasuruan, Jawa Timur dan menjual buahnya ke pasar swalayan buah di Surabaya.

Hisjam Muhammad Landji memetik nangkadak dari pohon setinggi 5 meter. “Aromanya sudah harum,” katanya. Buah hasil persilangan nangka dan cempedak itu ia belah dengan hati-hati. Satu per satu nyamplung mencuat di antara kerumunan dami berwarna jingga. Ketika nyamplung dicicip rasanya lembut dan manis.

Buah nangkadak lainnya Hisjam bungkus dengan kertas koran dan ia masukkan ke keranjang. “Ini mau saya kirim ke toko buah di Surabaya,” kata lelaki kelahiran Gresik pada 1954 itu. Rutinitas itu sudah Hisjam lakukan sejak 2 tahun terakhir. Hisjam mengirim buah anggota famili Moraceae itu sepekan sekali. Sekali kirim ia menyetor 20 buah berbobot rata-rata 1,5—2,5 kg.

Hisjam Muhammad Landji menanam 15 pohon cempeka di Pasuruan, Jawa Timur

Hisjam Muhammad Landji menanam 15 pohon cempeka di Pasuruan, Jawa Timur

Cempeka

Hisjam mulai mengebunkan nangkadak sejak 6 tahun silam. Ia mendapatkan bibit  dari penjual yang mendapatkannya dari Malaysia dan Thailand. Menurut Dr Ir Lutfi Bansir MP, peneliti buah dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, sejauh ini di Asia tenggara, nangkadak baru dihasilkan di Indonesia dan Malaysia. “Thailand baru mengumpulkan cempedak dari berbagai negara (sebagai bahan indukan, red),” ujarnya.

Lutfi menduga bibit yang didapat Hisjam berasal dari Malaysia. Nangkadak tanahair lahir dari persilangan antara nangka dan cempedak oleh ahli buah di Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Greg Hambali pada 2000.

Namun menurut Lutfi, nangkadak koleksi Hisjam lebih cenderung berkarakter cempeka. Cempeka merupakan “sepupu” nangkadak yang juga karya Greg Hambali (baca Trubus edisi Januari 2007: Spektakuler! Cempedak Berbuah Nangka). Perbedaan nangkadak dan cempeka yang paling menonjol menurut Lutfi dari tekstur buahnya. “Nangkadak teksturnya renyah, tetapi cempeka lebih lembut menyerupai cempedak,” kata Lutfi.

Baca juga:  30 Menit Siram 2 Ha

Menurut Hisjam, bibit nangkadak setinggi 0,5 m itu hasil okulasi. Hisjam kemudian menanamnya di dalam lubang tanam ukuran 1 m x 1 m x 1 m. Ia menambahkan 8 kg pupuk kandang dan 200 g NPK. Pupuk susulan dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan memberikan 1 kg NPK. Hisjam menanam 4 bibit dan semua sukses tumbuh menjadi tanaman dewasa.

Dua tahun pascatanam, tanaman mulai belajar berbunga. Hisjam tak melakukan penyerbukan buatan, ia hanya melakukan seleksi buah saat seukuran dua telunjuk orang dewasa. “Pilih buah yang bentuknya normal dan  tangkainya gemuk,” kata Hisjam. Buah yang tidak lolos seleksi, dirompes dari tangkai. Tujuannya agar nutrisi tanaman tidak terserap ke buah yang kurang bagus itu. Selang 70—80 hari sejak pentil, buah siap panen ditandai dengan munculnya aroma harum khas nangkadak.

Tepat saat tanaman berumur 3 tahun pascatanam, Hisjam mulai memanen nangkadak. Panen perdana, produktivitas per pohon sekitar 30-an buah. Nangkadak berbuah pada Agustus—Januari. Setelah panen perdana pada tahun ke-3, pada tahun ke-4 meningkat sekitar 40-an buah. Kemudian pada umur 5 tahun mencapai 60-an buah dalam setahun.

Cempeka  mulai panen pada umur 3–4 tahun

Cempeka mulai panen pada umur 3–4 tahun

Pasar swalayan

Saat ini Hisjam memanen rata-rata 20—30-an buah seminggu sekali dari 4 pohon produktif. Sementara 11 tanaman yang ditanam kemudian belum berbuah. Bobot rata-rata per buah 1,5—2,5 kg. Dari 30 buah, 20 di antaranya masuk toko buah Hokky di Surabaya, sementara sisanya dijual ke rekan-rekannya sesama pencinta buah Rp10.000—15.000 per kg.

Di pasar swalayan itu, Hisjam mendapat harga Rp18.000—Rp20.000 per kg. Menurut Ainun Kusnindar, petugas sortir buah lokal Hokky hampir semua buah yang dikirim Hisjam lolos sortir. “Paling hanya 1 buah  yang tidak lolos karena ukuran terlalu kecil,” ujarnya.

Baca juga:  Jabotikaba Jadi Incaran

Hokky mensyaratkan kondisi buah mulus, sudah matang dengan ciri aromanya yang harum, dan bobotnya 1,5—3 kg. Menurut Ainun semua nangkadak dari Hisjam ludes terjual. “Konsumen menyukai nangkadak karena buahnya tergolong langka, rasanya enak dan aroma harumnya khas, dan konsumen banyak yang suka,” kata Ainun.

Menurut Greg Hambali, nangkadak memang layak masuk swalayan buah. “Rasanya manis dan lezat. Cocok dengan lidah orang Indonesia,” kata Greg. Penelusuran Trubus kepada beberapa pekebun hingga saat ini belum ada kebun nagkadak komersial. Di TWM memiliki 150 pohon nangkadak, tetapi buah sudah habis terjual di kebun. Agar konsumen tak menyesal, kualitas buah menjadi nomor satu. “Buah harus sudah matang pohon dan bernyamplung banyak,” kata Greg.

Hal senada diungkapkan Tatang Halim, pemasok buah ke pasar swalayan buah di Jakarta. “Layak masuk swalayan apabila tingkat kematangannya pas, dan jumlah nyamplungnya banyak,” kata Tatang. Menurut Greg, buah nangkadak dikatakan sudah matang jika sudah mengeluarkan aroma khas. Hal itu yang Hisjam lakukan, memanen nangkadak ketika sudah beraroma.

Jumlah nyamplung, nangkadak milik Hisjam relatif banyak dibanding nangkadak pada umumnya. Menurut Hisjam nyamplung per buah mencapai 10—20 lebih, berbeda dengan nangkadak yang hanya 2—3 nyamplung jika tanpa dibantu penyerbukan (baca Trubus edisi Januari 2013: Demi Nangkadak Sempurna). “Jumlah bunga jantannya lebih banyak dibanding jumlah bunga jantan pada nangkadak. Jumlah nyamplungnya lebih banyak meski tanpa dibantu penyerbukannya,” kata Lutfi. Itu yang membuat konsumen puas. (Bondan Setyawan)

531_Hal_99

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments