Jus berbahan dasar serbuk daun kelor dapat meningkatkan kekebalan tubuh penderita HIV/AIDS.

Jus berbahan dasar serbuk daun kelor dapat meningkatkan kekebalan tubuh penderita HIV/AIDS.

Daun moringa membantu pasien menjinakkan virus maut Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Sintiya Hasannah—bukan nama sebenarnya tergolek lemah di atas tempat tidur. Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang bertandang di tubuhnya menyebabkan tubuh lemas tak berdaya. Derita itu kian terasa saat malam menjelang, sakit di bagian perutnya tak terperikan. Rutin mengonsumsi olahan daun kelor—Moringa oleifera, penderitaan itu kini sudah berakhir.

Perempuan asal Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah itu ingat persis tanggal 18 Agustus 2012, hari yang sangat memilukan. Sakit di sekujur tubuhnya tak tertahankan. Sang suami pun lantas membawanya ke sebuah rumah sakit terdekat di Blora, Jawa Tengah. Dengan kondisi badan lemah, perempuan 30 tahun itu menjalani pemeriksaan dan cek darah.

Sepuluh hari kemudian waktu yang sangat menegangkan. Ibu dari 2 orang anak itu mesti menunggu hasil pemeriksaan darahnya. Tak dinyana, uji menyatakan virus HIV mengalir dalam darahnya. Tak hanya itu, penyakit HIV akan selalu menggerogoti daya tahan tubuhnya. Badan yang kurus kering ditambah kulit kasar dan besisik pun tercoreh di tubuh Shintiya.

Vonis itu membawa pikirannya berkelana ke masa lalu. Sepenggal masa lalu yang kelam seperti hadir lagi. Mantan suami yang bekerja sebagai buruh bangunan menularkan penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu. Hal itulah yang mengundang HIV hadir di tubuh. Akibatnya bobot tubuh anjlok menjadi 47 kg. Padahal sebelumnya mencapai 70 kg. Staminanya perlahan menurun tidak seprima dahulu. Ia mudah lelah, wajahnya selalu pucat, dan tubuh terlihat lemas lunglai. “Untuk makan saja saya tidak kuat untuk mengangkat tangan, akhirnya ibu menyuapi saya,” ujar Shintiya.

Daun moringa

Alumnus Fakultas Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya itu mencoba mengatasi virus maut itu dengan rajin berobat ke dokter. Namun, kondisinya tak kunjung membaik. Stamina tetap drop dan lemah. Aktivitasnya dibatasi oleh kondisi tubuh yang melemah. Tak hanya Shintiya yang merasakan kepedihan itu. Orang tuanya pun turut merasakan.

Secercah harapan muncul saat atasannya, seorang produsen produk berbahan moringa di Kabupaten Blora, Ir. Ai Dudi Krisnadi, memberikan saran untuk konsumsi daun moringa. Keesokan hari mulailah Shintiya mengonsumsi seduhan daun moringa. Dosisnya 2 gelas sehari, pagi dan malam hari. Ia menyeduh herbal itu dalam 300 ml air mendidih selama 15 menit. Untuk mengurangi rasa pahit, wanita asal Blora, Jawa Tengah itu mencampurnya dengan madu. “Tubuh saya terasa ringan dan bisa bergerak bebas setelah meminum daun kelor,” ujarnya.

Baca juga:  Harum Kopi di Kaki Gunung Sumbing

Selain minum seduhan daun, Shintiya juga kerap mengonsumsi sayur daun kelor dan jus berbahan dasar bubuk moringa. Sejak itu, ia tidak merasakan lagi letih dan lemah. Perubahan lain, ia mampu bekerja dan mengangkat barang berat. Itu terjadi 3 bulan setelah rutin mengkonsumsi teh daun kelor. Bobot tubuh Shintiya perlahan meningkat. Staminanya kian fit dan tidak lemas lagi. Bahkan jika ia tidak bekerja, tubuh rasanya kaku dan lemas.

Virus negatif

Hingga saat ini ia masih mengonsumsi berbagai olahan tanaman drumstick tree itu. Juga disertai dengan obat dokter berupa pil antivirus. Konsumsi itu juga dikombinasikan dengan multivitamin—vitamin C dan penambah stamina—beserta makanan bergizi. “Untuk menjaga staminanya, makanan yang tinggi protein harus selalu rutin disantap,” ujar Shintiya.

Konsumsi sayuran dapat meningkatkan stamina dan energi bagi tubuh.

Konsumsi sayuran dapat meningkatkan stamina dan energi bagi tubuh.

Sehari minimal 3 telur ayam harus dikonsumsi untuk memenuhi nutrisi protein. Belum lagi jus buah-buahan dan sayur mayur yang rutin dikonsumsi. Meski saat ini kondisinya kian membaik, setiap 3 bulan ia harus rutin cek darah ke rumah sakit. Itu untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuhnya. Dengan usaha dan keyakinan untuk sembuh, kondisi Shintiya kian membaik.

