Koleksi anggrek Musimin di dalam rumah tanam.

Koleksi anggrek Musimin di dalam rumah tanam.

Bukan ilmuwan atau periset, Musimin mengkonservasi 150 jenis anggrek lokal lereng Merapi.

Halaman rumah berwarna biru dengan atap limasan itu sejuk dan asri. Bukan semata lantaran berketinggian 960 meter di atas permukaan laut. Pekarangan rumah Musimin itu adem lantaran banyaknya pohon. Di batang-batang pohon itu tumbuh berbagai jenis anggrek. Selain batang pohon, ia juga memanfaatkan tonggak-tonggak kayu untuk menempel anggrek.

Dua rumah tanam berdinding jaring juga menjadi tempat menyimpan koleksi anggreknya. Di dalam rumah tanam terdapat ratusan jenis anggrek, baik terestrial, epifit, saprofit, maupun amubofit. Spesies yang ia koleksi antara lain Taeniophyllum glandulosum, Tricotosia ferox, Liparis condylobulbon, L. pallida, Pholidota ventricosa, Lucia javanica, Dendrobium heterocarpum, D. acuminatissimum, D. crumenatum, Corymborkis veratrifolia, Calanthe triplicata, C. sylvestris, atau Calanthe flava.

Tricotosia ferox anggrek berbulu yang tergolong langka.

Tricotosia ferox anggrek berbulu yang tergolong langka.

Erupsi
Berbagai jenis anggrek itu Musimin peroleh dari lereng Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Warga Desa Turgo, Kecamatan Pakem, Sleman, itu mengoleksi anggrek-anggrek liar sejak 1994. Saat itu, vegetasi di sisi utara bukit Turgo rusak parah akibat erupsi. Padahal lokasi itu merupakan rumah bagi berbagai jenis tanaman dan anggrek. Musimin yang sejak lahir hidup di Turgo tergugah untuk mengkonservasi anggrek. Ia mengumpulkan tanaman anggota famili Orchidaceae itu dari hutan Bingungan.

Hutan di barat laut bukit Turgo itu lolos dari dampak erupsi Merapi sehingga tidak banyak mengalami kerusakan. Pada 1996, ayah 2 anak itu mulai mengoleksi anggrek “biasa” yang banyak ditemukan dan mudah dikenali seperti Vanda tricolor. Setelah kebakaran hutan di lereng Merapi pada 2001, pria 54 tahun itu semakin giat mengumpulkan anggrek liar. Untuk menambah keragaman koleksi, ia menjalin pertemanan dengan sesama kolektor anggrek di sisi timur, utara, atau barat lereng.

Musimin mengoleksi anggrek sejak 1994.

Musimin mengoleksi anggrek sejak 1994.

Meski profesi sehari-harinya hanya bertani, Musimin rela membeli dengan harga Rp30.000—Rp100.000 per jenis demi mendapatkan jenis yang belum ia miliki. Terkadang dari 10 jenis yang ia inginkan, hanya 2 yang terbeli. Toh, dengan cara itu, pada 2010 terkumpul lebih dari 90 jenis anggrek lokal Merapi. Untungnya ketika terjadi erupsi pada tahun itu, rumahnya yang berada dalam ring 1 kawasan Merapi hanya terimbas debu vulkanik yang menumpuk di permukaan daun dan atap rumah tanam.

Baca juga:  Indramayu Terapkan SRI

Saat ini koleksinya mencapai 150 jenis anggrek yang terdiri atas 110 jenis lokal Merapi dan 40 jenis dari kawasan Yogyakarta, Gunungkidul, Kalimantan, Ambon, Papua, atau Sumatera. Tantangan utama melestarikan anggrek liar adalah minimnya pemahaman masyarakat terhadap bentuk berbagai anggrek. Beberapa jenis anggrek tanah malah hanya dianggap rerumputan yang bisa dipotong untuk ternak. Umbi anggrek Nervilia triplicata bahkan kerap diambil untuk konsumsi karena manis dan berair.

