Muryono: Kembalinya Laksamana Perkutut 1
Perkutut dengan ring TOP BF selalu diburu pehobi

Perkutut dengan ring TOP BF selalu diburu pehobi

Laksamana Muda TNI Purnawirawan Muryono menangkarkan perkutut di 76 kandang.

Pensiun pada 2010, Laksamana Muda TNI Purnawirawan Muryono tak ingin hanya duduk diam di rumah. Ia pun mulai menyibukkan diri dengan berbisnis ayam dan itik. Namun, ia merasa tidak menikmati kegiatan barunya itu. Hanya setahun berjalan ia pun memutuskan untuk mencari kegiatan lain. Sembari menyeruput secangkir kopi, mantan komandan gugus tempur laut itu duduk di halaman rumahnya dan merenung apa yang bisa ia kerjakan.

Muryono tiba-tiba teringat hobinya menangkarkan perkutut semasa menjabat sebagai perwira. Dengan penuh semangat Muryono bergegas menghampiri istrinya, Siti Budihariati. Ia lantas menyampaikan niatnya untuk kembali menekuni hobi yang sempat ditinggalkannya selama 10 tahun itu. Tak dinyana sang istri menanggapi pilihannya dengan positif. Malam itu ia merasa memiliki harapan baru. Muryono kembali teringat rezeki mengalir dari 24 kandang perkutut miliknya di Surabaya, Jawa Timur. “Istri dan anak-anak saya pun tidak mungkin melupakan jasa perkutut untuk keluarga kami,” katanya.

TOP BF tidak pernah sepi dikunjungi para pehobi dari berbagai daerah

TOP BF tidak pernah sepi dikunjungi para pehobi dari berbagai daerah

Kembali
Masih melekat di ingatan Muryono ketika rekan sejawatnya mempertanyakan alasannya menangkarkan perkutut. “Pak Muryono tidak malu berjualan perkutut?” kenang Muryono sambil menirukan gaya bicara rekannya saat itu. Namun, Muryono bergeming. Ia mantap dengan pilihannya sendiri. Baginya perkutut bukan sekadar burung yang bisa dibisniskan, tapi juga memiliki ikatan batin dengannya. Keyakinan itu tidak berubah ketika ia kembali memutuskan menangkarkan perkutut.

“Keputusan saya sudah bulat, perkutut harapan baru saya,” katanya. Setelah mantap menekuni perkutut, ia pun berkonsultasi pada sahabatnya sesama Mayor Jenderal Purnawirawan, Zainuri Hasyim, yang juga menjabat sebagai ketua umum Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI). Berkat Zaiunurilah jalan Muryono terbuka lebar. Ia memulai langkahnya dengan membenahi 24 kandang perkutut di Surabaya. Kerinduannya semakin membuncah ketika menghadiri kontes-kontes perkutut. “Saat itu saya belum berani terjun lagi ke kontes,” ujar ayah 3 anak itu.

Muryono (kiri) dan Guruh Wicaksono, putra ke-2 Muryono

Muryono (kiri) dan Guruh Wicaksono, putra ke-2 Muryono

Langkahnya tak berhenti sampai di sana. Ia membangun 20 kandang baru di Kota Depok, Jawa Barat, pada Maret 2012. Muryono juga memburu perkutut mulai dari yang kualitas sedang hingga yang memiliki trah juara. “Mencari perkutut itu tergantung keberuntungan. Boleh jadi perkutut yang dianggap biasa justru menjadi juara,” ujar Muryono. Pria 62 tahun itu terus menambah jumlah kandang perkututnya hingga berjumlah 76 kandang.

Baca juga:  Sukun Musuh Baru Malaria

Para pehobi menyambut baik kembalinya Muryono ke dunia perkutut. “Mereka keluarga baru bagi saya,” kata Muryono. Para pehobi dari berbagai daerah acap menyambangi lokasi penangkaran perkutut Top Bird Farm milik Muryono di Kota Depok. Bahkan penangkaran itu sering kali dijadikan tempat berkumpul para pehobi untuk latihan bersama atau sekadar berbincang santai sembari menikmati suara perkutut.

Latihan bersama rutin dilakukan di penangkaran Muryono

Latihan bersama rutin dilakukan di penangkaran Muryono

Lambang cinta
Nama Muryono pun semakin dikenal pehobi perkutut di tanah air setelah kehadiran Den Bagus, perkutut kesayangannya. Muryono membeli perkutut itu dari Terminal Perkutut Farm di Surabaya pada Juli 2012. Bak primadona, Den Bagus kian melejit setelah menjuarai kontes pada Piala Infanteri di pengujung 2012 dengan nilai sempurna. Semua juri memberikan bendera merah—simbol nilai terbaik—untuk Den Bagus. Sayangnya Den Bagus mati pada April 2014.

Padahal, beberapa pehobi menawar Den Bagus dengan harga tinggi, hingga ratusan juta. “Saya tidak pernah berniat menjual Den Bagus,” kata pria kelahiran Blora, Jawa Tengah, itu. Perkutut berumur 2 tahun itu lambang cinta dan kesetiaan bagi Muryono. Musababnya, Den Bagus tidak pernah mau kawin dengan betina lain kecuali betina pasangannya pertama kali. Meskipun telah dicarikan betina unggul ia tetap memilih setia pada pasangannya.

Piyik umur 7 hari milik TOP BF

Piyik umur 7 hari milik TOP BF

Muryono sempat mengungsikan pasangan Den Bagus ke penangkarannya di Surabaya. Namun, ia pun akhirnya menyerah dan mempersatukan kembali Den Bagus dengan pasangannya. Kematian Den Bagus sempat membuatnya tercengang. “Belum tentu saya bisa mendapatkan perkutut seperti itu lagi,” ujar kakek 7 cucu itu. Menurut Muryono, salah satu tujuan menangkarkan perkutut adalah untuk membantu peternak perkutut lain. Sebab itu, ia jarang menjual perkututnya dengan harga tinggi. “Yang penting konsumen senang dan puas,” katanya.

Baca juga:  Kreatif Pasarkan Kakao

Sukses Muryono tak diraih begitu saja. Ia harus melewati berbagai tantangan hingga bisa kembali eksis di dunia perkutut. Ia pun tak pernah luput memeriksa kandang, kesehatan, dan telur perkututnya. Penangkaran Muryono memang tidak pernah sepi dari pembeli. “Bisnis perkutut memang berprospek bagus dan tidak ada habisnya,” katanya. Namun, Muryono tak berkeinginan untuk menambah jumlah kandangnya. Baginya cukup diangka 76. “Saya angkatan 76, dan saya akan tetap mempertahankan angka itu,” ujar sang laksamana. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *