Misteri Cahaya Kunang-Kunang

Misteri Cahaya Kunang-Kunang 1

Kunang-kunang serangga bercahaya yang semakin langka.

Kunang-kunang serangga bercahaya yang semakin langka. (Koleksi Akiharu Hashimoto)

Apni Tristia Umiarti dan Made Sukana mesti melewati jalan desa yang gelap menuju rumah sepulang kerja. Pada suatu malam pengelola tur kunang-kunang di Bali itu berhenti di jalan dekat persawahan. Mereka takjub melihat kelap-kelip di persawahan. Itulah kunang-kunang, serangga kecil bercahaya pada malam hari. “Kami terdiam dan hanya menikmati indahnya cahaya kunang-kunang,” kata Apni.

Selain sperma, kunang-kunang jantan juga memberikan paket berisi protein kepada betina.

Selain sperma, kunang-kunang jantan juga memberikan paket berisi protein kepada betina.

Terakhir kali mereka melihat satwa nokturnal itu puluhan tahun silam ketika masa kecil. Mereka menikmati eloknya pendar cahaya di tubuh serangga malam itu. Pendar cahaya nan elok itu berasal dari kunang-kunang jantan dewasa—jenis tertentu betina juga bercahaya. Mereka memamerkan cahaya demi mencari pasangan. Menurut ahli kunang-kunang di Massachusetts, Amerika Serikat, Prof. Sara Margery Lewis, Ph.D., fokus pejantan dewasa cuma untuk seks.

Tujuannya menurunkan gen kepada generasi luciole—sebutan kunang-kunang di Perancis—berikutnya. “Jadi sebetulnya pertunjukan cahaya pada malam hari itu merupakan tembang cinta bisu kunang-kunang pejantan,” kata guru besar di Departemen Biologi, Tufts University, Massachusetts, Amerika Serikat, itu. Para pejantan beterbangan mengedipkan cahayanya, sedangkan betina menunggu di atas rumput atau tanaman lain.

Sara menuturkan kunang-kunang betina sangat pemilih. Mereka akan menyorotkan lenteranya jika melihat pejantan yang menarik dan memendar. Pejantan pun menghampiri si betina. Jika betina masih tertarik dengan pejantan itu, ia akan kembali berpendar. Seterusnya begitu. “Makhluk itu mengungkapkan cinta dalam bahasa cahaya,” kata alumnus bidang Zoologi, Duke University, North Carolina, Amerika Serikat, itu.

Prof. Sara Margery Lewis, Ph.D., dari Tufts University, Massachusetts, Amerika Serikat, meneliti kunang-kunang sejak 1994. (Koleksi Sara Margery Lewis)

Prof. Sara Margery Lewis, Ph.D., dari Tufts University, Massachusetts, Amerika Serikat, meneliti kunang-kunang sejak 1994. (Koleksi Sara Margery Lewis)

Menurut Sara betina dewasa memilih pejantan yang menghasilkan pendaran lebih lama. Jika jantan dan betina merasa cocok, mereka pun kawin sepanjang malam. Ternyata pejantan tidak hanya memberikan sperma saat kawin, tapi juga “seserahan” berupa paket penuh nutrisi. Hadiah pernikahan itu sangat berharga karena berisi protein yang digunakan glimworm—sebutan kunang-kunang di Belanda—betina untuk membekali telur.

Dengan begitu betina bisa menghasilkan lebih banyak telur dan akhirnya memproduksi keturunan yang lebih banyak untuk generasi berikutnya. Jadi betina mengincar “bingkisan” itu saat memilih jodoh. Betina memanfaatkan sinyal pendar pejantan untuk memprediksi pejantan yang bisa memberi hadiah terbanyak. Sara menuturkan kunang-kunang terbentuk oleh dua daya evolusi kuat yaitu seleksi alam (perjuangan kelangsungan hidup) dan seleksi seksual (perjuangan untuk bereproduksi).

Menurut Sara kunang-kunang ada sejak 150 juta tahun lalu sezaman dengan dinosaurus. Saat itu kunang-kunang terbang pada siang hari dan tidak bercahaya. Pejantan menggunakan antena panjang di kepala untuk mengendus aroma tertentu yang dihasilkan betina. Kini kunang-kunang mengandalkan pendaran untuk menemukan jodoh. Penggunaan cahaya pun tergantung jenis kunang-kunang.

Ada kunang-kunang yang betinanya saja yang bercahaya. Setiap malam betina itu bertengger berjam-jam untuk menarik perhatian pejantan terbang yang tidak bercahaya. Pada kunang-kunang lain, jantan dan betina mengandalkan pendaran cepat dan terang untuk saling mengenal. Sejatinya tidak hanya kunang-kunang dewasa yang bercahaya. Kunang-kunang salah satu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna.

Kunang-kunang di Bali dapat ditemukan di persawahan.

