Mulsa plastik mengendalikan gulma dan hama di kebun jeruk

Pak tolong lihat kebun jeruk saya, semua daunnya menguning,” ujar seorang pekebun di Padangpanjang, Sumatera Barat, kepada tim Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro). Saat itu, Hadi Mulyanto beserta tim sedang menghadiri pameran di Solok, Sumatera Barat. Sesampai di kebun itu, Hadi tercengang melihat kebun jeruk seluas 3,5 hektar dipenuhi daun kuning tanpa bunga dan buah. Padahal musim sebelumnya, Citrus nobilis itu mampu berproduksi 60—75 kg jeruk siam per pohon.

Hadi beserta tim dari Balitjestro segera mengamati dan mewawancarai pekebun. Hasil penelusuran, 2 bulan sebelum kejadian, pekebun menyemprotkan herbisida sistemik dalam dosis yang berlebih. “Di sini susah cari tenaga kerja untuk mengendalikan gulma secara manual atau dicabut, akhirnya saya semprot herbisida,” ujar Hadi menirukan pekebun itu.

Gulma

Penggunaan herbisida untuk mengatasi rumput di kebun jeruk sejatinya merupakan alternatif terakhir. Jenisnya pun sebaiknya herbisida kontak bukan sistemik. “Akar jeruk sensitif. Jika terkena herbisida sistemik yang masuk ke jaringan tanaman, akar serabut akan ikut rusak,” ujar Hadi. Menurut Hadi, cukup menggunakan herbisida kontak untuk mengatasi gulma jika sudah amat mendesak.

Mulsa daun jati dan mulsa jerami bisa menjadi pupuk sehingga tak perlu diangkat.
Mulsa daun jati dan mulsa jerami bisa menjadi pupuk sehingga tak perlu diangkat.

Menurut lelaki yang berkiprah di Balitjestro sejak 1997 itu, sejatinya pekebun bisa menggunakan mulsa untuk mengendalikan tumbuhan pengganggu itu. Hadi membuktikannya di kebun percobaan di Balitjestro, Tlekung, Batu, Jawa Timur pada 2010. “Saat itu pertumbuhan gulma cepat sekali lantaran tanah subur. Hampir tiap pekan gulma itu harus diberantas sementara mencari tenaga kerja sulit,” ujarnya.

Menurut Ir Agus Sugiyatno MP, peneliti di Balitjestro, beberapa gulma yang kerap ditemukan pekebun jeruk di antaranya rumput teki Cyperus rotundus dan babandotan Ageratum conyzoides. Tumbuhan yang tak dikehendaki keberadaannya itu bersaing dengan tanaman utama menyerap air, unsur hara, sinar matahari, dan tentu saja ruang tumbuh. Akibatnya nutrisi untuk tanaman utama berkurang. “Pemasangan mulsa sangat cocok untuk perkebunan jeruk di tempat-tempat yang susah tenaga kerja,” ujarnya.

Baca juga:  Kelaci Kacang Lezat

Menurut pengajar Agronomi di Universitas Gadjah Mada, Dody Kastono, potensi kerugian pekebun akibat gulma mencapai 40—60%. Pada tanaman semusim, efek persaingan dengan gulma segera terlihat sehingga penanggulangan harus dilakukan lebih cepat. Namun, pada tanaman tahunan seperti jeruk dan mangga, proses persaingan lambat dan tak kasat mata. Tahu-tahu produktivitas melorot 60%.

Daun jati

Keuntungan lain menggunakan mulsa khususnya plastik hitam perak (PHP) dapat membantu pengendalian hama thrips. Menurut Hadi Mulyanto jika serangan hama pengisap itu terjadi sejak bunga mekar, bisa menurunkan pendapatan pekebun hingga 50%. “Buah jeruk menjadi burik dan cacat sehingga tak layak jual,” ujar alumnus Agronomi, Universitas Muhammadiyah Malang itu. Dengan menggunakan mulsa PHP, lingkungan sekitar tanaman menjadi panas dan pantulan cahaya mulsa menyilaukan. Itu yang membuat thrips enggan datang.

