Jati belanda terbukti ilmiah menurunkan kolesterol

Jati belanda terbukti ilmiah menurunkan kolesterol

Jati belanda menurunkan kadar kolesterol jahat dan mencegah jantung koroner.

Jati belanda Guazuma ulmifolia sohor sebagai pelangsing tubuh sejak masa nenek moyang. Tanaman anggota keluarga Sterculiaceae itu mengandung senyawa musilago dan tanin. Tanin mengendapkan protein di permukaan usus halus sehingga mengurangi penyerapan makanan, terutama pada pengidap obesitas alias kelebihan bobot tubuh. “Konsumsi rebusan daun jati belanda sehari sekali selama 30 hari menurunkan bobot tubuh 4 kg,” kata Maria Margaretha Andjarwati, herbalis di Kelapagading, Jakarta Utara.

Nun di Pamekasan, Jawa Timur, masyarakat mengombinasikan jati londo—sebutan jati belanda di sana—dengan ketumbar Coriandrum sativum, kunyit Curcuma domestica, dan daun inggu Ruta angustifolia sebagai penghancur kelebihan lemak. Racikan itu juga dipercaya menghilangkan bau badan dan menghaluskan kulit. Kerabat bayur Pterospermum javanicum itu juga punya kemampuan lain, yaitu sebagai penurun kolesterol. Itu dibuktikan oleh Yosie Andriani dan rekan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Bengkulu.

Penurun kolesterol

“Penggunaan jati belanda secara tunggal maupun kombinasi terbukti menurunkan lipid darah,” ujar Prof Dr Elin Y Sukandar

“Penggunaan jati belanda secara tunggal maupun kombinasi terbukti menurunkan lipid darah,” ujar Prof Dr Elin Y Sukandar

Pada 2006, Yosie membuktikan pemberian ekstrak jati belanda efektif menurunkan kadar kolesterol darah tikus. Ia menginduksi tikus percobaan dengan kolesterol tinggi sehingga menderita hiperkolesterolimia alias kelebihan kolesterol. Hiperkolesterolimia memicu kelainan metabolisme lemak darah yang berujung kepada gangguan fungsi jantung atau penyakit kardiovaskuler. Riset itu menyimpulkan fraksi aktif steroid ekstrak daun jati belanda dapat menghambat kenaikan kadar kolesterol darah sampai 30—40%.

Riset terbaru Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, Nurdewi, dan Elfahmi dari Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, pada 2012 semakin mempertegas khasiat antikolesterol mutamba—sebutan jati belanda di Amerika selatan, tempat asalnya. Dalam penelitian itu, Elin dan rekan-rekan mengombinasi jati belanda dengan temulawak Curcuma xanthorrhiza. Temulawak dipilih lantaran beberapa riset terdahulu membuktikan senyawa kurkumin pada temulawak dapat menurunkan kolesterol dan kadar glukosa darah. Elin menggunakan ekstrak temulawak dengan dosis setengah kali jati belanda.

Baca juga:  Kunyit Antikanker

Pengukuran kolesterol dilakukan pada hari ke-3, 7, dan 14. Hasil penelitian itu memperlihatkan kombinasi ekstrak air daun jati belanda sebanyak 25 mg/kg bobot tubuh dan 12,5 mg/kg temulawak secara signifikan menurunkan total kolesterol dan LDL (low density lipoprotein) alias kolesterol jahat sesudah hari ke-7. Peningkatan dosis ekstrak air jati belanda dan temulawak hingga 2 kali lipat ternyata tidak memberikan efek signifikan terhadap kolesterol, kecuali penurunan nilai LDL (lihat tabel: Turun Kolesterol).

Kandungan kurkumin pada temulawak berperan sebagi antihiperkolesterol

Kandungan kurkumin pada temulawak berperan sebagi antihiperkolesterol

Menurut Elin, zat aktif penurun kolesterol dalam temulawak adalah kurkumin. Sementara zat penurun kolesterol pada jati belanda adalah prosianidin. Sebelumnya, pada 2009, penelitian Elin menunjukkan bahwa ekstrak tunggal air daun mutamba dengan dosis 50 mg/kg bobot tubuh menurunkan kolesterol total dan LDL secara signifikan.