Tanaman moringa sering diabaikan, padahal memiliki banyak manfaat.

Tanaman moringa sering diabaikan, padahal memiliki banyak manfaat.

Pada Maret 2018, virus HIV yang bersarang ditubuhnya dinyatakan negatif. Hasil cek darah menyatakan virus yang bersarang di tubuhnya sudah sirna. Namun, hasil itu belum diberikan Shintiya ke keluarganya. Menurut konsultan terapi dan akupuntur di Klinik Sehat Sentosa di Jakarta Timur, Willie Japaries, HIV ditemukan dalam darah. Selain itu juga terdapat pada cairan seksual yang menyebar melalui kontak seksual tanpa pelindung, dan peralatan jarum suntik. Ketika seseorang terinfeksi HIV, maka sistem kekebalan tubuh akan rusak dan menyebabkan immunodeficiency. Sistem kekebalan tubuh tak bisa lagi melawan kuman dan patogen. Penderita HIV jadi mudah jatuh sakit.

“Pasien yang divonis HIV/AIDS juga didiagnosa malnutrisi dan sangat lemah kondisinya, bahkan hampir tidak kuat untuk berjalan,” ujar Willie. Sistem kekebalan tubuh pada penderita hampir tidak ada sehingga penyakit atau virus yang tidak berbahaya bagi manusia normal pun menjadi sangat mengancam kelanjutan hidup pasien HIV.

Baca juga:  Tanam Butternut Tanpa Tanah

Sistem imun

Bagaimana duduk perkara daun kelor mengatasi virus HIV? Virus HIV berbentuk bola dengan tanduk menonjol. Kulit luar virus tersusun dari lapisan lemak, sedangkan tanduknya tersusun dari protein. Bila tanduk yang terbuat dari protein dapat dirusak, maka upaya virus HIV untuk memperbanyak dirinya dapat ditekan. Dosen Swiss Germany University, Maruli Pandjaitan, menyebutkan enzim yang bersifat proteolitik diperkirakan mampu merusak tanduk virus itu.

Virus HIV dan penyakit AIDS tidak secara langsung membunuh penderitanya. Penyakit itu menggerogoti sistem kekebalan sehingga tubuh pasien rentan terhadap serangan patogen. “Sekadar sariawan saja bisa menjadi luka lebar dalam rongga mulut,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, itu. Virus influenza akibat cuaca tidak menentu dapat memicu radang tenggorokan atau penyakit saluran pernapasan akut. Biasanya penyakit sekunder itulah yang menyebabkan kematian penderita.

Trubus Edisi Juli 2018 Highrest.pdf

Ketika CD4 —nama lain helper cell atau sel T-4, sel pembantu daya tahan tubuh (limphosit)—mulai berkurang jumlahnya, maka muncul gejala penyakit oportunistik. Penyakit itu timbul karena mudahnya virus/bakteri masuk akibat daya tahan tubuh menurun—seperti batuk, flu, diare akut. Dampaknya daya tahan tubuh menurun, dan berbagai penyakit pun muncul. Pada akhirnya pasien akan beralih ke fase AIDS karena banyaknya penyakit oportunistik ini. “Minimal 2 penyakit oportunistik datang, sudah bisa dikatakan si pasien itu menderita AIDS,” ujar Willie.

Untuk memastikan positif HIV, seseorang harus melakukan tes laboratorium. Tes Enzyme Link Immuno Sorbent Assay (ELIZA) biasa dilakukan untuk mendeteksi virus dalam tubuh. Apabila CD4 dalam darah di atas 1.000 bisa dikatakan daya tahan tubuh seseorang masih tinggi. Jika di bawah 1.000 patut dicurigai terkena HIV,” ujar Willie.

Menurut Dudi, moringa mengandung antioksidan kuat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sifat antioksidan kelor memperlambat atau bahkan mencegah beberapa komplikasi yang terkait dengan AIDS. Kunci untuk melawan HIV dan AIDS yakni mencegah virus berbahaya berkembang biak sehingga tak mampu menembus dan merusak sel-sel tubuh. Tubuh terinfeksi virus harus memiliki antioksidan untuk melawan unsur-unsur berbahaya, serta memperlambat penyebaran infeksi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Moringa mengandung 46 antioksidan kuat, yaitu Vitamin A, C, E, K, B (kolin), B1 (thiamin), B2 (riboflavin), alanin, indoleacetonitrile, treonin, zinc, dan lainnya. Untuk mendapatkan manfaat dan khasiat kelor bagi penderita HIV/AIDS sebaiknya mengonsumsi daun kelor, baik dalam bentuk segar, serbuk daun, maupun kapsul serbuk daun moringa. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d