Selain plastik, daun jati dan jerami juga dapat digunakan sebagai mulsa. Keuntungannya, pekebun tak perlu melepas mulsa organik itu. “Dibiarkan saja sampai lapuk. Biar sekalian jadi pupuk,” ujar Hadi. Namun tentu saja, kurang efektif untuk membantu pengendalian thrips. Selain itu, daya tahan mulsa organik singkat. “Mulsa jerami hanya bertahan kurang dari 2 bulan, sementara daun jati sekitar 4 bulan,” kata lelaki kelahiran Kota Malang, 22 Januari 1958 itu.

Pemasangan mulsa plastik hitam perak.
Pemasangan mulsa plastik hitam perak.

Pemasangan mulsa menyesuaikan besarnya batang tanaman atau umur. “Jika jeruk masih belum produktif atau berumur 3 tahunan, cukup menggunakan mulsa ukuran 1 m x 1 m. Kalau sudah di atas 3 tahun, 2 m x 2 m,” kata kepala kebun Balitjestro periode 1995-2011 itu.

Tiga kali pakai

Sebelum mulsa dipasang, Hadi menyarankan untuk memendekkan rumput terlebih dahulu jika gulma itu terlalu tinggi. Saat pemasangan, batang tanaman berada di tengah atau diapit dua mulsa. “Jadi yang terbuka hanya pada lingkar batangnya,” ujar Hadi. Sementara untuk pemasangan mulsa daun jati butuh pemberat seperti urukan tanah.

Baca juga:  Trik Mengatasi Lalat Buah
Jeruk mulus bebas thrips.
Jeruk mulus bebas thrips.

Waktu pemasangan mulsa setelah pemupukkan kedua. “Jika pemasangannya setelah pemupukkan pertama nanti akan susah pada pemupukkan ke-2,” papar Hadi. Rata-rata sejak 3 bulan pascabunga, pekebun memupuk tanaman untuk kali ke-2. “Pemasangannya selama 6 bulan atau 1-1,5 bulan sebelum panen,” katanya. Biasanya gulma mulai bertumbangan sebulan pascapasang mulsa. Menurut Hadi, mulsa PHP bisa digunakan sampai 3 kali musim tanam atau 3 tahun. “Setelah pakai bisa dilipat dan diselipkan di batang tanaman itu. Jangan dicampur karena bisa tertukar ukuran lain sehingga menyulitkan pemasangan selanjutnya,” ujarnya.

Pada kebun jeruk siam, pembudidaya kerap menggunakan jarak tanam rapat lantaran kendala luasan lahan. Idealnya jarak tanam 4 m x 5 m. Namun, banyak pekebun menggunakan jarak tanam 3 m x 3 m. Jika jarak tanam rapat otomatis kanopi tanaman saling bersentuhan pada umur tertentu—pada jeruk siam sekitar 3 tahun. Akibatnya sinar matahari yang masuk di sekitar pohon tertahan. Pertumbuhan gulma ikut terhambat, sehingga pemasangan mulsa tak perlu dilakukan.

Pekebun yang memanfaatkan harus mengeluarkan biaya lebih. Sebuah pohon memerlukan mulsa 4 m2. Jika populasi mencapai 400 tanaman per hektar, pekebun menghabiskan 1.600 m2 mulsa seharga Rp1,2-juta. Sekilas biaya itu relatif mahal. Namun, selama tiga tahun pekebun tak perlu menyiangi gulma.

Bandingkan jika pekebun menyiangi gulma perlu 30 tenaga kerja selama sehari. Jika biaya penyiangan Rp25.000 per orang per hari, artinya pekebun menghabiskan Rp750.000 untuk sekali penyiangan. Padahal, dalam setahun, pekebun 1-2 kali menyiangi kebun jeruk sehingga total biaya penyiangan Rp750.000-Rp1.500.00 per tahun atau Rp2,25 juta-Rp4 juta per tiga tahun. Dengan demikian, pemanfaatkan mulsa untuk mengatasi gulma lebih murah daripada penyiangan.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d