Mocaf Makin Mocer 1

Permintaan tepung singkong modifikasi atau modified cassava flour (mocaf) melonjak. Produsen menyebar ke berbagai wilayah.

Mocaf bahan makanan sehat karena tidak mengandung gluten sehingga aman untuk penderita autis dan diabetes mellitus.

Mocaf bahan makanan sehat karena tidak mengandung gluten sehingga aman untuk penderita autis dan diabetes mellitus.

Perusahaan menolak permohonan cuti melahirkan Yulita Sirken, S.T.P., selama 3 bulan. Perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit itu hanya mengizinkan Yulita cuti 40 hari. Padahal anak kedua Lita—sapaan akrab Yulita Sirken—enggan mengonsumsi susu formula. Oleh karena itu, Lita mesti berada di sisi sang bayi setiap saat. Dengan berat hati pada Januari 2016 ia pun mengundurkan diri.

Terhentinya karier Lita di perusahaan asing itu justru membawa berkah. Musababnya ibu dua anak itu memiliki waktu lebih banyak berkumpul dengan keluarga. Terutama mengurus sang buah hati dan melayani suami. Ketika bekerja dahulu waktu berkualitas dengan keluarga hanya sedikit. Itu karena Lita mesti bekerja mulai pukul 08.00—17.00. Bahkan 3—4 kali sepekan ia mesti pulang kantor maksimal pukul 20.00.

Bebas gluten

Yulita Sirken pun leluasa mengatur waktu. Kini Lita bisa beberapa kali mengunjungi orang tua sekaligus menentukan sendiri waktu terbaik. Sebelumnya ia hanya sekali setahun bersilaturahmi dengan kedua orang tuanya yaitu pada hari Idul Fitri. Yang paling istimewa pendapatan Lita meroket sekitar 100% menjadi Rp8 juta—Rp13 juta per bulan. “Saya memproduksi tepung singkong termodifikasi atau modified cassava flour (mocaf) dan menjual aneka penganan berbahan mocaf,” kata Yulita.

Peneliti mocaf di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat, Misgiyarta, S.P.,M.Si., mengatakan dimodifikasi maksudnya mengubah sifat alami singkong seperti struktur pati, warna tepung, dan cita rasa. Komponen pati singkong tersusun dari amilosa dan amilopektin. Struktur molekul amilopektin lebih rapat dan beruntai ganda sehingga bersifat sulit menyerap air dan susah mengembang. Karakter itu sulit berubah secara alami termasuk perendaman dengan air.

Aneka olahan berbahan mocaf.

Aneka olahan berbahan mocaf.

Solusinya mengandalkan panas tinggi, asam konsentrasi tinggi, dan enzim tertentu seperti (Bimo CF) bikinan Misgiyarta. Lita menggunakan Starter Bimo CF untuk memfermentasi singkong karena praktis. Fermentasi salah satu tahap penting memproduksi mocaf. Sebelumnya pekerja mengupas, mencuci, dan merajang singkong. Setelah itu petugas merendam irisan singkong dalam air berisi Starter Bimo CF selama 12 jam.

Kemudian bilas bersih dan tiriskan irisan singkong itu. “Saya menggunakan alat pres agar air cepat keluar,” kata warga Desa Salorindah, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, itu. Kemudian Lita menempatkan irisan singkong dalam para-para dan menjemurnya 2—3 hari. Irisan singkong siap giling jika mudah patah saat ditekuk. Lalu Lita mengayak tepung itu menggunakan mesh 80 dan mengemas tepung mocaf dalam kemasan berbobot 250 g—500 g. Penggunaan enzim seperti Starter Bimo CF menghasilkan asam organik yang mampu memodifikasi pati singkong.

Mocaf dicari pasar dalam dan luar negeri.

Mocaf dicari pasar dalam dan luar negeri.

Hasilnya tepung mocaf mudah mengembang serta viskositas dan daya ikat air membaik. Penggunaan enzim mocaf itu pun ekonomis. Starter Bimo CF seharga Rp60.000 per kg yang dilarutkan dalam 1.000 liter air bisa merendam 1—1,5 ton irisan singkong. Menurut Misgiyarta tepung mocaf dengan Starter Bimo CF lebih putih, lebih beraroma, bertekstur halus, mengembang, viskositas meningkat, cita rasa pahit hilang, dan lebih tahan simpan.

