Kualitas dan hasil panen kakao meningkat sehingga menambah pendapatan petani.

Kualitas dan hasil panen kakao meningkat sehingga menambah pendapatan petani.

Perusahaan berkembang bersama para petani kakao dengan pembinaan berkesinambungan. Melalui program Cocoa Life, ia membina 16 ribu petani kakao di Indonesia.

Lima tahun menjadi petani kakao, Ali Akbar hanya mampu menuai 800 kg biji kering per hektare. Namun, sejak 2015 produksi buah Theobroma cacao di lahannya meningkat menjadi 965 kg per hektare. Lonjakan produksi di lahan milik petani di Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara, itu mencapai 165 kg per hektare. Padahal, Ali mengelola 4 ha lahan. Panen terakhir pada Mei 2017, ia memperoleh harga Rp25.000 per kg.

Mendapat tambahan omzet hingga Rp16 juta membuat Ali girang bukan main. Menurut ayah dua anak itu peningkatan produksi berkat program pelatihan cocoa life. Ketika mengikuti program itu Ali memperoleh pengetahuan budidaya intensif seperti pemupukan tepat, pemangkasan, sanitasi kebun, dan pengelolaan hama penyakit. Ia menerapkannya sehingga hasil panen membumbung.

Kakao, salah satu komoditas utama bagi industri olahan pangan.

Kakao, salah satu komoditas utama bagi industri olahan pangan.

Membina petani
Penyelenggara program cocoa life adalah PT Mondelez International yang berkantor pusat di Deerfield, Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Menurut direktur cocoa life untuk Asia Tenggara, Andi Sitti Asmayanti, tujuan program untuk membina petani kakao agar lebih berdaulat. Selain itu demi menjamin keberlanjutan produksi kakao dunia. Menurut Asmayanti untuk menjalankan program sejak 2012 Mondelez menggelontorkan dana US$400 juta setara Rp5,2 triliun (kurs 1US$ setara Rp13.000).

Melalui program itu Mondelez membina 200.000 petani kakao yang tersebar di 6 negara sentra kakao dunia, di antaranya Pantaigading, Ghana, Indonesia, India, Republik Dominika, dan Brasil. “Tujuan lainnya demi terjaganya pasokan kakao dari sektor hulu,” kata Asmayanti. Perempuan 43 tahun itu mengatakan, keberlanjutan sektor pertanian kakao di Indonesia sangat penting.

Head of Corporate Communication & Government Affairs Mondelez International di Indonesia, Khrisma Fitriasari.

Head of Corporate Communication & Government Affairs Mondelez International di Indonesia, Khrisma Fitriasari.

“Kaum muda sebagai generasi penerus merupakan salah satu sasaran program cocoa life. Kami bergerak untuk menjadikan pertanian kakao sebagai tempat yang menjanjikan bagi kaum muda untuk tumbuh dan berkembang,” kata Asmayanti. Adapun teknisnya dengan cara menghubungkan praktik budidaya dan pembangunan komunitas. Pada akhir 2016 cocoa life bekerja dengan 16.100 petani kakao dari 132 komunitas di Sulawesi dan Sumatera.

Menurut Asmayanti petani yang mengikuti program itu minimal 70% menjalakan standar budidaya sesuai aturan cocoa life. Petani di tanah air minim mendapat pendidikan budidaya kakao yang baik dan benar. Oleh karena itu, kualitas dan kuantitas kakao anjlok. Pada umumnya setelah mengikuti pelatihan dan menerapkan hasil pelatihan, kualitas dan kuantitas panen meningkat. Jika kualitas meningkat petani bisa memasok kakao ke Mondelez International.

Baca juga:  Herbal Pelindung Jantung

Program itu berperan membantu meningkatkan praktik budidaya, membangun komunitas, hingga membantu taraf hidup petani kakao. “Yang mengubah taraf hidup petani adalah petani itu sendiri. Namun, lewat binaan dari segi edukasi budidaya, hasil panen meningkat. Hasilnya pun bisa membantu sampai taraf ekonomi,” kata Asmayanti. Setelah program berjalan 5 tahun, kebutuhan kakao Mondelez untuk pasar global 20% terpenuhi dari program cocoa life.

Mondelez International mengolah kakao menjadi beragam produk pangan seperti cokelat, biskuit, dan campuran susu bubuk. Memiliki sebagian besar produk berbahan dasar kakao, perusahaan kudapan itu merupakan salah satu pengguna kakao terbesar di dunia. Menurut Head of Corporate Communication and Government Affairs Mondelez International, Khrisma Fitriasari, perusahaan itu masuk ke Indonesia sejak 1994.

Program cocoa life, membantu meningkatkan kualitas dan hasil panen petani kakao.

Program cocoa life, membantu meningkatkan kualitas dan hasil panen petani kakao.

Ketika itu Mondelez menggunakan nama Kraft Foods. Fokus bisnis pada makanan camilan kategori biskuit, permen, olahan susu, dan minuman bubuk. Pada 2008 perusahaan itu mengakuisisi sebuah produk biskuit ternama di tanahair. Itulah sebabnya kemudian lahir Mondelez International yang fokus mengelola produk camilan.

Pabrik pengolahan Mondelez berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, dan Bandung keduanya di Provinsi Jawa Barat. Bangunan seluas 43.500 m2 di Cikarang sebagai lokasi untuk membuat biskuit. Adapun pabrik di Bandung khusus memproduksi olahan susu seperti keju. “Kita boleh berbangga, karena pabrik yang bertempat di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat memasok kebutuhan produk di 28 negara dunia,” kata Khrisma.

Negara tujuan ekspor meliputi negara-negara di Asia Tenggara, Australia, dan Hongkong. Pabrik yang berdiri sejak 1995 itu setidaknya menyerap 1.200 pekerja. Menurut Khrisma kini perkembangan produk olahan kakao sangat baik dan pesat.

Beberapa tahun terakhir berhasil menjadi produsen camilan cokelat ke-2 terbesar di Indonesia. Salah satu produk yang paling digemari konsumen adalah cokelat batangan Cadbury. Perempuan 32 tahun kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu mengatakan, saat ini camilan biskuit masih produksi terbesar Mondelez International. Meski begitu bahan baku cokelat pun diperlukan untuk beberapa varian biskuit.

Para pendiri Mondelez International, terpampang di dinding kantor Mondelez International di Jakarta.

Para pendiri Mondelez International, terpampang di dinding kantor Mondelez International di Jakarta.

Perusahaan itu mensyaratkan biji kakao baik sesuai standar nasional Indonesia (SNI). Menurut Khrisma visi Mondelez International menciptakan momen kebahagiaan. Oleh karena itu semua produk Mondelez International harus mencerminkan itu. “Saat berkumpul dengan keluarga, kerabat, dan sahabat maka produk kami ada saat momen itu,” katanya.

Baca juga:  Panganan Dewa

Mondelez berkomitmen menjaga kualitas produk. “Konsumen bisa membandingkan sendiri mengenai rasa produk keluaran Mondelez International. Cokelatnya pun lembut saat dikunyah,” katanya. Adapun dari segi rasa, setiap negara sudah dilakukan penelitian terlebih dahulu. Pasalnya untuk urusan lidah definisi enak pun berbeda di setiap negara. “Meskipun mereknya sama, rasa disesuaikan dengan kesukaan khas suatu negara,” kata Khrisma.

Penelitian produk relatif lama. Ketika membuat varian baru, yang pertama dilakukan biasanya usulan dari bagian pemasaran terkait keinginan konsumen. Usulan itu berasal dari diskusi grup dan survei konsumen sehingga memperoleh kesimpulan bahwa orang Indonesia suka pada produk varian tertentu. “Jika varian yang diusulkan betul-betul baru maka prosesnya cukup panjang,” kata Khrisma.

Proses yang harus dilalui di antaranya perumusan formula produk hingga blind test untuk mengetahui respons pasar. Lalu proses selanjutnya perlu persetujuan internal dan cek nutrisi calon produk. “Jika sudah disetujui perlu pula pembuatan cetakan untuk produksi masal. Selama ini rata-rata proses sebelum dikeluarkan varian anyar memerlukan waktu rata-rata 2—3 tahun,” kata Khrisma.

Pabrik Mondelez International di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Pabrik Mondelez International di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Mondelez International juga melakukan penelitian dan pengembangan di antaranya nutrisi dan keamanan produk. Perusahaan itu juga memperhatikan pengemasan yang baik. Pascaproduksi pun pengawasan masih ketat. Pasalnya ada pula tim khusus yang bertugas mengecek kualitas. Mondelez membuat pascaproduksi termasuk rute pemasaran. Harap mafhum, bagian pemasaran juga bekerja sama dengan pasar swalayan untuk memasarkan produk.

Menurut Khrisma bahan baku lebih mengutamakan yang ada di dalam negeri. Misal susu dan cokelat, sebagian asal petani binaan. Namun, bahan tertentu, misal bahan untuk keju masih dari luar karena tidak terdapat di dalam negeri. Secara umum Mondelez Internasional berkembang pesat. Potensi pasar di tanah air sangat baik karena populasi besar hingga 250 juta jiwa.

Apalagi dengan demografi akan didominasi masyarakat produktif. “Secara umum usia produktif akan senang dengan hal baru. Selain itu dari segi ekonomi pun cukup baik. Peluang pasar pun sangat besar,” papar Khrisma. Faktanya Indonesia menjadi pasar ke-2 terbesar konsumen biskuit di Asia Pasifik setelah Tiongkok. Kini Mondelez International menyerap tenaga kerja 1.700 orang untuk produksi dan 3.000 orang untuk pemasaran untuk seluruh Indonesia.

Menurut Khrisma, kini tren camilan mengarah ke produk yang serbapraktis dan baru. Contohnya produk alternatif biskuit pengganti sarapan yang bisa mencukupi kebutuhan nutrisi para pekerja yang kerap sibuk. Adapun tujuan Mondelez International adalah mengembangkan pekerja, mengembangkan bisnis, dan mengembangkan manfaat dari hasil kerja. Tentu saja menciptakan momen kebahagiaan bagi pekerja, bagi konsumen, dan bagi petani kakao. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d