Saat pertama mengoleksi, ia memanfaatkan pakis sebagai media tumbuh. Dua tahun terakhir ia menggunakan cara baru. Musimin menempelkan langsung batang semu anggrek di kulit batang pohon atau potongan kayu. Batang semu itu lantas ia ikat dengan tali berbahan ijuk. Selain memangkas biaya pembelian media, anggrek menjadi lebih adaptif ketika ditanam kembali di alam.

Pohon nangka menjadi inang bagi 13 spesies anggrek.

Pohon nangka menjadi inang bagi 13 spesies anggrek.

Kelebihan lain tali ijuk adalah dapat menahan air dan mempertahankan kelembapan. Itu sebabnya biji anggrek matang yang jatuh lalu menempel di tali ijuk akan bertunas. Musimin pun mendapatkan tanaman-tanaman baru tanpa susah payah menyemai. Akar muncul paling lama 3 bulan pascapenempelan. “Kalau tidak muncul ya berarti gagal,” kata bungsu dari 5 bersaudara itu. Akar anggrek berfungsi sekadar untuk menempel atau berpegangan, bukan menjadi parasit yang menyerap makanan dari pohon induk.

Tali Ijuk
Selain mengoleksi ia juga memperbanyak untuk mengembalikan anggrek-anggrek itu di habitat aslinya. Perawatannya sederhana, cukup dengan menyiram setiap sore ketika cuaca panas dan tidak turun hujan. Saat curah hujan cukup, ia malah tidak menyiram. Untuk menarik minat masyarakat yang ingin terlibat melestarikan anggrek asli Merapi, 2 tahun belakangan Musimin membuat program adopsi anggrek.

Dengan biaya adopsi sebesar Rp1 juta per batang, anggrek yang dipilih pengadopsi akan Musimin rawat selama 2 tahun. Perawatan paling sederhana berupa penyiraman saat kemarau panjang. “Pengadopsi bisa ‘menengok’ anggrek yang mereka adopsi setiap saat selama 2 tahun itu,” kata Musimin. Baginya, konservasi anggrek tidak semata-mata mengoleksi, menjaga kelestarian, dan menanam lagi di hutan. Ia mempelajari bahwa beberapa jenis anggrek hanya bisa menempel di pohon inang tertentu.

Sulistyono meneliti anggrek Merapi sejak 1995.

Sulistyono meneliti anggrek Merapi sejak 1995.

Peneliti anggrek kawasan Merapi dari Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Sulistyono, menyatakan bahwa secara logis teoritis ada hubungan antara serangga polinator dan bunga anggrek. Beberapa serangga mempunyai model mulut yang hanya cocok untuk bunga anggrek.

Baca juga:  Raja Hutan Gemar Durian

“Tanpa bunga anggrek itu, serangga itu akan punah,” kata Sulistyono. Dari pengamatannya, di lereng Merapi tidak ada anggrek endemik atau hanya tumbuh di lereng Merapi. Yang ada adalah anggrek lokal yaitu jenis anggrek yang secara alami ada di lereng Merapi, tapi juga tumbuh di tempat lain. “Konservasi anggrek adalah mengonservasi lingkungan pendukung bagi anggrek,” katanya. Sulis menjelaskan, sebuah catatan istimewa anggrek di lereng Merapi adalah munculnya spesies Rhomboda velutina pada 2006.

Jenis itu terakhir kali tercatat di Ungaran pada 1922. Catatan lain, ditemukannya Zeuxine sp yang sebelumnya hanya ditemukan di Kalimantan. Menurut dosen yang juga mengajar di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu, berubahnya Merapi menjadi taman nasional menguntungkan kelestarian spesies dalam kawasan. Bukan sekadar mempertontonkan kekayaan jenis saja, tapi diharapkan dapat menjadi pusat pendidikan dan akan memunculkan kesadaran akan konservasi. Aspek konservasi tidak hanya mempertahankan ekosistem, tapi sekaligus mempengaruhi sosial dan ekonomi warga di sekitar daerah konservasi. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d