580-H092-1

Kandungan vitamin C moringa lebih tinggi daripada vitamin C jeruk.

Konsumsi daun moringa untuk mencukupi kebutuhan nutrisi secara mudah dan murah.

Anak-anak berusia di bawah lima tahun di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, mengalami malnutrisi. Korban meninggal mencapai puluhan orang. Hampir setiap negara di dunia menghadapi malnutrisi yang menjadi masalah serius. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melansir 45% kematian pada balita karena kekurangan nutrisi. Mayoritas kematian itu terjadi di negara dengan tingkat perekonomian rendah. Pada 2013 sebanyak 17% atau 98 juta balita di negara berkembang berbobot tubuh di bawah normal.

Kasus tertinggi di kawasan Asia Selatan, Afrika Barat, Oseania, Afrika Timur, Asia Tenggara, Afrika Tengah, dan Afrika Selatan. Sementara Badan Pangan Dunia (FAO) mengungkapkan, setidaknya 1 dari 3 orang di dunia menghadapi kasus malnutrisi meliputi pertumbuhan terhambat, bobot di bawah normal, kekurangan vitamin dan mineral, obesitas, serta gangguan penyakit. FAO menyebut pada 2017 sekitar 41 juta anak mengalami obesitas di dunia.

Jumlah itu meningkat sebanyak 11 juta sejak 2000. Di Asia Selatan lebih dari 26 juta anak bertubuh terlalu kurus dan kelaparan. Yang memprihatinkan, pada saat yang sama pula jumlah balita yang mengalami obesitas meningkat dari 5 juta ke 7,9 juta anak sejak 16 tahun belakangan. Menurut guru besar Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ervizal AM Zuhud, untuk mengatasi malnutrisi adalah pemenuhan kebutuhan gizi seimbang sejak dini.

580-H092-2

Moringa dapat beradaptasi di berbagai lahan, termasuk lahan kering dan miskin air.

Moringa

Tindakan itu sekaligus berguna mencegah berbagai penyakit degeneratif. Penduduk miskin, terutama dari kelompok balita dan lansia, merupakan kelompok rawan malnutrisi. Badan Pusat Statistik melaporkan pada 2013 jumlah penduduk miskin—penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan—sekitar 28,07 juta orang di Indonesia.

Baca juga:  Tahan Dua Bulan

Kementerian Kesehatan RI menyebut berdasarkan pemantauan status gizi (PSG) pada 2014 sebanyak 4,7% balita mengalami gizi buruk. Persentase itu didapat dari pantauan di 150 kabupaten dan kota di dengan jumlah sampel 13.168 balita. Sayangnya, masyarakat desa selama ini dibiarkan berkembang sendiri di tengah era globalisasi, tanpa pendidikan dan pendampingan memadai. Padahal, mereka membutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Ervizal menuturkan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan dalam rangka mengatasi malnutrisi adalah gerakan penanaman dan pemanfaatan moringa. “Sejumlah lembaga ilmiah dan universitas di berbagai dunia mengakui kehebatan kelor sebagai tanaman sumber nutrisi yang melimpah,” ujar Ervizal. Penanaman Moringa oleifera pun mudah sehingga masyarakat dapat membudidayakannya secara mandiri.

580-H093-1

Moringa berpotensi sebagai sumber pangan kaya nutrisi yang mudah dan murah.

Apalagi tanaman anggota keluarga Moringaceae itu adaptif ditanam di berbagai lahan, termasuk lahan kering miskin air. Eksportir di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Ir. Ai Dudi Krisnadi, menuturkan moringa menyumbangkan perannya mengatasi kekurangan nutrisi di Nusa Tenggara Timur pada 2011. Saat itu sekitar 56% penduduk setempat juga mengalami masalah malnutrisi.

Untuk mengatasi masalah kekurangan gizi itu Dudi bersama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bahu-membahu mengembangkan moringa sebagai sumber pangan fungsional yang murah dan mudah didapat oleh penduduk. Dudi menanam moringa di lahan-lahan telantar serta pekarangan warga. Gerakan menanam kelor itu pun membuahkan hasil. Masalah gizi buruk perlahan teratasi bahkan kini ada ratusan hektare kebun moringa membentang di NTT.

Dudi menuturkan selama ini topik seputar ketahanan pangan menjadi isu hangat di setiap ruang diskusi. Namun, setelah diskusi banyak orang mengabaikan kandungan nutrisi bahan pangan. “Oleh karena itu, di beberapa wilayah di Indonesia masih dijumpai kasus kekurangan  gizi,” kata Dudi. Sementara di  mancanegara seperti Mauritanian, Senegal, Ghana, Nigeria, dan Filipina moringa justru menjadi harapan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi.

Baca juga:  Ramu Nutrisi Tin

Nutrisi lengkap

Ratusan penelitian menyebutkan daun moringa mengandung beragam senyawa yang berguna bagi tubuh seperti protein, vitamin, mineral, antioksidan, dan antimikroba. Riset Sobhy A. El Sohaimy dan rekan dari Departemen Teknologi Pangan, Institut Penelitian Budidaya Kawasan Kering, Mesir, menyebut dalam 100 gram ekstrak metanol daun moringa mengandung 11,23 mg serat, 9,38 mg karbohidrat, dan energi 332,68 Kcal. Juga 69,13 mg lisin, 289,34 Na, 33,63 K, 25,64 Mg, 486,23 Ca, dan 105,23 P.

580-H093-2

Ir. Ai Dudi Krisnadi mengembangkan moringa di Nusa Tenggara Timur dan Blora, Jawa Tengah.

Moringa mengandung vitamin C setara  7 jeruk, vitamin A setara 4 wortel, kalsium setara  4 gelas susu, potasium setara dengan yang terkandung dalam 3 pisang, dan protein setara 2 yoghurt. Oleh karena itu, masyarakat di negara berkembang, terutama Afrika dan Amerika latin, bahkan menganggap moringa sebagai bagian dari kebutuhan konsumsi harian bagi penduduk kota maupun desa.

WHO merekomendasikan moringa sebagai pangan alternatif untuk memerangi kekurangan gizi. Masyarakat dapat mengonsumsi moringa segar atau berupa olahan seperti tepung atau campuran bahan pangan lain. Menurut Sujatha BK dan Poonam Patel dari Departemen Kesehatan Publik, Institut Ilmu Gigi dan Pusat Penelitian Vydehi, India, satu sendok makan tepung daun moringa memenuhi kebutuhan 14% protein, 40% kalsium, dan 23% zat besi dan vitamin A bagi anak berusia 1—3 tahun.

Semenatra enam sendok makan penuh tepung daun moringa mencukupi kebutuhan besi dan kalsium harian bagi perempuan hamil dan menyusui. Masyarakat menyebut tanaman itu kelor. Dengan beragam nutrisi itu moringa yang selama ini identik dengan penjernih air itu layak sebagai jawaban atas malnutrisi di tanah air. (Andari Titisari/Peliput: Fakhri Muhammad Luthfi)

580-H093-3

Moringa dapat diolah menjadi beragam menu makanan, contohnya bubur.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d