Kunang-kunang di Bali dapat ditemukan di persawahan.

Sebagian besar hidupnya (antara beberapa bulan hingga 2 tahun) sebagai larva yang juga bercahaya. “Setiap larva kunang-kunang menyala, meskipun dewasanya tidak bercahaya untuk jenis tertentu,” kata Sara. Fungsi cahaya menghindari diri dari serangan predator. Aktivitas larva kunang-kunang hanya makan serta tumbuh dan bekembang. Larva itu memangsa hewan bertubuh lunak seperti cacing, siput, dan serangga berukuran kecil lainnya.

Baca juga:  Sentra Tanaman Taman

“Penemuan terbaru kami tentang kunang-kunang meliputi masa pendekatan dan kehidupan seks mereka, pengkhianatan, dan pembunuhan,” kata ahli biologi evolusi itu. Kehidupan serangga kerabat kumbang herkules Dynastes hercules itu tidak melulu tentang keindahan dan cahaya. Ada jenis kunang-kunang betina dari genus Photuris yang memakan sesama jenis alias kanibal.

Peneliti menyebut hewan itu femme fatales (betina penakluk). Betina ganas itu bersosok besar, aktif, dan bergerak cepat. Mereka menirukan cahaya betina dari genus lain dan memangsa pejantan yang mendekat. Photuris menjadi kanibal bukan karena cinta, tapi racun. Kunang-kunang dewasa tidak dimangsa seperti pada masa larva karena memiliki racun (lucibufagins) yang menjadi penolak burung atau pemangsa lain.

Photuris tidak bisa menghasilkan racun itu sehingga harus membunuh spesies kunang-kunang lain. Selain untuk melindungi diri sendiri, telur Photuris juga terhindar dari predator. Peneliti kunang-kunang dari Texas, Amerika Serikat, Ben Pfeiffer, mengatakan, kunang-kunang terdiri atas lima subfamili utama. Kelimanya adalah Photinini, Photurinae, Luciolinae, Ototetrinae, dan Lampyris.

Kunang-kunang menggunakan cahaya sebagai alat komunikasi dan mencari pasangan.

Kunang-kunang menggunakan cahaya sebagai alat komunikasi dan mencari pasangan.

Berdasarkan data spesimen milik Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia mempunyai lebih dari 10 genus kunang-kunang seperti Pteroptyx, Atyphella, Diaphanes, Vesta, dan Luciola. Menurut ahli kumbang dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, LIPI, Raden Pramesa Narakusumo, kunang-kunang adalah serangga berordo kumbang (Coleoptera) dan termasuk famili Lampyridae.

Cirinya memiliki sepasang sayap depan yang mengeras (elytra) dan menutupi sepasang sayap belakang. Perbedaan kunang-kunang dengan kumbang lainnya, memiliki pronotum, segmen keras penutup kepala. Pramesa menuturkan ciri khas kunang-kunang yaitu sekitar 3 bagian perut (abdomen) terakhir menghasilkan cahaya. “Proses itu disebut bioluminesens,” kata pria kelahiran Bekasi, Jawa Barat, itu (Lihat ilustrasi: Hasilkan Cahaya Sendiri).

Ilustrasi: Bahrudin

Ilustrasi: Bahrudin

Menurut Sara terdapat lebih dari 2.000 jenis kunang-kunang di seluruh dunia. Satwa anggota famili Lampyridae itu tersebar mulai dari Tierra del Fuego, Argentina, pada 55° lintang selatan hingga Swedia pada 55° lintang utara. Keragaman jenis kunang-kunang tertinggi terdapat di negara tropis Asia dan Amerika selatan. “Di Brasil terdapat lebih dari 350 jenis kunang-kunang,” kata peneliti kunang-kunang sejak 1994 itu.

Polusi cahaya menurunkan populasi kunang-kunang.

Polusi cahaya menurunkan populasi kunang-kunang.

Kunang-kunang yang Apni dan Made temukan di Bali kemungkinan berasal dari genus-genus itu. Sepengamatan Apni dan Made jumlah lampyridae—sebutan kunang-kunang di Italia—yang mereka temukan tidak sama. Kadang banyak, kadang sedikit. Hasil penelitian Anik Wijayanti dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Institut Pertanian Bogor (IPB), mengungkapkan kemunculan kunang-kunang dipengaruhi suhu, kelembapan, dan presipitasi.

Baca juga:  Terkesan Koi Indonesia

Riset yang berlokasi di kawasan Situgunung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu menunjukkan suhu optimum kemunculan kunang-kunang yaitu 17,5—19,5°C dan kelembapan 93—95%. Menurut Anik penurunan suhu udara, kejadian presipitasi, dan kelembapan yang semakin tinggi menghambat pergerakan sayap satwa kerabat kumbang sawit Elaeidobius kamerunicus itu. Dampaknya kemunculan kunang-kunang sedikit.

Penelitian pada 2015 itu juga menyimpulkan karakteristik wilayah mempengaruhi jenis, penyebaran, dan kemunculan kunang-kunang. Anik menemukan enam spesies firefly—sebutan kunang-kunang di Inggris—dari 3 famili di lokasi penelitian. Menurut Pramesa itu bukti terjadi sesuatu pada ekosistem. Bahkan ia pernah mendengar ada penelitian yang hanya memperoleh satu jenis kunang-kunang di berbagai tempat di Jawa Barat.

Kunang-kunang yang ditemui Apni Tristia Umiarti dan Made Sukana di Bali.

Kunang-kunang yang ditemui Apni Tristia Umiarti dan Made Sukana di Bali.

Faktanya sejak 1882 Indonesia memiliki lebih dari 10 genus satwa kerabat kumbang antena panjang Sybra binotata itu. Menurut Pramesa menurunnya populasi kunang-kunang karena polusi cahaya. Kondisi lingkungan yang penuh cahaya buatan seperti lampu mengganggu pendaran hewan itu. Padahal cahaya vital sebagai alat komunikasi dan mencari pasangan.

“Penelitian 3 tahun di Brasil menyebutlkan populasi kunang-kunang berkurang karena polusi cahaya,” kata ayah 1 anak itu. Bisa jadi keragaman jenis juga berkurang seiring anjloknya populasi kunang-kunang. Sara menambahkan turunnya populasi kunang-kunang karena kehilangan habitat. Hutan, ekosistem mangrove, dan padang rumput beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan, lahan perikanan, dan tempat bercocok tanam.

Alih fungsi lahan itu terjadi di seluruh dunia. Penggunaan pestisida melebihi dosis pun membahayakan kunang-kunang. Selain mematikan organisme pengganggu tanaman, aktivitas itu menghilangkan organisme baik di lahan pertanian seperti cacing. Padahal, cacing tanah makanan favorit larva kunang-kunang. Jika populasi cacing tanah berkurang, populasi larva kunang-kunang pun berangsur turun.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Raden Pramesa Narakusumo.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Raden Pramesa Narakusumo.

Bisa jadi pestisida berlebihan itu meracuni tanah yang akhirnya membinasakan larva kunang-kunang. Yang paling mengejutkan ada pasar komersial lightning bug. “Percaya atau tidak sejak 1960—medio 1990 terdapat satu perusahaan di Amerika Serikat yang “memanen” 3-juta kunang-kunang liar setiap tahun,” kata Sara yang menulis buku kunang-kunang berjudul Silent Sparks: The Wondrous World of Fireflies itu.

Perusahaan itu mengekstrak enzim luciferase dan menjualnya untuk tes keamanan pangan dan penelitian. Bahkan pada musim panas 2014 ada oknum yang mengumpulkan 40.000 kunang-kunang liar di Utah, Amerika Serikat. Di daratan Tiongkok pun berlangsung praktik serupa. Taman hiburan di Tiongkok menyajikan atraksi menangkap dan melepas serangga itu. Namun populasi kunang-kunang tidak bertahan lama. Menurut Sara kunang-kunang bukanlah sumber daya yang tidak pernah habis.

Perlu ada peraturan yang melarang penangkapan kunang-kunang di alam. Selain itu perlindungan habitat hotaru—sebutan kunang-kunang di Jepang—perlu disegerakan. Sara menuturkan masyarakat dapat mengundang kunang-kunang kembali ke halaman dengan beberapa cara seperti membiarkan rumput di halaman tumbuh lebih lama. Tujuannya agar kelembapan tanah meningkat.

Kunang-kunang menyenangi habitat berkelembapan tinggi.

Kunang-kunang menyenangi habitat berkelembapan tinggi.

Biarkan sampah daun dan kayu menumpuk di salah satu sudut halaman sebagai habitat larva kunang-kunang. Hewan kerabat cacing bercahaya eropa biasa Lampyris noctiluca itu memerlukan tempat lembap untuk bertelur, jadi bikinlah aliran sungai atau kolam di halaman rumah. Kunang-kunang sangat sensitif dengan polusi cahaya. Oleh karena itu gunakan lampu berdaya rendah di luar rumah sesuai kebutuhan. Matikan lampu itu jika tidak digunakan.

Koleksi spesimen kunang-kunang milik LIPI.

Koleksi spesimen kunang-kunang milik LIPI.

Bila perlu pasang pengatur waktu dan sensor gerak pada lampu. Cara selanjutnya yaitu hindari menggunakan pestisida berbahan malathion dan diazinon. Pilihlah cara berkebun organik atau minim penggunaan bahan kimia. Harapannya semua cara itu mengundang kunang-kunang sehingga cahayanya makin terang. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x