Baca juga:  Kontes Terbesar di Dunia

Misgiyarta mengatakan, tahapan pembuatan mocaf dengan enzim itu membuat irisan singkong gampang patah, dan berongga. Selain itu mikrob dalam starter memproduksi asam dan enzim yang membuka struktur matrik jaringan (seperti jaring ikan) singkong pengikat pati sehingga asam biru atau HCN mudah larut. Pemanfaatan starter juga meningkatkan kualitas cita rasa dengan cara menghasilkan cita rasa baru atau menekan cita rasa yang tidak disukai. “Keunggulan mocaf dibandingkan terigu yaitu tidak mengandung gluten, berserat tinggi, dan berkalsium tinggi,” kata Misgiyarta.

Produsen menyebar

Menurut Lita penganan berbahan mocaf lebih renyah dibandingkan dengan produk sejenis yang terbuat dari terigu. Lazimnya produsen menambahkan bahan perenyah untuk camilan berbahan terigu. Laba Lita Rp8 juta—Rp13 juta per bulan itu hasil penjualan 300—400 kg tepung dan ratusan bungkus aneka penganan mocaf. Untuk memproduksi sekilogram mocaf memerlukan 5 kg singkong kupas.

Kebun singkong yang memadai menjamin keberlangsungan produksi mocaf.

Kebun singkong yang memadai menjamin keberlangsungan produksi mocaf.

Konsumen tepung mocaf Lita antara lain ibu rumah tangga dan pengusaha kue. Perkembangan mocaf di Merauke relatif bagus. Buktinya pada 2016 Lita hanya menjual 10—20 kg tepung mocaf saban bulan. Kini ia melego 300—400 kg mocaf setiap bulan. Untuk bahan baku, Lita menggunakan singkong lokal berumur 9 bulan. Jadi belum ada jenis singkong spesifik untuk mocaf. “Yang penting singkong berwarna putih serta tidak beracun dan berkayu,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Musamus Merauke, Papua, itu.

Selain menjual tepung mocaf, Yulita juga membuat penganan berbahan mocaf. Sejak awal 2017 ia memproduksi belasan camilan berbahan mocaf seperti keripik tahu, keripik maestro (perpaduan singkong dan gabus), sagon, dan rempeyek. Yang disebut pertama berbahan dasar 100% mocaf, sedangkan dua produk terakhir berisi 70—80% mocaf. Lita tertarik memproduksi mocaf karena Merauke dicanangkan sebagai lumbung pangan nasional.

Singkong manggu varietas rekomendasi nasional untuk produksi mocaf.

Singkong manggu varietas rekomendasi nasional untuk produksi mocaf.

Berbicara pangan tidak melulu padi. Ada komoditas lain yang bisa dikembangkan dan sesuai lahan di Merauke seperti singkong yang mesti mendapatkan sentuhan teknologi. Alasan lainnya yaitu kebutuhan tepung di Merauke sangat tinggi. Sayangnya saat itu belum tersedia tepung lokal berbahan komoditas daerah setempat. Ia juga meyakini mocaf lebih menyehatkan daripada terigu karena tidak mengandung gluten sehingga aman untuk penderita autis dan diabetes.

Suyoso tertarik memproduksi mocaf sejak 2016 karena mengikuti program pemerintah terkait ketahanan pangan.

Suyoso tertarik memproduksi mocaf sejak 2016 karena mengikuti program pemerintah terkait ketahanan pangan.

Kehadiran dan meluasnya pasar mocaf di Papua bukti produk turunan singkong itu tersebar hampir di semua pulau besar di Indonesia. Pada 2005 saat mocaf kali pertama ditemukan, mayoritas produsen tepung singkong termodifikasi itu berasal dari Pulau Jawa. Kini ada juga produsen mocaf dari luar Pulau Jawa seperti Lita. Nun di Kecamatan Batulicin, Kabupaten Tanahbumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, Slamet Haryono, menangguk omzet Rp186 juta dari hasil perniagaan 30 ton mocaf seharga Rp6.200/kg setiap bulan. Setelah dikurangi ongkos produksi Rp4.800/kg maka produsen mocaf sejak 2016 itu menuai laba Rp42 juta.