Jantung koroner

Sejatinya kolesterol memegang peran vital untuk fungsi fisiologis manusia. Tanpa kolesterol, dinding sel menjadi lembek dan mudah ditembus penyakit. Tubuh juga membutuhkan kolesterol untuk membentuk hormon, antara lain estrogen dan testosteron hingga asam empedu serta vitamin D. “Kaum hawa juga memerlukan kolesterol untuk memperkuat kandungan,” ujar dr Arijanto Jonosewojo SpPD, kepala Poliklinik Obat Tradisional Rumahsakit dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.

Pada kondisi tubuh normal, high density lipoprotein (HDL) membersihkan lemak berlebih yang menempel dan mengangkut kembali ke hati. Hati menguraikan kolesterol, lalu membuangnya ke kandung empedu sebagai asam empedu. Masalah timbul jika jumlah LDL tinggi, sementara HDL rendah. Akibatnya, timbunan lemak di pembuluh darah makin lama makin tebal karena tidak terangkut oleh HDL.

Sering konsumsi gorengan picu tingginya kolesterol pada tubuh

Sering konsumsi gorengan picu tingginya kolesterol pada tubuh

Pada orang dewasa kadar kolesterol ideal adalah 100 mg/dl. Namun dengan gaya hidup dengan pola makan tidak teratur, kadar kolesterol darah bisa mencapai di atas 200 mg/dl. Makanan yang banyak mengandung kolesterol LDL antara lain makanan cepat saji, gorengan, dan daging. “Stres juga memicu kolesterol karena tubuh yang stres melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Kedua hormon itu memicu produksi kolesterol,” kata Arijanto.

Baca juga:  Kunyit Lawan Kolesterol

Menurut dr Prapti Utami, dokter dan herbalis di Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kolesterol berlebih yang menumpuk dapat membentuk plak. Plak itu akan mengganggu peredaran darah. Gejala hiperkolesterol di antaranya muncul pegal di punggung. “Hiperkolesterol juga dapat menyebabkan jantung koroner karena pembuluh darah yang menyempit dan berakibat kematian,” ujar Prapti

Penelitian Health Care Organization (HCO), organisasi yang peduli terhadap masalah dan isu-isu kritis berkaitan kesehatan di Indonesia menunjukkan, kolesterol saat ini menjadi ancaman serius bagi dunia kesehatan di tanahair. Lembaga itu mencatat pada 2011 sekitar 70% masyarakat Indonesia mempunyai kadar kolesterol tinggi.

Penelitian HCO juga menyebutkan melonjaknya jumlah pasien berkadar kolesterol tinggi karena minimnya pengetahuan cara menjaga kadar kolesterol HDL dan upaya mengatasi kenaikan kadar kolesterol. Padahal, konsumsi rutin jati belanda dan temulawak ampuh menekan kadar LDL dan mengurangi kolesterol total, sekaligus mencegah gangguan fungsi jantung. (Rizky Fadhilah)

 

Perlakuan

Penurunan Kadar LDL (mg/dl)

Hari ke-3

Hari ke-7

Hari ke-14

Kontrol

17,29

-19,89

-5,51

Simvastatin 3,6 mg/kg bb

18,09

49,51

30,75

Jati belanda 50 mg/kg bb

21,82

29,85

16,65

Temulawak 25 mg/kg bb

35,94

63,47

62,32

Jati belanda 25 mg/kg bb dan temulawak 12,5 mg/kg bb

80,72

89,2

78,16

Jati belanda 50 mg/kg bb dan temulawak 25 mg/kg bb

55,23

48,83

48,02

Sumber : Riset Elin Yulinah Sukandar, Institut Teknologi Bandung

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d