Baca juga:  Asam Urat Pun Tamat

Produksi mocaf di tempat Slamet relatif lancar lantaran ketersediaan bahan baku cukup memadai. Harap mafhum ia memiliki kebun singkong pribadi 30 ha dan lahan petani plasma 372 ha. Beberapa tahun lagi Provinsi Gorontalo juga memproduksi mocaf. Musababnya produsen mocaf asal Malang, Jawa Timur, Yusep, mengebunkan singkong di lahan 80 ha untuk diolah menjadi varian produk termasuk mocaf pada awal 2018.

Pasar berkembang

Rekening tabungan Agung Triatmoko yang mulai memproduksi mocaf sejak 2015 pun bertambah sekitar Rp20 juta per bulan ketika kemarau. Ia bekerja sama dengan petani di berbagai daerah di Jawa Timur untuk memproduksi mocaf. Agung mengutip laba Rp200 per kg dari hasil penjualan 100 ton mocaf ketika kemarau. Nun di Bekasi, Jawa Barat, Suyoso juga mendapatkan omzet Rp92 juta dari hasil penjualan 8 ton mocaf seharga Rp11.500 per kg setiap bulan.

Yulita Sirken, S.T.P dan suami meraih untung dari penjualan mocaf dan olahannya di Merauke, Papua.

Yulita Sirken, S.T.P dan suami meraih untung dari penjualan mocaf dan olahannya di Merauke, Papua.

“Ongkos produksi lumayan tinggi lebih dari Rp5.000 per kg,” kata pengelola CV Agro Nirmala Sejahtera, itu. Jika Suyoso mengutip laba minimal Rp1.000 per kg maka ia mendapatkan profit Rp8 juta per bulan. Lebih lanjut ia mengatakan pasar mocaf masih bagus dan bakal berkembang pada masa depan. Lita dan Slamet pun sepakat dengan Suyoso. Buktinya permintaan yang datang ke Lita mencapai 600—800 kg mocaf per bulan.

Padahal kapasitas produksi perempuan kelahiran Merauke itu hanya 300—400 kg mocaf per bulan. Tidak hanya Lita yang kewalahan menerima permintaan. Slamet pun belum sanggup memenuhi permintaan konsumen. Padahal Slamet memproduksi 30 ton mocaf per bulan. Agung juga belum bisa menyediakan mocaf sesuai pesanan yang mencapai 1.000 ton per bulan. Jumlah itu 10 kali lipat lebih tinggi ketimbang kapasitas produksi saat kemarau yakni 100 ton mocaf per bulan.

Di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ujang, pun tidak mampu memenuhi permintaan konsumen. Kapasitas produksi milik Ujang hanya 600 kg mocaf per bulan, sedangkan permintaan yang datang hingga 700 kg saban bulan. Sementara Suyoso berencana menambah kapasitas produksi menjadi 3 ton per pekan, semula hanya 2 ton mocaf per pekan. Tidak hanya pasar dalam negeri yang kesengsem mocaf.

Ujang produsen mocaf sejak 2009 meyakini pasar mocaf makin berkembang karena semakin banyak masyarakat mengetahui keunggulan mocaf.

Ujang produsen mocaf sejak 2009 meyakini pasar mocaf makin berkembang karena semakin banyak masyarakat mengetahui keunggulan mocaf.

Permintaan mocaf dari mancanegara pun tak kalah banyak. Suyoso mengirimkan 100 kg mocaf ke Australia pada Februari 2018. Syaratnya Suyoso mengantongi sertifikat bebas gluten dari laboratorium di Negeri Kanguru itu. Produsen mocaf di Padangpariaman, Sumatera Barat, Antonius, belum berhasil memenuhi permintaan Uni Emirat Arab yang meminta pasokan 1.000 ton mocaf per bulan selama 10 bulan.

Konsumen Antonius di Amerika Serikat pun siap menerima mocaf dari Sumatera Barat berapa pun jumlahnya jika memiliki sertifikat organik. Agung kerap menerima permintaan 2 ton mocaf setiap hari untuk mengisi pasar Brunei Darussalam, India, dan Bangladesh. Itu membuktikan pasar mocaf terus tumbuh seiring dengan kesadaran masyarakat akan pangan sehat. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan, Muhamad Fajar Ramadhan, dan Rizky Sandra Pratiwi)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *